Ngentot Wanita Berjilbab Part 1

Kali ini akan kuceritakan sebuah petualangan seksualku bersema seorang wanita berjilbab yang kesehariannya sangat alim, mungkin kalian tidak akan percaya kejadian ini, bahkan saya pun kadang kala tidak bisa mempercaya bahwa saya pernah memadu cinta dengan seorang wanita yang alim. Oia, namaku adalah Erwin, aku mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi, umurku 21 tahun.

Wanita itu bernama Ria Febrianita, ia biasa disapa Anita atau Nita. Wanita yang telah berumur 28 tahun dan telah memiliki anak 1 ini adalah tetanggaku, rumahnya hanya terpaut tiga rumah dari rumahku. Suaminya Pak Kirno, adalah mantan TNI yang kini tak bisa laki banyak beraktifitas akibat cederan yang dialaminya ketika melaksanakan tugas militernya di sebuah daerah di bagian timur Indonesia. Sementara Anita, adalah seorang ibu muda yang energik dan mandiri, dia adalah ketua kelompok pengajian ibu-ibu di lingkungan RW tempat tinggalku, ia pernah mengenyam pendidikan pesantren entah berapa tahun, namun di lingkunganku ia dikenal sebagai seorang wanita yang alim.

Setia hari, Jilbabnya tak pernah lepas dari kepalanya, pakaiannya lebar tak bebas menunjukkan lekuk tubuhnya, walaupun kadang-kadang juga dia memilih busana yang agak sempit dan menunjukkan bagian tubuhnya yang menarik, seperti pantat dan payudaranya. Dia terlihat ramping jika mengenakan stelan daster dan mengenakan jilbab yang dilingkarkan ke lehernya, sebagian saja yang menutupi dada bagian kirinya, sisanya tentu saja masih kelihatan.

Wajahnya ayu dengan mata yang sayu dan kebiasaannya tersenyum kepada ibu-ibu, saya sering menyapanya dan menikmati sedikit senyumnya, bibirnya tipis berisi, hidungnya tidak terlalu mancung, juga tidak pesek. Aku senang memandangi pipinya yang tampak putih dan agak sedikit memerah, dia memang putih mulus. Tingginya sekitar 150an, aku masih lebih tinggi sedikit dibandingnya. Karena dia memang akrab dengan ibuku, aku sering bertamu ke rumahnya, jika bertamu dia tetap mengenakan jilbab, namun yang biasa saja dengan pakaian santai, pernah suatu hari aku datang menemuinya di pagi hari ketika disuruh oleh ibuku, dia menerimaku dengan tetap mengenakan jilbabnya, namun pakaian yang dikenakannya adalah, pakaian tidur, sehingga jelas terlihat bentuk tubuhnya, dia masih ramping walaupun telah melahirkan, pantatnya berisi dan pahanya lumayang menyenangkan bentuknya. Matanya yang sayu serta senyumnya yang anggun erpadu dengan ekspresi wajah baru bangun tidur, tanpa make up. Aku sangat gembira dan diam-diam memperhatikan tubuhnya, sesekali dia mengetahui kalau aku memperhatikan tubuhnya, namun dia mengacuhkan dan membuyarkan lamunanku saja.

Suatu malam, saat aku baru pulang dari acara kongkow bersama teman-temanku, aku iseng berjalan pelan dan memperhatikan rumah Anita, malam cukup sepi waktu itu, kira-kira jam 1 malam, aku melihat ada bias cahaya dari ruang tamu Anita, Kupikir dia belum tidur tentunya, tidak mungkin itu suaminya, karena suaminya pasti telah tidur jam 9 atau jam 10 tadi. Jika yang menonton itu adalah keluarganya, tentu saja bukan, tak ada orang yang datang ke rumahnya hari ini, jika ada tentu saja ketahuan, aku tetangganya. Akhirnya aku iseng mendekati rumahnya dan mengintip apa yang dilakukan oleh Anita, kenapa dia belum tidur pada larut malam begini.

Read more

Ngentot Wanita Berjilbab Part 2

Aku : aku melihat apa yg sering kamu lakukan di malam hari.
Anita : maksud kamu apa? ini siapa?
Aku : tak usah mencoba menyangkal, aku punya rekaman. kamu seksi sekali sayang!

