Kisah Eliza 5: Bertambahnya Kenangan Di Villaku

Show balet di malam hari jam 20:00 selama setengah jam yang menampilkan aku sebagai penari utama pada tanggal 31 Desember 2004 di ballroom sebuah hotel, mendapat sambutan yang meriah. Guru baletku begitu bangga padaku, ia memelukku bahagia. Aku pun demikian, seolah sudah lupa pada gangbang demi gangbang yang membuatku orgasme berkali kali sejak terenggutnya keperawananku pada 18 Desember kemarin. Juga tanggal 24 dimana aku bahkan harus datang ke sekolah di malam hari, menyerahkan tubuhku untuk menjadi budak pemuas nafsu dari mereka yang membantai aku seminggu setelah ulang tahunku yang ke 17 itu, yang nanti akan kuceritakan juga.

Bahkan tadi pagi aku masih harus melayani sopirku dan kedua pembantuku di kamarku sendiri. Mereka mulai menggilirku sepuas puasnya sejak jam 4 pagi sampai ketika kokoku pulang dari rumah temannya untuk makan siang sekitar jam 12, seolah tak rela nanti aku akan menginap di vila keluarga di tretes selama beberapa hari bersama keluargaku sepulang show balet ini. Mereka menggilirku dengan liar sekali, orgasme demi orgasme harus kulalui berkali kali sehingga betisku terasa begitu pegal, dan masih sangat terasa saat latihan final sore tadi.

Untung saja aku diantar kokoku ke tempat latihan balet, yang lalu meninggakan aku yang masih sangat lemas untuk menjemput ortu yang akan sampai di bandara Juanda sebentar lagi. Aku tak yakin apa aku masih bisa menyetir dengan rasa pegal ini. Namun segala macam capai sudah tak kurasakan lagi, kini aku sedang tersenyum bahagia, karena show ini begitu suksesnya, sampai sampai semua penonton termasuk di antaranya papa, mama dan kokoku, melakukan standing ovation (tepuk tangan sambil berdiri) saat kami menutup acara dengan membungkuk menghormat pada para tamu dan meninggalkan panggung ini.

“Eliza, kamu hebat sekali malam ini. Kamu memang ballerina yang berbakat baik sekali. Sukses ini semua berkat penampilanmu yang begitu indah. Terima kasih ya Eliza”, kata guru baletku yang memegang tanganku dengan mata berbinar binar, membuatku tersenyum malu sekaligus senang mendapat pujian setinggi langit ini.

“Cie Vira, teman teman juga hebat deh, semua hari ini luar biasa, jadi bukan cuma karena aku saja cie”, aku membantah, tapi teman temanku memelukku dengan senang, semua berkata senada kalau tadi itu aku begitu sempurna di atas panggung, dan memberiku selamat, yang hanya bisa kubalas dengan ucapan terima kasih dan tersenyum bahagia. Setelah Cie Elvira memberikan sambutan penutup show balet ini, kami diperbolehkan pulang, dan semua saling berpamitan gembira, tahun baru akan segera tiba.

Aku menghambur ke orang tuaku yang sudah menungguku dengan bangganya. Cie Elvira kulihat kembali ke bangku penonton, bergandeng tangan mesra dengan suaminya. Teman temanku juga sudah berkumpul dengan keluarga masing masing, ada yang memutuskan kembali ke bangku penonton untuk menikmati acara selanjutnya sampai jam 10 malam nanti seperti Cie Elvira dan suaminya, ada juga yang sepertiku yang langsung meninggalkan tempat ini.

Kini bersama dengan kedua ortuku dan kokoku kami menuju ke tretes, ke vila yang penuh kenangan masa kecilku dan juga kokoku. Tak pernah terbayang jika ternyata besok dan besok lusa vila itu akan menambahkan kenangan yang special buat diriku. “El, kamu masih ingat adiknya papa yang kerja di Jakarta?”, tanya papaku membuyarkan lamunanku.

