Eliza Highschool Girl Series, Biaya Tambal Ban Yang Mahal

Bunyi bel pulang sekolah itu menyadarkanku dari lamunanku. Aku menoleh ke arah Jenny yang ternyata masih sedang memandangiku.

“Jen? Kamu kenapa?”, tanyaku heran.

Jenny tersenyum dan menjawab dengan berbisik, “Kamu cantik Eliza… memangnya nggak boleh kalau aku liatin kamu?”

“Jen, kamu ini nggak ada kerjaan ya? Aku mau pulang cepat, ada les”, aku tersenyum geli sambil meleletkan lidahku pada Jenny.

Kami saling berpamitan ketika aku sudah ada di depan mobilku. Aku duduk sebentar di dalam mobil untuk sekedar melepas lelah, apalagi liang vaginaku masih terasa ngilu sekali, seolah olah ada penis yang masih tertinggal di dalam situ.

Setelah aku merasa agak enakan, aku mulai menjalankan mobilku. Kebetulan malah, lalu lintas di jalan depan sekolahku sudah sepi, jadi aku bisa melajukan mobilku dengan bebas. Aku harus cepat sampai ke rumah untuk membersihkan liang vaginaku yang masih belepotan sperma ini. Terasa begitu lembab dan becek sekali.

“Aduh… kenapa nih”, aku mengeluh ketika di sebuah jalan yang cukup sepi, setir mobilku terasa berat sekali, dan sesaat kemudian aku segera meminggirkan mobilku.

Ketika aku turun, tentu saja setelah mengamankan dompetku di dalam laci mobil yang sudah aku kunci, aku melihat ban mobilku yang kanan depan sudah kempis sama sekali.

Ya ampun, mana aku masih lelah setelah harus melayani nafsu bejat pak Edy, Pandu dan Dedi waktu di sekolah tadi.

Dengan sedikit jengkel, aku bermaksud membuka bagasi mobilku untuk mengambil ban cadangan di dalam situ.

Tapi aku melihat sekitar 100 meter di belakang mobilku, ada sebuah gubuk yang ternyata merupakan kios tambal ban, oh untung juga. Aku segera memundurkan mobilku ke sana.

Setelah menemukan penjaganya, aku membuka bagasi mobilku dan meminta tolong pada bapak itu untuk mengganti ban mobilku.

Selagi menunggu bapak itu mengganti ban mobilku, aku teringat kalau sebentar lagi aku harusnya les bahasa Inggris di rumah pada Cie Stefanny. Maka aku masuk sebentar ke dalam mobil dan mengambil handphoneku yang ada di laci mobil untuk menelepon Cie Stefanny.

“Halo cie, ini aku, Eliza. Cie, aku bakal telat nih cie, ban mobilku bocor, dan ini lagi mengganti ban”, aku mengabarkan keadaanku sekarang.

Cie Stefanny menjawab, “Iya nggak apa apa Eliza, Cie Cie tunggu di rumahmu ya”.

“Iya Cie Cie langsung masuk ke kamar Eliza saja Cie, nyalakan saja AC di kamar Eliza”, kataku lagi

“Iya deh, ya udah sampai ketemu ya Eliza”, kata Cie Stefanny.

“Sampai ketemu Cie”, aku menutup pembicaraan ini dan memasukkan handphoneku ke dalam tasku di laci mobil.

Aku mengambil dompetku dari tas, dan setelah laci mobil itu kukunci, aku duduk di kursi kayu panjang yang ada di gubuk ini. Rasanya tak sopan kalau aku duduk di dalam mobil sambil menunggu ban mobilku selesai diganti.

Selama aku menunggu, ada beberapa pengendara becak maupun sepeda yang mampir ke tempat tukang tambal ban ini.

Aku melihat mereka meminjam pompa sepeda di sini dan memompa ban mereka sendiri, lalu mengembalikan pompa sepeda ke tempatnya dan memberikan beberapa keping uang logam, entah berapa nilainya, kepada bapak itu.

Beberapa dari mereka sempat melihat ke arahku, dan lagi lagi demi kesopanan, aku mencoba tersenyum pada mereka, walaupun risih rasanya dipandangi oleh mereka seperti itu, seakan akan mereka ingin melihat isi bajuku saja. Kadang mereka menanyakan hal hal tak penting, dan aku berusaha menjawab seperlunya saja.

Beberapa menit kemudian, tukang tambal ban itu sudah selesai mengganti ban mobilku, bahkan sudah memasukkan ban mobilku yang tadinya kempis itu ke dalam bagasi mobilku. Maka dengan senang aku berdiri, hendak membayar ongkos penggantian ban ini.