Anita tidak membalas sms terakhirku, dia malah langsung menelfon, aku kebingungan menjawabnya karena bisa saja dia kenal dengan suaraku dan kedokku ketahuan. Akhirnya aku membiarkan telfonnya berlalu, dadaku berdebar-debar, tak kukira dia akan menelfon.

berkali-kali dia menelfon tapi di selingin dengan sms, dia mencoba memohon padaku agar menjelaskan apa maksud smsku. tapi tak kubalas lagi.

sehari telah berlalu sejak aku mulai menerornya, beberapa kali dia masih mencoba menghubungiku tapi aku tidak meresponnya sama sekali, dia mengirimkan sms, tidak aku balas karena aku bingung mau membalas apa.

Read more

Pengalaman Pertama Anita Chapter 3

Anto pun semakin tak kuat menahan sesuatu yang ingin segera meledak dari dalam kontolnya tetapi ia belum ingin mengakhiri permainan itu Anita terus meracau tak jelas, menjepit kontol Anto dengan sekuat tenaga. Di paksanya agar tak segera mencapai orgasme, sampai akhirnya ia tak kuat lagi menahan sesuatu untuk segera meledak dari dalam liang kewanitaannya. Anita pun berteriak.. “Thhoo.. Akhuu uudhhaahh mauhh nihh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Terusshh sayang.. Ggghhaahh..” teriak Anita gila-gilaan sambil menciumi leher Mbak Yuyun dan menyedot kuat-kuat puting Mbak Yuyun. Melihat temannya yang makin menggila, Mbak Yuyun segera mengambil inisiatif untuk mambalas ciuman Anita pada wajah, bibir, leher dan payudara serta puting Anita agar temannya itu segera memperoleh kepuasan tiada tara. “Aaahh mhbbaakk.. Akkuu ghahhkk kkuuatthh.. Laghiihh..” racau Anita. Melihat hal itu, Anto makin mempergencar goyangannya sambil mengimbangi goyangan Anita. Diremasnya bokong Anita sambil ia terus menjilati vagina Mbak Yuyun. Terus mengayun, berharap agar ia pun mendapatkan orgasmenya bersama-sama dengan Anita.

“MbBHaakk.. Akkuu jjuuggaa maauhh keluarr nihh, ghimanahh dhonghh?” tanya Anto. “Ooohh yahh terushh sayang.. Kita keluarkhhann barenghh.. Keluarr khhaann sajjaa dii dallamm memekk kkuuhh.., chepatthh thhoo!! Hhhaammillii ahkkuuhh ssayyangnghh.. Aaahh” racau Anita mempersetankan semuanya sambil tiba-tiba mengejang, menggila dan tak lama kemudian.. Chhrrotss.. Keluarlah lendir kenikmatan dari vagina Anita yang semakin memperlicin keluar masuknya kontol Anto di dalamnya, ia langsung menekan lebih dalam, agar kontol anto makin mentok masuk ke dalam memeknya. Begitu pun anto, merasakan sesuatu yang panas keluar dari dalam vagina Anita, ia menikmati sensasi itu, sampai akhirnya.. Chhrroott.. Sampailah ia pada orgasmenya. Lima kali kontolnya mengeluarkan lahar panas yang kental ke dalam vagina Anita, sampai-sampai cairan-cairan itu membeludak keluar dari vagina Anita. Anto dan Anita pun terkulai lemas. Dengan tetap berada pada posisi mereka masing-masing. Anita begitu menikmati sensasi saat Anto mengeluarkan maninya di dalam memeknya. Begitu panasnya.

Ia pun merasakan denyut dari kontol anto dan memeknya yang saling menekan. Dan tiba-tiba untuk kedua kalinya Anita merasa memeknya kembali mengejang dan berdenyut keras lagi. “Ggghhaahh..”teriak Anita Crotthh.. Rupanya untuk kedua kalinya, keluarlah lendir kenikmatan dari dalam vagina Anita. Ia mendapatkan multy orgasme, hal yang balum pernah ia rasakan saat ia bercinta dengan kedua suaminya. Dan ia amat menikmati hal ini sampai-sampai tubuhnya yang masih menyatu raga bagian bawahnya itu, melenting, matanya terbelalak hingga bola matanya nyaris berputar. Anto pun menikmati sensasi ini, ia menyadari rupanya Anita termasuk wanita yang nafsunya besar sekali. “Wahh An, aku jadi ngiri nih..” ujar Yuyun sambil bangun dari posisinya menjongkoki wajah Anto. Kemudian ia bergegas menciumi kontol Anto dan vagina Anita yang masih saling menyatu itu. Dijilatinya lendir yang menggenang itu, direguknya, dikumur-kumurkannya, lalu ia bangun, menahan leher Anita yang masih menikmati sisa-sisa orgasmenya, lalu Yuyun pun mencium Anita sambil meludahkan lendir yang dikulumnya.

