Bini Orang Minta di Nakalin

Bini orang minta di nakalin, mungkin doi kurang puas sama suaminya yang terlalu lembut mintanya di lecehkan ini bini berhijab…

SALOME Satu Lobang Rame-Rame Part 03

Part 03

Sambil menelentang di atas bed, Ida bertanya, “Kamu beneran baru sekali ini merasakan bersetubuh dengan perempuan ?”

“Betul Bu, ” sahut Aldo sambil merayap ke atas perut Ida. Sambil meletakkan moncong kontolnya sembarangan. Padahal ia sengaja ingin tampak bodoh dalam masalah seksual.

Lalu Aldo mendorong batang kemaluannya, tapi meleset ke bawah. Aldo memang sengaja melakukan “kesalahan” itu, agar ia tampak masih belum punya jam terbang sama sekali.

Padahal Aldo sudah punya pengalaman. Dan semuanya itu masih segar di dalam ingatannya.

Lalu ia sengaja mempelesetkan lagi arah moncong kontolnya. Sehingga Ida turun tangan. Dan maklum bahwa Aldo belum punya pengalaman. Maka dipeganginya leher penis Ado, sambil mengarahkan moncongnya ke arah yang tepat. Kemudian barulah Ida memberi isyarat agar Aldo mendorong penis ngacengnya.

Kali ini pernis yang sedang ereksi itu membenam langsung ke dalam liang sanggama Ida. Yang membuat Ida meringis dan merengek, “Aaaahhhh … disekaliin gitu … sampai mentok di dasar liang memekku Do … “

“Iya, maaf Bu … ” sahut Aldo sambil menahan tawanya. Lalu ia mulai mengayun batang kemaluannya. Tapi baru tiga kali dorong tarik, penis Aldo terlepas dari liang memek Ida. Itu pun sebenarnya disengaja. Saking inginnya kelihatan masih awam dalam masalah hubungan seksual.

“Nariknya jangan kejauhan dong … ayo masukin lagio Do … ” ucap Ida yang mencoba untuk tetap bersabar. Karena percaya bahwa Aldo belum pernah menyetubuhi perempuan sebelum saat itu.

Lalu Aldo benamkan lagi kontolnya tanpa harus dibantu oleh guru pembimbingnya. Kali ini Aldo mulai serius. Tidak pura – pura awam lagi. Kontol panjang gedenya mulai benar – benar mengentot liang memek Ida. Bahkan kali ini Aldo ingin memperlihatkan keperkasaannya yang melebihi keperkasaan papanya.

Ida pun mulai merintih – rintih dalam nikmatnya gesekan penis Aldo dengan dinding liang sanggamanya.

Read more

SALOME Satu Lobang Rame-Rame Part 02

Ketika jemari Anton mulai merambah ke celah kewanitaan Ida yang masih basah itu (karena sudah mencapai orgasme di dalam jeep Anton tadi), Anton senang sekali. Karena basahnya liang sanggama Ida itu berarti bisa langsung melakukan penetrasi.

Dan Anton lakukan itu. Batang zakarnya yang sudah ngaceng kembali itu pun diselundupkan ke dalam liang kemaluan Ida, tanpa kesulitan.

Ida pun menyambutnya. Dengan rengkuhan dan pelukannya. Dan bahkan memagut bibir Anton ke dalam lumatan hangatnya.

Read more

Istri Nakal Threesome

Akhirnya istri menyerah setelah di rayu threesome juga jebol lubang anusnya uhhh merintih keenakan..

SALOME Satu Lobang Rame-Rame Part 01

Ida masih ingat benar dari awalnya sekali. Saat itu Ida sengaja memasang iklan dalam sebuah surat kabar. Bahwa Ida menawarkan jasa untuk menjadi guru privat anak SD, SMP dan SMA. Dalam iklan tersebut Ida hanya mencantumkan nomor handphone, tidak mencantumkan alamat lengkap.
Hanya 2 -3 jam setelah iklan Ida dimuat oleh surat kabar itu, handphone Ida berdering.
“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu ?” sambut Ida di dekat hapenya.
Terdengar suara lelaki dari ujung sana, “Ini dengan Bu Ida ?”
“Betul Pak, “ sahut Ida sengaja menyebut Pak, karena lelaki itu pun memanggilnya Ibu.
“Tadi aku baca iklan Ibu. Kebetulan aku punya anak yang sudah duduk di SMA kelas tiga. Tahun lalu ujiannya tidak lulus. Jadi sekarang dia mengulang di bangku kelas tiga SMA. Padahal usianya sudah delapanbelas tahun. Bisakah Ibu menjadi guru privatnya ?”
“Bisa. Silakan SMSkan aja alamat Bapak. Nanti aku akan datang ke rumah Bapak. “
“Aku tinggal di kota kecil, di dekat perbatasan antara Jabar dengan Jateng. “
“Waaaah … aku di Bandung Pak. “
“Justru aku lebih suka kalau guru privatnya dari Bandung. Soal imbalannya dijamin memuaskan. Ibu juga bisa tinggal di rumahku secara gratis. “
“Tapi aku ngajar di sebuah bimbel di Bandung Pak. Tugas itu tidak bisa ditinggalkan. “
“Maaf, Ibu punya penghasilan berapa di bimbel itu ?”
“Mmm … lumayanlah Pak. Cukup untuk membiayai kebutuhan sehari – hariku. “
“Baiklah. Mungkin Ibu keberatan untuk menyebutkan jumlah penghasilan di bimbel itu. Begini saja, Ida bersedia membayar Ibu tiga kali lipat dari penghasilan sebagai guru bimbel. Untuk biaya transportasi dari Bandung sampai kotaku, hari ini juga akan kutransfer. Bagaimana ?”

