SALOME Satu Lobang Rame-Rame Part 01

Ida masih ingat benar dari awalnya sekali. Saat itu Ida sengaja memasang iklan dalam sebuah surat kabar. Bahwa Ida menawarkan jasa untuk menjadi guru privat anak SD, SMP dan SMA. Dalam iklan tersebut Ida hanya mencantumkan nomor handphone, tidak mencantumkan alamat lengkap.
Hanya 2 -3 jam setelah iklan Ida dimuat oleh surat kabar itu, handphone Ida berdering.
“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu ?” sambut Ida di dekat hapenya.
Terdengar suara lelaki dari ujung sana, “Ini dengan Bu Ida ?”
“Betul Pak, “ sahut Ida sengaja menyebut Pak, karena lelaki itu pun memanggilnya Ibu.
“Tadi aku baca iklan Ibu. Kebetulan aku punya anak yang sudah duduk di SMA kelas tiga. Tahun lalu ujiannya tidak lulus. Jadi sekarang dia mengulang di bangku kelas tiga SMA. Padahal usianya sudah delapanbelas tahun. Bisakah Ibu menjadi guru privatnya ?”
“Bisa. Silakan SMSkan aja alamat Bapak. Nanti aku akan datang ke rumah Bapak. “
“Aku tinggal di kota kecil, di dekat perbatasan antara Jabar dengan Jateng. “
“Waaaah … aku di Bandung Pak. “
“Justru aku lebih suka kalau guru privatnya dari Bandung. Soal imbalannya dijamin memuaskan. Ibu juga bisa tinggal di rumahku secara gratis. “
“Tapi aku ngajar di sebuah bimbel di Bandung Pak. Tugas itu tidak bisa ditinggalkan. “
“Maaf, Ibu punya penghasilan berapa di bimbel itu ?”
“Mmm … lumayanlah Pak. Cukup untuk membiayai kebutuhan sehari – hariku. “
“Baiklah. Mungkin Ibu keberatan untuk menyebutkan jumlah penghasilan di bimbel itu. Begini saja, Ida bersedia membayar Ibu tiga kali lipat dari penghasilan sebagai guru bimbel. Untuk biaya transportasi dari Bandung sampai kotaku, hari ini juga akan kutransfer. Bagaimana ?”


Ida tercenung sejenak. Pikirnya, lelaki yang menelepon itu pasti orang kaya. Dengan seenaknya saja dia berjanji akan membayarku tiga kali lipat dari penghasilanku sebagai guru bimbel. Kalau Ida mengaku penghasilannya sepuluh juta sebulan, bukankah dia akan membayar tigapuluh juta sebulan ? Gaji manager di pabrik – pabrik saja tidak sebesar itu. Lagian bukankah Ida bisa tinggal intern di rumah lelaki yang kemudian mengaku bernama Antono itu dan tak usah tinggal di rumah kontrakan lagi ?
Lalu, kenapa Ida tidak memanfaatkan kesempatan ini ? Bukankah kesempatan baik takkan datang dua kali ?
Akhirnya Ida setujui permintaan Antono itu. Ida setujui juga bahwa ia akan naik kereta api dan akan dijemput oleh Antono di stasiun Banjar.

Tiga hari kemudian Ida berangkat dengan kereta api menuju Banjar, dengan menggunakan kereta api Bandung Surabaya, sesuai dengan saran dari Antono, supaya lebih cepat tiba di Banjar. Tentu saja tarifnya lebih mahal daripada kereta api lain. Tapi Antono sudah mentransfer uang ke rekening tabungannya, dalam jumlah yang lumayan banyak.  Jam sepuluh pagi pun Ida sudah tiba di stasiun Banjar. Sebelumnya Ida sudah menelepon ke Pak Antono bahwa Ida sudah berangkat dari Bandung dengan mengenakan gaun putih dan membawa koper berwarna biru langit. Setelah Ida keluar dari pintu kedatangan stasiun Banjar, seorang lelaki muda menghampiriku, “Maaf, Bu Ida ?” tanyanya.