Tapi tiba tiba aku tercekat ketika melihat kedatangan seseorang yang menuntun sepeda motornya.

“Wah wah Eliza, rupanya tadi siang di sekolah itu kamu sampai segitu keenakannya ya sampai sampai menunggu aku di sini?”, tanya Dedi dengan nada yang sangat melecehkanku.

Aku makin tak mampu berkata apa apa mendengar perkataan Dedi yang begitu vulgar di depan orang orang ini.

Gawatnya kini beberapa orang tukang becak yang sedang antri untuk meminjam pompa ban itu, semuanya melihatku! Mereka melihatku dengan pandangan liar seolah pandangan dari para predator terhadap calon mangsa mereka.

Aku menguatkan diriku, lalu membentak Dedi, “Kurang ajar! Kamu mimpi ya? Memangnya siapa yang menunggu bajingan seperti kamu? Aku di sini sedang…”.

Belum selesai aku berkata, Dedi langsung memotong, “Bapak bapak, amoy ini tadi siang sempat main main dengan saya di sekolah. Kalau bapak bapak ingin tahu sampai dimana enaknya amoy ini, bapak bapak bisa mencobanya di dalam gubuk pak Jamil ini! Dan enaknya, kita tak perlu ribut pakai kondom! Memeknya amoy ini pasti bersih dan jaminan mutu. Dia ini sudah tidak perawan lagi. Pula perduli amat kalau amoy ini sampai hamil… hahaha…”

Aku tercekat sesaat mendengar kata kata Dedi, yang sekarang menunjukkan jari telunjuknya ke gubuk di belakangku. Bukan karena masalah hamil, karena aku tahu aku sudah aman setelah rutin mengkonsumsi pil anti hamil.

Aku juga aku tak perduli tentang perkataan Dedi tentang aku yang sudah tidak perawan lagi, karena selain memang kenyataannya begitu, bagiku meskipun mereka semua ini tahu aku sudah tidak perawan lagi, tak ada yang perlu kuperdulikan.

Tapi yang membuatku tegang adalah aku tahu kalau sebentar lagi aku pasti akan diperkosa ramai ramai.

Masih belum hilang rasa ngilu di liang vaginaku akibat digilir pak Edy, Dedi dan Pandu. Apakah aku harus bernasib seburuk ini, diperkosa berkali kali dalam satu hari?

Sesaat kemudian, di depanku sudah menghadang tiga orang tukang becak. Walaupun mereka bertiga tak terlalu besar, tapi apa dayaku menghadapi tiga orang laki laki? Sedangkan ketika aku melihat ke belakangku, juga sudah ada dua orang tukang becak dan… tukang tambal ban itu, pak Jamil!

Mereka berenam sudah menutup semua jalan keluar bagiku. Aku sudah terkepung, dan ketika aku melihat sekeliling berharap pertolongan dari orang lain yang melihat keadaanku ini, ternyata sekarang ini jalanan sedang sepi sekali.

“Tolong, jangan sakiti saya…”, aku masih mencoba untuk lepas dari keadaan ini, maka aku mencoba memohon dengan suara pelan, mungkin memelas.

Mereka semua tertawa tawa, dan aku tahu kalau itu adalah jawaban dari permohonanku tadi, dan aku hanya bisa pasrah ketka mereka terus menggiringku masuk ke dalam gubuk itu.

Kini setelah kami semua ada di dalam gubuk, di sela senyumnya yang bagiku senyuman yang mengerikan, pak Jamil berkata dengan nada yang tentu saja sangat melecehkanku, “Tenanglah non amoy yang cantik, pak Jamil dan teman teman ini bukan mau menyakiti non kok, asal non nurut sama kita kita. Malah nanti non yang minta minta tambah lho. Oh iya, ongkos ganti ban tadi gratis kok non, hahaha…”.

“Ded… tolonglah… aku masih ada les di rumah… nanti aku terlambat…”, aku mencoba memohon pada Dedi, selagi yang lain tertawa mendengar kata kata pak Jamil.

Tapi Dedi menjawab permohonanku dengan sinis, “Dasar anak orang kaya. Eliza! Tahu tidak kamu kalau di luar sana itu banyak orang yang mau sekolah saja tidak bisa karena tak punya uang. Tapi kamu? Sudah sekolah di sekolahan elit, masih les ini itu. Sudah kebanyakan uang ya?”

Aku tertegun mendengar ucapan Dedi yang bagiku terdengar sangat melantur ini.