Read more

Klub Tukar Istri (Final)

Fendi – Sabtu pukul 10:40

Fendi mengendarai mobilnya melalui jalan tol puncak yang tidak terlalu ramai. Mona tertidur lelap di sebelahnya karena sibuk menyelesaikan semua tugasnya sebagai ibu rumah tangga sebelum mereka bisa berlibur singkat di villa milik pak Hassan. Anaknya sudah ia titipkan ke adiknya dan semua baju sudah ia cuci. Hari itu ia memakai dress selutut yang bisa dibilang cukup mini. Meskipun sebenarya ia lumayan enggan, namun atas permintaan Fendi, ia hanya bisa menurut. Fendi memastikan ia bisa melihat mobil Yosua yang melaju dengan cepat di depannya. Ia masih bisa melihat mobil Robert di belakangnya. Ia bahkan bisa melihat Linda yang duduk di sebelahnya. Dari kejauhan pun, ia bisa melihat payudara indah yang ia miliki. Tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca spion dan jalan, nafsunya mulai kembali membangun dan menggebu-gebu. Perlahan, batangnya pun mulai mengeras dan menjembul jelas di balik celana jeansnya. Mobil-mobil mereka pun berderetan akibat lampu merah sebelum mengambil jalan tanjakan menuju puncak.

Mona terbagun akibat rem Fendi yang lumayan mendadak.
“Emmmh, udah mau sampai sayang?” Mona mendesah ngantuk.
“Baru mau masuk jalan puncak, honey..”
“Kamu kenapa?”
“Maksudnya?” Fendi bertaya bingung.
“Adek kamu kenapa? Kok berdiri gitu?”
“Kedinginan kayaknya.”
“Kedinginan?! Aneh-aneh aja!”
“Mungkin perlu yang anget-anget kali?”
Fendi melirik Mona centil dan Mona mendengus malu. “Ih, apa-apaan sih?!”
“Ayolah, aku kangen nih.”
“Kangen? Lah emang dua belas jam lalu kita ngapain?”
“Udah kangen….” Fendi memelas dan memandangi Mona yang perlahan-lahan pasrah.
“Tapi aku malu mas…”
“Tenang aja, jendela kita gelap kok.”
“Uhhhh…” Mona males-malesan menunduk dan mulai membuka resleting celana Fendi. Dalam beberapa gerakan, lidahnya sudah mulai menjilati kepala penis Fendi yang berwarna ungu gelap.
“OOOOOH…OHHHH….EMMMMH…..”
“emmmmh….udah banyak precumnya sayang? Yakin nih kedinginan?”
“Emmmmh….enak banget….oooohhh…jilatan kamu Mona…emmmmhh….”

Mona memasukkan semua batang keperjakaan Fendi ke dalam mulutnya dan mulau memajukan kepalanya ke depan dan ke belakang. Suara gesekan lidahnya dengan penis Fendi mengisi keheningan di mobil mereka. Fendi menelengkan kepalanya ke belakang, tidak sanggup menahan sensasi nikmat yang ia rasakan. Matanya merem melek dan giginya sudah mengigit bibir bawahnya dengan penuh nafsu. Lampu tiba-tiba merubah warnanya, dan ia mulai kembali menginjak gas. Mona melepaskan kulumannya sesaat, menyebabkan Fendi sedikit jengkel.
“Kok dilepas sayang?”
“Udah mau jalan kan?”
“Ya lanjut aja dong….nanggung nih…”
“Nanti…nanti kalau kamu tabrakan gimana?!”
“Enggak lah…ayo dong..please??”
Mona juga tidak dapat menahan nafsunya yang sudah lumayan tinggi. Ia bisa merasakan precum Fendi yang gurih-gurih nikmat bersatu dengan air liurnya. Monapun kembali memasukkan penis Fendi ke dalam mulutnya dan melanjutkan kegiatan blow-jobnya dengan senang hati. Lidahnya ia plintir-plintir dan sesekali batang itu ia gigit pelan dan gemas. Fendi melanjutkan perjalanan mereka dengan sama sekali tidak fokus. Setidaknya ia juga sama sekali tidak bosan.

Read more

Dian, Ketika Semuanya Berubah Malam Itu

dian

Namaku Dian 26 tahun, aku baru menikah 1 tahun yang lalu dengan mas Gino. Kami baru pindah ke rumah ini sekitar 2 minggu yang lalu, dengan rumah sebesar ini memang cukup merepotkan untuk membersihkan dan merawatnya sendiri karena kami belum sempat mencari pembantu. Aku dan suamiku belum ada niat untuk mempunyai anak, karena dia memiliki perhitungannya sendiri kapan saat yang tepat untuk menghamiliku. Oleh karena itu bila kami bersetubuh dia selalu menggunakan kondom ataupun aku yang meminum obat anti hamil.

Malam itu aku terbangun oleh suara gaduh yang datang dari halaman belakang, ku lihat suamiku masih berada di sisiku tertidur dengan pulasnya tidak menyadari suara tersebut. Aku penasaran, namun karena tidak enak membangunkan suamiku maka aku putuskan untuk mencari tahu sendiri. Ku bangkit dari ranjangku dan segera keluar dari kamar. Aku coba berjalan melewati lorong dari kamarku menuju tangga, menuruninya dan berjalan melewati ruang televisi yang bersebelahan dengan halaman belakang. Suasana menjadi sangat sepi sekarang, ditambah kegelapan yang menyelimuti karena hampir seluruh lampu rumah yang sengaja dimatikan. Aku menjadi sedikit takut, mungkin lebih baik aku kembali dan membangunkan suamiku, namun akhirnya ku beranikan diri untuk tetap mengeceknya sendiri.

Read more