“Betul. Pak Antono ?” Ida balik bertanya.
“Iya, “ lelaki itu mengangguk sambil menjabat tangan Ida, membuat Ida degdegan. Karena lelaki barnama Antono itu … ganteng sekali … !
“Sini kubawain kopernya, “ dia mendekatkan tangannya ke koper yang sedang Ida seret.
“Nggak usah Pak. Nggak berat kok, “ sahut Ida. Menolak tawaran Antono karena gak enak hati kalau dia membawakan koper pakaiannya.
Lalu Ida dipersilakan masuk ke dalam jeep yang Ida tahu harganya mahal sekali, karena made in USA.
Pada waktu jeep itu mulai bergerak, Pak Antono berkata, “Kotaku masih lumayan jauh dari sini. Letaknya dekat pantai. Jadi kalau Bu Ida sedang santai bisa jalan – jalan ke pantai, sambil menikmati indahnya ombak laut selatan. “
“Panggil Ida aja Pak, gak usah pakai ibu – ibuan. “
“Boleh, “ Antono mengangguk, “Tapi jangan manggil Pak juga padaku. Mungkin lebih enak kalau manggil Mas Anton. Dan aku akan memanggil nama panjenengan. “
Ida tersenyum sambil mengerlingkan mata ketika ia sedang memperhatikan Anton di belakang setirnya.
“Tadinya kusangka Ida ini sudah tua. Ya sekitar empatpuluh tahunan gitu. Gak taunya masih muda. Paling juga usianya baru duapuluh tahun ya. “
“Umurku sudah duapuluhlima tahun Pak … eh … Mas. “
“Hmmm … berarti persis sepuluh tahun lebih muda dari aku. “
“Mas Anton juga kelihatan jauh lebih muda dari usia sebenarnya. “
“Masa sih ?! ”
“Betul. Ohya … anak Mas Anton itu cowok apa cewek Mas ?”
“Cowok. Umurnya sudah delapanbalas tahun tapi masih di SMA juga. Sementara teman – teman sebayanya sudah pada kuliah. Makanya aku butuh guru privat agar dia tak ketinggalan sama teman – temannya. Kalau ibunya masih ada sih, mungkin dia takkan ketinggalan oleh teman – teman seangkatannya yang sekarang rata – rata sudah kuliah. Di SD pernah tidak naik kelas. Di SMP juga pernah tidak naik. Sekarang di SMA tidak lulus ujiannya. “
“Memang ibunya ke mana Mas ?”
“Sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu. “
“Oh, maaf. Aku ikut berduka Mas. “
“Terima kasih. Almarhumah istriku itu sangat berambisi untuk menyekolahkan anak kami di luar negeri kelak. Makanya kalau dia masih ada, pasti anak kami digembleng terus di rumah. “
“Anak Mas Anton berapa orang ?”
“Cuma satu orang. Ya Aldo itu. “
“Owh … nama anaknya Aldo ya Mas. “
“Iya. Lengkapnya Aldo Danielo. “
“Bagus namanya. Mirip nama Italia. “
“Almarhumah ibunya memang orang Italia. “
“Owh … “
“Aku kan suka mengekspor kayu parkit ke Eropa. Pada suatu saat aku sengaja keliling Eropa, dalam rangka mempromosikan bisnis kayuku. Ketemu deh sama cewek Itali yang lalu menjadi istriku itu. Tapi ketika Aldo masih kecil, kanker telah merenggut nyawanya … “
“Kayu parkit itu apa Mas ?” tanya Ida, berusaha untuk menghindari pembicaraan tentang istri Mas Anton, agar tidak memancing kedukaannya.
“Kayu yang sudah dipotong – potong dan dioven. Untuk dinding atau lantai. Itu yang namanya kayu parkit. “
Perjalanan dari stasiun menuju rumah Anton itu membutuhkan waktu lebih dari sejam.
Akhirnya mereka tiba juga di depan sebuah rumah besar yang bentuknya seperti rumah – rumah di zaman kolonial Belanda dahulu.
“Rumahnya antik sekali Mas, “ kata Ida sebelum turun dari jeep Anton.
