Klub Tukar Istri Bagian 3 (Tiga)

Aroma jembut Ratih membuat nafsu Sinta semakin membara-bara. Ia mengemut-ngemut clitoris Ratih yang menjembul keluar dengan begitu semangat. Sembari melakukan itu, ia memasukkan tiga buah jari dan mengobel-ngobel memek Ratih dengan tidak kalah semangat. Cairan vagina ratih mengalir dengan deras diikuti dengan nafasnya yang sudah tersengal-sengal.

“Ahhhhh mbak Sinta…emmmh…aaaaahhhhhh…”
“Enak bengat mbak Ratih, aku ketagihan mbak…emmmmh…jilat punyaku mbak…”

Ratih mengangguk cepat dan mulai kembali sibuk menghisap-hisap memek sinta. Lidahnya ia sempilkan masuk ke dalam lubang kecil nan rapat itu dan dengan leluasanya diputar-putar dan ditekan-tekan. Tangan kanannya memainkan payudaranya yang lumayan besar. Putingnya sudah mancung dan sekeras mungkin. Sensasi nakal yang ia peroleh dari hubungan senggama penuh nafsu dengan Sinta begitu hebat membuatnya horny setengah mati. Tangannya yang lain mengelus-ngelus pantat Sinta yang mengkel dan halus menawan. Sesekali ia mengelus lubang anus Sinta dan menekan-nekan bagia luarnya dengan jari telunjuknya.

“Mbak…ahhh…jangan teken yang itu mbak…emmmh…”
“Kamu beneran gak mau…emmh..Sinta….hmmm?”
“Mbak jangan mbak…..emmmh…ooooh…”

Ratih tersenyum nakal dan menyelipkan jari telunjuknya masuk. Liang anusnya menjepit jari Ratih dengan begitu kencang dan rapat. Tubuh Sinta seketika juga bergetar hebat oleh sensasi baru.

“AHHHH…MBAK….AKU GAK KUAT MBAK…OOOH..”
“Masa sih mbak? emmmh…kok kayaknya kamu kesenengan ya? hmmm?”

Ia menekan masuk jari telunjuknya dan menekan masuk semakin cepat. Sinta mengerang hebat dan membenamkan kepalanya semakin jauh ke dalam selangkangan Ratih.

Maria melepaskan gigitannya dari puting Martha dan memandangi wajah wanita yang kelelahan itu. Ia menjilat habis bibirnya dan melumatnya penuh nafsu. Martha hanya bisa mengerang keenakan sambil tangannya semakin ganas memainkan memeknya sendiri.

“Mbak mau coba mainan baru aku enggak?”
“Emmmmg mainan baru apa mar? Aku mau dong…”
“Liat nih jeng, oke kan?”
Maria tersenyum nakal dan mengeluarkan sebuah dildo panjang dengan dua buah sisi.
“Aku mau dong mbak, kayaknya…emmmh…enak banget…”
Maria mulai merangkak turun dan bertualang ke selangkangan Martha. Dengan dildo panjang itu di tangan kanannya, ia mulai menjilati memek Martha yang sebenarnya sudah amat sangat basah itu. Martha hanya bisa menelengkan kepalanya keenakan. Ia melenguh keenakan bagai sapi. Maria mulai memasukkan kepala dildo yang satu perlahan-lahan ke dalam memek Martha yang sudah terbuka lebar.

“Kumasukki ya mbak…”
“Ahhhh…Maria…emmmh…enak banget…ahhhh.”
BLESSS!
“OOOHHH..emmmmhh…yang cepet maria..emmmmh….”
Maria menyodok-nyodok masuk dildo itu dnegan cepat dan Martha hanya bisa menggelinjang hebat. Payudaranya bergetar naik dan turun seiringan dengan irama masuk dildo itu dari tangan Martha.

“Ahhhh…emmmmmh….ooooh……mmmmmh…..cepet… .emmmmh….”
Maria mengehentikan gerakannya dan mulai memasukkan dildo itu ke memeknya sendiri. Mereka berdua sama-sama tidur terlentang dengan kedua pantat mereka bersentuhan dan sebuah dildo panjang menghubungkan memek mereka.

“Ahhhhhhh ahhhhhhh mbak martha, goyangin pinguul mbak dong…oooh…”
“Mmmmh mmmmh mmmmh ahhhhhhh….kamu juga dong mbak…emmmh….emmmh…”

Read more