Read more

Kisah Eliza 4: Di Rumah Seorang Teman

Sambil menunggu bel masuk sekolah siang, aku bercanda dengan Jenny, teman yang duduk sebangku denganku. Kami tertawa riang, menggosip dan kadang saling menggoda. Aku kenal dengan cewek cantik ini sejak awal masuk SMA, dan kami dengan cepat menjadi teman baik dan duduk sebangku. Sifatnya yang periang membuat aku yang awalnya agak pendiam, cocok sekali dengannya. Hari itu ia menggosip tentang adanya informasi, kami akan pulang cepat. “EL, kamu tahu nggak, nanti kita bakal pulang cepat nih!”, katanya dengan senyum bahagia. “Memangnya ada apa Jen”, tanyaku penasaran. Info yang dia dapat biasanya akurat nih, maka aku jadi senang. “Katanya guru guru akan rapat, jadi kita akan pulang pada jam istirahat pertama”, jawabnya dengan senyum yang lucu, membuatku tertawa. Jenny, anaknya cantik, tubuhnya yang sedikit lebih pendek dariku, yaitu 155 cm, terlihat sangat ideal dengan berat badannya yang cuma 41 kg. Sama seperti aku, ia chinese, berambut lurus, hitam dan panjang sampai ke punggung. Kulitnya putih sekali, sedikit lebih putih dariku. Kami berdua suka saling memuji kecantikan masing masing. Kalau menurutku, ia memang cantik sekali, bahkan kokoku yang pernah melihatnya main ke rumahku juga mengatakan ia cantik, padahal kokoku termasuk cerewet untuk ukuran cewek. Kembali ke topik, aku kini menunggu dengan penasaran, apakah memang kita kita bakalan pulang pagian. Aku sudah membayangkan, akan pergi ke Tunjungan Plaza, jalan jalan atau mencoba makanan baru di sana.

Benar saja, pada waktu bel berbunyi, seperti biasa kami berdoa dipimpin oleh salah satu guru, yang waktu selesai doa, mengumumkan kalo hari ini pelajaran berlangsung 30 menit per jam pelajaran, dan kami akan pulang pada jam istirahat pertama karena guru guru akan rapat. Artinya, 1 jam lagi dari sekarang, yaitu jam 14:00, kami bebas dari aktivitas sekolah. Jenny kuajak pergi ke Tunjungan Plaza, yang langsung saja diiyakan olehnya. Kami melewati 2 jam pelajaran ini dengan hati senang sehingga tak terasa sudah waktunya kami bersenang senang. Sempat terbersit di pikiranku, untung deh. Jam terakhir nanti, geografi. Guru yang mengajar adalah pak Edy, yang kemarin Sabtu dengan tak tahu malunya ikut andil waktu aku digangbang di UKS itu. Jadi teringat, dia cepat keluar, dan penisnya lembek. Mungkin dia akan segera impoten kali? “Hei El, siang siang ngelamun, awas kesambet lho!” seru Jenny sambil menepuk bahuku, membuat aku amat kaget dan dengan pura pura marah aku mengejar Jenny yang kabur menghindari cubitanku. Kami akhirnya masuk ke mobilku setelah Jenny menemui sopirnya dan menyuruh bapak itu langsung pulang. Dan kami segera berangkat menuju Tunjungan Plaza. Perjalanan itu lancar, sampai tiba tiba ketika di jalan Basuki Rahmat mobilku tersendat sendat. “Aduh.. kenapa ini ya? Masa mobil baru kok sudah mogokan?”, omelku dengan sebal. “Sabar El, coba kita minggir dulu deh. Itu kebetulan di sebelah kanan kita ada bengkel buat mobilmu lho”, hibur Jenny. Aku baru ingat, kebetulan di sebelah kanan ada Istana Mobil Surabaya Indah (IMSI), showroom sekaligus bengkel, tempat papaku membelikan mobil ini.

Dengan susah payah akhirnya aku berhasil memasukkan mobilku yang jalannya tersendat sendat ini ke dalam parkiran IMSI, dan mungkin karena agak lambat tadi sempat diiringi klakson dari mobil yang ada di belakang mobilku. Tak sabar amat sih, masa nggak bisa memaklumi mobil orang yang rusak, gerutuku dalam hati. Di dalam bengkel, aku melaporkan keluhan tentang mobilku. Yah, paling tidak mereka cukup tanggap, dan segera memeriksa mobilku. Ternyata ada spare part yang rusak, tapi mereka lagi kehabisan stok, dan mereka berjanji paling lambat besok siang mobilku sudah selesai diperbaiki, karena sekarang juga mereka pesan dari Jakarta. “Yah, Jen.. hari ini pulang naik taxi deh. Nggak apa apa kan? Aduh.. kalau tau bakal begini, tadi sopirmu nggak usah disuruh balik dulu ya” kataku pada Jenny yang menjawab dengan ide yang menyenangkan, “kalau gitu kamu nginap aja sekalian di rumahku El. Menghemat uang taxi, dan besok kan kamu bisa kuantarkan dulu ke sini”. Aku mengangguk senang. Aku memang sudah 3x menginap di rumah temanku ini untuk bikin tugas kelompok. Keluarganya ramah, ortunya baik denganku, juga adiknya Jenny. Jenny adalah anak tertua di keluarganya, dia punya seorang adik laki laki yang masih kecil, Denny namanya, masih umur 12 tahun. Soal baju, sama sekali tak masalah. Aku bisa pinjam bajunya Jenny, karena tubuh kami memang seukuran, mulai dari pinggul, pinggang sampai payudara kami seukuran semua. tinggi badan kami pun cuma selisih 2 cm. Setelah membereskan administrasi, aku dan Jenny nggak jadi ke Tunjungan Plaza, tapi kami langsung pulang menuju rumahnya dengan naik taxi.

Read more