“Ya … rumah ini dibangun lebih dari seratus tahun yang lalu. Tapi masih sangat kokoh, jauh lebih kuat daripada rumah – rumah zaman sekarang, “ sahut Anton sambil turun dari mobil, melangkah cepat ke samping kiriku dan membuka pintu di sebelah kiriku, sekaligus memegang tanganku untuk turun dari mobilnya yang cukup tinggi itu.
Dua orang wanita setengah baya muncul dari pintu depan, bergegas menghampiri Anton.
“Bawain koper Bu Ida itu ke dalam kamar yang paling depan, “ kata Anton pada kedua wanita setengah baya itu. Kemudian Anton memegang pergelangan tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumahnya yang serba antik itu.

Di ruang tamu yang furniturenya serba kayu jati berukir, Anton mempersilakan Ida duduk di salah satu kursi kayu jati berukir itu sambil berkata, “Sebenarnya rumah utamIda ada di Jakarta. Tapi Ida lebih sering berada di rumah ini, karena untuk mengawasi orang – orang yang bekerja di lahan dan di pabrik pengolahan kayu. “
“Sekarang Aldonya mana Mas ?” tanya Ida.
“Masih di sekolah. Mungkin setengah jam lagi juga pulang. “
“Yang tinggal di sini siapa aja ?”
“Hanya Aldo dan dua orang pembantu yang barusan bawain koper ke kamar untuk Mbak Ida nanti. Ada juga dua orang satpam yang hanya bertugas untuk jaga malam. Kedua satpam itu biasanya datang selepas magrib. Pulangnya selepas subuh. “
Tak lama kemudian salah seorang pembantu muncul dan berlutut di dekat kursi Anton sambil berkata, “Makan siangnya sudah disiapkan Den. “
Anton mengangguk. Lalu menoleh pada Ida, “Mari kita makan siang dulu. “
“Jadi ngerepotin ya Mas. “
“Ngerepotin apa ? Yang bekerja kan pembantuku. Ayo, jangan malu – malu. Anggap aja di rumah sendiri. “
Ida pun bangkit dari kursi, mengikuti langkah Anton ke ruang makan.
Di ruang makan pun furniturenya terbuat dari jati ukir semua. Kaki meja makannya seperti ular naga yang ekornya berada di lantai sementara kepalanya penyangga daun meja. Kursi – kursinya pun diukir semua. Dan Ida tak bisa menghitung lagi, entah berapa ratus juta yang Anton keluarkan untuk furniture yang serba jati dan serba ukir ini.
Makanan yang dihidangkan pun tergolong mahal untuk ukuran Ida yang jauh dari pantai. Yang dihidangkan adalah masakan seafood.semua. Ada goreng cumi – cumi dan udang, ada gulai kakap merah, rebus kepiting dan beberapa macam kerang. Menurut Anton, mungkin makanan yang dihidangkan itu biasa – biasa saja, karena selain duitnya banyak, rumahnya pun dekat ke pantai. Menurut keterangan Anton, rumah zaman kolonial ini hanya ratusan meter jaraknya dari pantai.

Setelah selesai makan, Anton mengajak Ida duduk di ruang tamu, sambil menunggu anaknya yang belum pulang.
Ida mencoba untuk bersikap sesupel mungkin, karena Anton itu akan menjadi sumber mata pencaharianku. Tapi kalau melihat dari sikapnya, Ida merasa bahwa Anton itu punya pandangan “khusus” padIda. Karena dilihat dari tatapan dan senyumnya, seperti mengandung makna bagiku.
Tak lama kemudian anak Anton yang bernama Aldo itu datang.
Ida terpana melihat anak muda berusia 18 tahun itu, yang tubuhnya sudah setinggi orang dewasa. Kulitnya benar – benar putih, seperti bule 100%, bukan cuma Indo Italia.
“Aldo, sini dulu, “ Anton memanggil anak muda itu.
Aldo menengok lalu menghampiri ayahnya.