“Sekarang saja, bapak bapak ini harus memuaskan kamu, tapi akibatnya mereka tidak bisa bekerja mencari nafkah. Pak Jamil saja sampai menggratiskan ongkos… apa tadi? Ganti ban? Kasihan kan? Begini saja Eliza. Kamu kan kebanyakan uang. Kamu bayar saja bapak bapak ini semua… yaa… lima puluh ribu per orang cukup lah, untuk memuaskan kamu siang ini”, sambung Dedi yang tersenyum menjijikan.

Aku amat marah mendengar ucapan Dedi yang ngawur sekali ini, dan dengan nada yang kesal sekali, aku membentaknya, “Ded, kamu gila ya? Memangnya aku apa yang minta semua ini? Mengapa kok aku yang malah harus mengeluarkan uang? Enak saja, lepaskan aku! Atau…”

Belum selesai aku berkata kata, Dedi sudah memotong ucapanku. “Eliza… mulai hari ini, kamu itu sudah jadi budakku. Jadi sebaiknya kamu menuruti semua kata kataku, mengerti?”

Aku masih akan membantah, tapi Dedi mengancamku dengan dingin, “Kalau kamu masih keras kepala, aku akan panggil semua teman temanku untuk ikut bermain dengan kamu sekarang ini”.

Aku langsung terdiam, lemas. Dan pernyataan Dedi tadi, bahwa mulai hari ini aku sudah jadi budaknya itu benar benar membuatku bergidik, karena itu berarti di hari hari berikutnya kelak, aku akan terus berurusan dengan bajingan ini.

“Bagaimana, Eliza?”, tantang Dedi.

Ini sudah keterlaluan. Aku yang akan diperkosa, tapi malah aku yang harus membayar para pemerkosaku seolah olah aku ini amoy yang sudah segitu ketagihannya untuk diperkosa ramai ramai. Tapi jika aku bersikeras membantah, aku tahu nasibku bisa lebih buruk lagi, diperkosa oleh semua orang yang mampir atau melewati jalan di depan gubuk ini sesuai dengan ancaman Dedi tadi.

“Tenang saja, aku tidak minta bayaran kok. Jadi semuanya cuma tiga ratus ribu rupiah. Uang kecil kan bagi anak orang kaya seperti kamu?”, kata Dedi lagi dengan sinisnya.

Aku rasa aku punya uang yang cukup di dalam dompetku untuk memenuhi permintaan Dedi sialan ini.

Maka demi keselamatanku, juga supaya aku bisa cepat pulang, aku mengalah.

“Iya Ded, aku bayar”, kataku dengan lemas.

Pak Jamil dan para tukang becak yang lain bersorak senang dan beberapa kali mereka semua berterima kasih pada Dedi.

“Terima kasih banyak mas Dedi… wah kalau begitu mau seharian bermain dengan non amoy ini juga tidak apa apa”, kata pak Jamil yang memandangku dengan pandangan matanya yang terasa menelanjangiku.

“Kalau dibayar gini, tak usah narik becak sehari juga tidak ada masalah. Non amoy, non pasti puas kok bermain dengan kita kita hahaha…”, kata salah seorang tukang becak itu dengan gembira sekali.

“Eh bapak bapak, jangan sampai seharian, nih amoy juga harus kembali ke rumahnya. Lagipula, kita main satu dua ronde saja, pasti sudah cukup untuk membuat amoy ini puas sekali”, kata Dedi sambil tertawa senang.

Entah aku harus lega atau bagaimana mendengar kata kata Dedi ini. Tapi paling tidak aku tahu ini bukan penculikan, karena nanti aku akan dilepaskan, walaupun aku tahu nanti itu keadaanku mungkin sudah hancur hancuran.

Dan Dedi menambahkan, “Kalian harus dengar lenguhannya, juga merasakan jepitan memeknya. Jangan jangan malah kalian yang minta tambah nanti hahaha…”

Menyadari situasi yang menimpaku sekarang ini, aku merasa ngeri. Enam orang laki laki dewasa, ditambah Dedi, semuanya tujuh orang. Aku harus melayani tujuh orang ini, setelah tadi di sekolah aku sudah cukup kelelahan setelah melayani nafsu bejat dari pak Edy, Dedi dan Pandu.

Entah bagaimana keadaanku nanti setelah mereka semua puas menikmati diriku?

“Eliza, kamu boleh pilih. Kamu buka bajumu sendiri, atau kami yang membukakan bajumu?”, tanya Dedi dengan suara yang bagiku terdengar mengerikan.

“A… aku… aku buka sendiri saja Ded”, kataku lemah.