“Cium tangan dulu … ini Bu Ida, guru privatmu yang akan selalu membimbingmu nanti, “ kata Anton kepada anaknya.
Aldo memandangku dengan sorot “jinak”, lalu mencium tanganku.
“Badannya tinggi sekali … sudah menyaingi papamu ya, “ sambut Ida sambil mengelus rambut Aldo yang pirang.
Aldo menatapku sambil tersenyum. Kemudian meninggalkan ruang tamu setelah berkata akan ganti baju dulu.
“Kelihatannya Aldo itu anak baik ya Mas, “ ucap Ida setelah Aldo meninggalkan ruang tamu.
“Iya, “ Anton mengangguk, “Dia anak penurut kok. Cuma semangat belajarnya itu yang harus dipupuk sejak dini. “
“Tingginya berapa Mas ?”
“Dia sudah melebihi tinggiku. Sekarang tinggi badannya sudah seratusdelapanpuluhsatu, sementara tinggiku hanya seratustujuhpuluhlima. “
“Mungkin ibunya tinggi ya Mas, “ kata Ida.
“Iya, tinggi ibunya seratusdelapanpuluh, “ sahut Anton.
Begitulah. Ida mulai tinggal di rumah Anton, menempati kamar yang paling depan, yang berdampingan dengan ruang tamu. Kamar yang ditata secara apik dan klasik. Tempat tidur, lemari – lemari, sofa, meja tulis berikut kursinya, semua berbentuk klasik. Semua diukir secara halus, seperti ukiran – ukiran tempo dulu.
Meski udara pantai itu panas, namun di setiap ruangan yang ada di dalam rumah antik ini dipasangi AC semua, sehingga Ida tidak merasa kegerahan. Tapi Ida berusaha untuk beradaptasi dengan udara panas ini. AC di kamarnya sengaja dimatikan, lalu jendela dibuka sedikit, agar tidak pengap.
Jam belajar Aldo Ida tentukan saja dari jam 19.00 sampai jam 22.00. Terkecuali kalau ada pelajaran tambahan, bisa saja waktunya ditambah.

Dengan patuhnya Aldo mengikuti peraturan dari Ida. Bahkan dia kelihatan selalu bersemangat untuk belajar di bawah bimbingan Ida. Kalau ada yang belum mengerti, dia selalu bertanya pada Ida, tanpa sungkan – sungkan lagi. Karena Ida memang sudah mengarahkan agar dia jangan segan – segan untuk bertanya jika memang belum mengerti. Hari demi hari pun berputar dengan cepatnya. Tanpa terasa bulan berganti bulan sudah berlalu. Sehingga masa ujian Aldo sudah di semakin dekat. Dan Ida yakin bahwa Aldo akan lulus ujian kelak.
Sementara itu Ida merasa nyaman tinggal di rumah Anton. Tugasnya untuk membimbing Aldo dijalani saja tanpa merasa berat. Bahkan Ida merasa hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan tinggal di rumah Anton, terasa nyaman sekali. Betapa tidak. Ida mendapat tempat tinggal gratis. Makan gratis. Bahkan pakaian kotor pun dicuci dan disetrika oleh pembantu.
Tugas Ida hanya mengajar Anton. Enak sekali Ida rasakan.
Gaji yang dijanjikan oleh Anton nyaris tak pernah dipakai. Menumpuk di rekening tabungannya. Anton tak pernah membayar gajinya dengan uang cash, selalu mentransfernya ke rekening tabungan Ida.
Kalau Ida membutuhkan sesuatu, kebutuhan wanita misalnya, Ida gunakan uang cash yang diterimanya dari Anton. Uang yang Anton sebut disebut sebagai “bonus”. Tidak ada sangkut pautnya dengan gaji.
Yang sering terpikirkan oleh Ida adalah sikap dan perilaku Anton itu. Karena tatapan dan senyumannya itu sering terasa sebagai godaan yang sulit dihindari.
Mau tidak mau hati Ida mulai tergoda juga. Tapi ia senantiasa bersikap formal kepada lelaki 35 tahunan itu. Karena ia tahu bahwa ia berada di rumah itu sebagai pembimbing Aldo, dengan bayaran yang cukup besar pula.
Karena itu dia menganggap sikap dan perilaku Anton itu sekadar kebiasaannya, sekaligus usahanya agar Ida kerasan tinggal di rumahnya.

Sampai pada suatu malam … ketika Ida masih asyik dengan laptopnya, tiba – tiba pintu kamar Ida dibuka dari luar, karena pintu itu belum kukunci.
“Belum tidur ?” tanya yang membuka pintu itu, yang tak lain dari Anton.
“Belum Mas, “ sahut Ida sambil berdiri dengan sikap sopan.
“Sekarang bulan sedang purnama. Bagaimana kalau kita nikmati keindahan pantai di bulan purnama ?”
“Sekarang ? Udah malem gini Mas ?” Ida tampak ragu.
“Kalau menikmati indahnya bulan purnama di pantai, tentu aja harus malam. Ayo … hitung – hitung refreshing aja. “
“Iya Mas, “ sahut Ida sambil meraih mantel tebalnya dari kapstok, kemudian mengenakannya. Dan mengikuti langkah Anton menuju depan garasi, di mana jeep Anton baru dihidupkan mesinnya.
Anton membuka pintu depan kiri jeepnya. Lalu membantu Ida naik ke dalam jeep yang cukup tinggi bagi Ida.
Beberapa saat kemudian, jeep amrik itu sudah bergerak meninggalkan pekarangan rumah Anton. Menuju pantai yang jaraknya sangat dekat dari rumah itu.
Setibanya di daerah pantai, Anton menghadapkan jeepnya ke arah laut. Mesin dan ACnya tetap dihidupkan, tapi semua lampu dimatikan.
Memang indah suasana pantai di bawah sinar rembulan yang sedang tampil bulat itu.
“Bagaimana ? Sangat indah suasananya kan ?” tanya Anton sambil memegang tangan kanan Ida yang masih sama – sama duduk di dalam jeep itu.
“Iya Mas … romantis sekali … “ sahut Ida keceplosan. Mungkin seharusnya ia tidak menyebutkan kata “romantis” itu, kata Ida di dalam hatinya.
Tangan kanan Ida yang sedang dipegang oleh Anton, lalu diremas oleh lelaki muda itu. “Ida merasa gak kalau aku punya perasaan istimewa sama Ida?” tanya Anton.
“Mmm … perasaan istimewa gimana Mas ?” Ida balik bertanya.
“Awalnya aku punya perasaan kagum padamu. Lalu berkembang menjadi perasaan suka. “
“Kalau Mas tau siapa aku, pasti perasaan itu hilang dengan sendirinya. “
“Kenapa ? Memangnya Ida ini siapa ?”
“Aku sudah janda Mas. “
Hmmm, pikir Ida, aku terpaksa mengaku sebagai janda. Karena takut dia terlalu serius, lalu menginginkanku sebagai calon istrinya, lalu ketahuan bahwa aku ini tidak perawan lagi. Lalu aku akan menemui kesulitan … !
Tapi Anton bahkan berkata lembut,“Kebetulan dong kalau gitu. “
“Kok kebetulan Mas ?! “
“Kalau Ida masih perawan, aku malah serba ragu melakukan apa pun padamu.Tapi kalau sudah jadi janda, aku bisa leluasa memperlihatkan perasaan sayangku padamu Da. “
Ida tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ida sadar bahwa sejak pertemuan pertama pun ia sudah punya perasaan simpati terhadap lelaki 35 tahunan itu. Karena lelaki bernama Anton itu ganteng sekali di mata Ida.
Tapi, ketika Anton melingkarkan lengannya di leher Ida, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Ida, secara halus Ida menepiskannya. Bukan karena Ida tidak suka dicium oleh lelaki itu. Tapi Ida takut. Takut tidak kuasa mengendalikan dirinya. Karena setiap kali merasakan ciuman, pasti Ida ingin mendapatkan yang lebih jauh lagi … !
“Kita turun yuk, “ ajak Anton sambil mematikan mesin jeepnya.