Aku memilih melakukan ini daripada mereka merenggut baju seragamku ataupun bra dan celana dalamku hingga rusak, walaupun sebenarnya aku malu sekali. Aku menaruh dompetku di atas meja kayu di dekatku, lalu aku mulai dengan membuka tali sepatuku, dan setelah aku melepas sepatu dan kaus kakiku, aku mulai membuka sabuk yang melingkar di pinggang rok seragam sekolahku.

Tentu saja semua itu aku lakukan diiringi sorakan dari mereka yang terlihat jelas begitu menginginkan tubuhku.

Diam diam aku bergidik, selama ini aku belum pernah ‘bermain’ seks dengan tukang becak, dan sebentar lagi aku harus merasakan hal itu. Entah seperti apa gaya permainan seks mereka, apakah mereka mau bersikap lembut atau mereka akan seenaknya memperkosaku dengan kasar?

Setelah aku meletakkan sabukku di meja kayu itu, aku mulai membuka rok seragam sekolahku yang juga kutaruh di meja itu. Dan mereka makin ribut bersorak dan berkomentar setelah melihat pahaku yang putih mulus.

“Wow paha non amoy ini, putih dan mulus sekali, mimpi apa kita semalam ya? hahaha…”, kata salah seorang dari mereka.

Aku hanya diam dan meneruskan proses penelanjangan pada diriku sendiri ini. Dengan sedikit gemetar aku mulai membuka kancing baju seragamku satu per satu dan menaruh baju seragamku di atas meja kayu itu. Kini di tubuhku tinggal melekat bra dan celana dalamku yang dua duanya berwarna putih. Lagi lagi kudengar sorakan dan siulan yang amat melecehkanku.

Tiba tiba Dedi maju mendekatiku, dan sesaat kemudian… ‘breet…!! breet…!!’, bra dan celana dalamku direnggut oleh Dedi dengan kasar hingga robek dan tak akan bisa kupakai lagi.

“Aduh…”, keluhku pelan.

Rasanya sedikit sakit ketika kulit tubuhku tertekan dan tergesek tali bra dan bagian samping celana dalamku yang direnggut paksa tadi. Dan Dedi yang kurang ajar itu dengan seenaknya membuang bra dan celana dalamku yang mahal itu ke pojok ruangan.

“Sialan kamu Ded! Pakaian dalamku ini mahal tau!”, aku membentak Dedi dengan sangat marah, ingin rasanya aku berteriak kesal, atau menamparnya sekuat tenagaku.

“Tadi kan aku sudah berkata kalau aku akan membuka semua pakaianku sendiri? Mengapa kamu masih saja merobek bra dan celana dalamku?”, aku mengomel dengan kesal sekali, karena aku tidak merasa tadi itu aku berlama lama membuka baju seragamku, semua kulakukan dengan wajar saja.

Tapi aku agak takut juga ketika melihat Dedi mendekatiku.

Berikutnya, Dedi memelukku dan berbisik, “Eliza, Sabtu ini, sejak pagi di sekolah sampai malamnya waktu di UKS nanti, kamu tak usah memakai bra dan celana dalam ya…”.

“Oh…”, aku mengeluh panik.

Aku memang sebenarnya sudah tahu kalau jatuhnya diriku ke tangan Dedi dan Pandu tadi siang di ruang wali kelasku yang bejat itu adalah awal dari rangkaian malapetaka yang kelak akan menimpa diriku di sekolah.

Sejak siang tadi, aku ini seolah sudah menandatangani ‘kontrak’ nasibku secara tak tertulis, bahwa aku ini sudah menjadi budak Dedi dan Pandu, yang harus siap untuk melayani mereka apapun permintaan mereka. Aku kembali mengutuki nasibku yang begitu buruk ini.

Dengan menyeringai menyeramkan, Dedi meneruskan bisikannya, “Sabtu pagi nanti, aku ingin melihat puting susu kamu tampak samar samar dari balik baju seragam sekolah kamu. Pasti kamu sexy sekali, Eliza. Malamnya terserah kamu mau pakai baju seperti apa, pokoknya bajumu harus sexy dan ketat”.

Aku benar benar terkejut dan menatap Dedi dengan panik.

Seolah terror itu belum cukup, Dedi menambahkan, “Dan juga siapa itu… Jenny? Kalau Sabtu malam nanti dia ikut, katakan padanya kalau dia juga tak usah memakai bra dan celana dalam, karena kalau aku melihat kalian memakai semua itu, akan aku robek semuanya seperti sekarang, dan kalian berdua akan mendapat hukuman berat! Mengerti?”

Diingatkan masalah ini, aku hanya bisa memalingkan kepalaku membelakangi Dedi dengan lemas. Perlahan aku mengangguk pasrah, dan kemudian kudengar Dedi tertawa senang penuh kemenangan, melihat diriku sudah takluk tanpa daya di hadapannya.