“Hihihiii … ke pantai dengan cuma pakai daster gini, “ sahut Ida sambil membuka pintu di sebelah kirinya.
“Gakpapa. Udah malem gini. Gak ada orang kecuali kita berdua. Kan aku juga cumamengenakan baju dan celana piyama, “ sahut Anton sambil bergegas turun dan menuju ke dekat pintu kiri depan, untuk membantu Ida turun dari jeep itu. Tapi kali ini berbeda dengan biasanya. Ketika Ida mau turun, Anton menyambutnya dengan pelukan erat, sambil mengangkat tubuh Ida … dan berputar – putar di atas pasir pantai. Lalu berhenti dan menurunkan Ida dengan bibir yang sudah merapat ke bibir Ida.
Inilah yang paling Ida hindari. Karena kalau bibirnya sudah dilumat oleh lelaki, Ida tak bisa lagi menguasai dirinya. Karena pada dasarnya hasrat birahi Ida sangat mudah dibangkitkan. Ya … pada dasarnya Ida itu gede nafsunya. Dan manakala salah satu bagian sensitifnya tersentuh, pasti batin Ida menuntut pelampiasan sampai tuntas … !
Lalu … di bawah sinar bulan purnama, diiringi debur – debur ombak pantai selatan, Ida terhanyut dalam saling lumat bibir dan saling peluk dengan eratnya.
Kemudian mereka melangkah semakin mendekati air laut yang berhempasan.
Tiada manusia seorang pun di sekitar mereka. Dan Ida tidak lagi menghindar ketika Anton mendekapnya dari belakang.

Anton merasa Ida sudah jatuh ke tangannya. Karena itu Anton tak hanya mendekap Ida dari belakang. Tangan kanannya sudah menyelinap ke balik daster putih Ida, karena mantel tebalnya tidak dikancingkan.
Jantung Ida pun mulai berdegup kencang ketika dirasakannya tangan Anton sudah menyelinap ke selangkangannya. Bahkan sudah mulai menyelinap ke balik celana dalamnya.
Anton tidak tahu bahwa saat itu Ida berharap agar Anton tidak berhenti sampai di situ. Karena hasrat birahi Ida sudah terpancing. Terlebih setelah Anton menggerayangi kemaluan Ida di balik celana dalamnya.
“Mas … “ hanya itu yang terlontar dari mulut Ida ketika jemari Anton sudah menyelinap ke dalam celah memeknya.
“Hmm ? “
“Ka … kalau dibeginiin, aku suka gak bisa nahan naf … nafsu … “
“Kita lakukan di sini aja ya …” ajak Anton.
“Takut ada orang lihat … “ sahut Ida nyaris tak terdengar.
“Di dalam mobil gimana ?”
“Di … di rumah aja Mas … biar bebas. “
Lalu Anton membuka pintu kiri depan mobilnya. Membantu Ida masuk ke dalamnya, lalu bergegas naik lewat pintu kanan depan dan menghidupkan mesin mobil, juga mengaktifkan ACnya. Tapi lampu – lampu tidak dinyalakan. Anton malah merebahkan kedua sandaran seat depan sampai menyambung dengan seat belakang.
“Tuh kan … di sini juga nyaman. Kan percuma kita ke pantai yang sedang bulan purnama kalau tidak kita manfaatkan dengan sesuatu yang indah … sesuatu yang romantis dan akan diingat sepanjang masa, “ kata Anton sambil mendorong dada Ida sampai celentang di atas seat yang sudah disatukan dan seolah tempat tidur itu.
“Tapi Mas … aku tak mau telanjang di dalam mobil ini, “ ucap Ida.
“Memang gak perlu telanjang. Celana dalam juga gak perlu dilepasin, “ kata Anton sambil menyingkapkan daster Ida, sementara mantelnya sudah terbuka sendiri setelah Ida celentang.
Keadaan remang – remang di bawah sinar bulan purnama itu tidak terlalu gelap. Tapi kaca jeep Anton gelap semua, sehingga dari luar takkan bisa melihat ke dalam. Namun meski remang – remang, Anton bisa menyeret celana dalam Ida ke sebelah kanan, lalu Ida sendiri yang memegang celana dalamnya, agar tetap terseret ke kanan. Sehingga Anton bisa melihat kemaluan Ida. Anton pun menurunkan celana piyamanya, sehingga batang kemaluannya tersembul. Kemudian dicolek – colekkannya moncong penis Anton ke celah memek Ida yang berbulu jarang itu. Cukup lama Anton mencolek – colekkan moncong penisnya ke celah memek Ida.
Sementara Ida hanya terdiam pasrah, dengan mata terpejam. Lalu Ida merasakan liang kemaluannya mulai diselusupi penis Anton. Membuat Ida memekik di dalam hatinya, oooooowww … penis Mas Anton ini … gede banget …. sampai terasa seret begini masuknya … padahal kemaluanku sudah basah … !
Ketika Anton sudah membenamkan penisnya, lalu menghimpit dada Ida, terdengar Ida berkata setengah berbisik, “Mas … nanti jangan habis manis sepah dibuang yaaaa … “
“Nggak lah. Ida akan mendapat tempat istimewa di hatiku. Besok juga akan ada sesuatu sebagai pertanda bahwa Ida mendapat tempat istimewa di hatiku, “ sahut Anton sambil mulai mengayun penisnya perlahan – lahan.
Ida melingkarkan lengannya di leher Anton. Sambil memejamkan matanya di kegelapan malam, karena bulan purnama lalu terhalang oleh awan, sehingga keadaan di dlam mobil itu menjadi gelap gulita.
Sementara Anton mulai benar – benar mengentot liang memek Ida yang Anton rasakan luar biasa nikmatnya.
Namun hanya belasan menit Ida bisa bertahan. Lalu ia mengelojot dan … Ida mencapai puncak orgasmenya … !
Anton pun menyadari hal itu. Ia membiarkan penisnya tertanam di dalam liang sanggama Ida sesaat. Kemudian mencabutnya sambil berkata, “Kita lanjutkan di rumah aja ya. “
“Iya Mas. Sekarang jadi gelap gulita begini. Takut ada yang melihat perbuatan kita. “
Beberapa saat kemudian jeep Anton bergerak meninggalkan pantai selatan dengan debur – debur ombak yang berdentum – dentum itu. Kembali ke rumahnya yang hanya berjarak ratusan meter dari pantai itu.
Hanya dalam hiutngan menit, jeep Anton sudah beada di depan pintu garasinya.
Lalu Anton menolong Ida turun dari jeep, kemudian mengajak Ida menuju kamar Anton.
Ini untuk pertama kalinya Ida memasuki kamar Anton. Dengan canggung Ida melepaskan mantel tebalnya, lalu duduk di kursi jati berbantalan empuk dan dilapisi kain beludru coklat muda dengan corak berwarna coklat tua.
Setelah menguncikan pintu kamarnya, Anton menghampiri Ida dengan senyum di bibir machonya.
“Di sana aja … biar lebih resmi, “ ucap Anton sambil menunjuk ke arah bad yang begitu lebar dengan seprai yang terbuat dari kain satin berwarna coklat muda.
Ida bangkit dan melangkah ke arah bed, dengan dekapan lengan kiri Anton di pingangnya.
Di atas bed itulah Ida duduk sambil melepaskan dasternya, sehingga tubuh putih mulusnya tinggal ditutupi oleh bra dan celana dalamnya.

Anton pun menanggalkan baju dan celana piyamanya, sehingga langsung jadi telanjang. Karena ternyata ia tak mengenakan celana dalam di balik celana piyamanya itu. Pada saat yang sama Ida pun menanggalkan bra dan celana dalamnya, membuat tubuh mulusnya tak tertutup apa – apa lagi. Sehinga Anton terlongong menyaksikan bentuk kemaluan Ida yang berjembut tapi jarang dan halus itu.
Begitu menggiurkan. Tentu saja. Karena Ida laksana pohon yang buahnya sedang ranum – ranumnya ………

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.