“Ada apa mas Dedi?”, tanya pak Jamil yang kelihatannya penasaran dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Dedi padaku, hingga mampu membuatku yang tadinya sempat marah, kini hanya pasrah dan menurut pada Dedi.

Aku tercekat dan menahan nafas, berharap semoga Dedi tidak sengawur itu untuk memberitahu mereka tentang rencana perkosaan terhadap diriku di UKS pada hari Sabtu nanti.

“Oh, bukan apa apa pak Jamil. Saya bilang kalau Eliza bisa memuaskan kita semua, saya akan belikan pakaian dalam baru yang lebih mahal dari pakaian dalamnya yang tadi saya robek”, kata Dedi.

Mereka semua tertawa. Diam diam aku merasa sedikit lega. Paling tidak, calon pemerkosaku di hari Sabtu nanti tak bertambah banyak.

“Hahaha, baik… kalau begitu, lanjut!” kata Dedi sambil meremas payudaraku satu kali.

Remasan pada payudaraku ini seolah merupakan tanda bagi mereka untuk memulai gangbang ini. Mereka bertujuh melucuti pakaian mereka sendiri, lalu mulai mengerumuniku.

Kini aku yang sudah telanjang bulat ini, digiring ke pembaringan yang beralas tikar itu.

Kulihat Dedi, dengan santai tiduran di pojok pembaringan, punggungnya diganjal bantal, dan kepalanya bersandar pada dinding gubuk ini. Kedua kakinya membuka lebar membentuk huruf V. Aku cukup ngeri melihat penis Dedi yang perlahan mulai berdiri, mengingat penis itu tadi siang cukup mampu untuk membuatku menderita dihantam badai orgasme.

Lalu dengan gaya seperti memerintahkan seorang budak, ia mengarahkan jari telunjuknya padaku, dan dua kali dia menunjukkan jari itu ke arah perutnya.

Aku terpaksa naik ke atas pembaringan itu dan mendekati Dedi dengan sedikit bingung, apa yang kira kira diinginkan teman sekolahku yang kurang ajar ini. Ketika aku sudah berada dalam jangkauannya, Dedi memegang kedua lenganku dan membalikkan tubuhku hingga aku membelakanginya, lalu ia membaringkan tubuhku, hingga kepalaku tersandar di atas perutnya.

Kurasakan penis Dedi yang hangat itu menempel di punggungku, dan penis itu terus berdenyut. Lalu kedua tanganku ditaruh Dedi di samping kakinya. Kedua pahaku sendiri kurapatkan, karena aku sudah malas mendengar sorakan ataupun siulan mereka yang bernada kurang ajar dan sangat melecehkanku.

Aku berpikir, dengan posisi ini, berarti bukan Dedi yang mendapat giliran pertama untuk memperkosaku. Aku malas atau lebih tepatnya tak berani menebak siapa yang ‘beruntung’ mendapat giliran pertama kali ini, karena bagiku keenam orang yang lain termasuk pak Jamil, mereka semua begitu mengerikan.Dan toh nantinya aku harus merasakan penis mereka semua satu per satu menembusi liang vaginaku.

Tapi tiba tiba kedua pahaku dibuka dengan kasar oleh pak Jamil yang menggerutu, “Dasar amoy munafik! Sudah nggak pakai baju saja kok pakai aksi malu malu segala! Lagipula tadi di sekolah non kan sudah sempat melayani mas Dedi! Sekarang ini waktunya non melayani kami semua tahu!”.

Pak Jamil mengangkat kaki kananku dengan kasar. Dengan posisi lutut yang tertekuk, pergelangan kaki kananku diikat olehnya dengan tali rafia pada sebuah kaitan di jendela gubuk ini.

“Pak, jangan…”, desisku ketakutan.

Tapi pak Jamil tak perduli, malah berikutnya kaki kiriku ditekuk oleh pak Jamil, lalu dilebarkannya ke samping kiriku dengan kasar, hingga vaginaku sudah tersaji menunggu hunjaman dari penis penis para calon pemerkosaku ini.

Lagi lagi terdengar tawa dan sorakan mereka yang penuh ejekan itu, sedangkan aku sendiri semakin panik menyadari keadaanku yang sudah tak mungkin bisa mengelak dari nafsu binatang mereka.

Kini setelah tubuhku sudah berada dalam posisi ‘siap saji’ seperti ini, pak Jamil menyiapkan penisnya yang sudah berdiri tegak itu untuk mengaduk liang vaginaku.

Rupanya pak Jamil akan mengambil giliran pertama, dan yang lain setuju setuju saja.

Read more