Glekkhh.. Lendir yang disuapkan oleh Yuyun itu langsung ditelan habis oleh Anita, dengan sebagian yang masih meleleh mengalir keluar dari bibirnya. Pemandangan itu membuat Anto kembali dilecut nafsu. Ia pun bangun, kemudian menciumi bibir Anita, meminta bagian dari lendir kenikmatan yang telah meraka ciptakan itu. Kemudian dengan berhati-hati ia pun mencabut kontolnya yang sedari tadi masih dibiarkan menancap dalam vagina Anita sambil diikuti erangan halus dari mulut Anita. “Ahh Thoo..” Rupanya kontol Anto masih tegak menantang ingin dipuaskan lebih jauh. Anto pun berdiri sambil menarik tubuh Yuyun, Mereka pun berhadapan kemudian Anto mengangkat tubuh Yuyun yang memang lebih kecil darinya. Ditahannya kaki Yuyun dengan tangannya sampai mengangkang begitu lebarnya. Kemudian.. Bless.. “ahh.. Hhheebbatthh kkammuhh sayanghh..” Melesaklah kontol Anto ke dalam vagina Yuyun, diikuti erangan manis dari mulut yuyun. “Terusshh Shhayaanghh..” Anto langsung mengayunkan tubuh Yuyun yang mungil itu sampai wanita itu berteriak-teriak dan memukuli punggung Anto.

Read more

Pengalaman Pertama Anita – Chapter 2

Terbenamlah wajah Mbak Yuyun diantara alat kewanitaan Anita yang ditumbuhi bulu rambut halus yang lebat, terpangkas rapi dan beraroma lembut. Digoyangkannya oleh Anita, pinggul dan jambakan pada rambut Mbak Yuyun, diikuti teriakan kecil dari bibirnya yang seksi. Mbak Yuyun pun tak mau kalah, ia menjilati semua relung kewanitaan Anita, dan tercium olehnya wangi khas lembab dari dalam kemaluan Anita. Ia semakin menikmati hal ini, dijilatinya, diciuminya, digigitinya labium mayora milik Anita, sambil sesekali lidahnya mengusap ke arah dalam vagina Anita, diikuti lenguhan kenikmatan Anita. “Ghhaahh.. Iyahh.. Iyahh.. Sshh terusshh sshaayyaangghh..” erang Anita Lidah Mbak Yuyun terus beraksi memuaskan nafsu Anita, tangan kirinya meremasi payudara Anita yang masih dibiarkan terbungkus bra hitam berendanya, sedangkan tangan kanannya ikut menggarap vagina dan lubang anus Anita. Dikeluar masukkannya jari telunjuk dan jari tengahnya, sambil sesekali ditambahi jari manisnya, kemudian diusapkannya jarinya yang berlumuran lendir kewanitaan itu ke mulut Anita, yang langsung dijilati dan dikulum dengan penuh nafsu oleh Anita.

Anita benar-benar dimanjakan oleh Mbak Yuyun, ia benar-benar menikmati hal baru ini seakan-akan tak ingin mengakhirinya. Tangannya terus menjambaki rambut Mbak Yuyun, sambil meremas-remas payudara dan memilin putingnya sendiri, dan sesekali ikut serta membantu Mbak Yuyun mengocok vaginanya sendiri. Mereka benar-benar sudah tak mempedulikan lagi siapa atasan atau bawahan. Giliran Anita memuaskan Mbak Yuyun, ia turun dari sofanya sambil mendorong tubuh Mbak Yuyun agar terlentang dilantai. Dinginnya lantai itu makin menambah sensasi pada keduanya. Anita menciumi tubuh Mbak Yuyun dari mulai ujung kaki sampai ujung rambut. Mbak Yuyun sendiri dengan tak sabar menarik bra Anita hingga keduanya pun akhirnya telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Sesekali mereka berciuman dengan begitu nafsunya. Anita bangun dan berputar, kemudian menciumi yuyun mulai dari kepala, terus turun, hingga bagian kewanitaannya. Sampai akhirnya mereka membentuk posisi 69, dengan Anita di bagian atas Mbak Yuyun.

Paha mulus Anita mengangkangi wajah Mbak Yuyun dan langsung menindihnya yang langsung disambut lagi oleh Mbak Yuyun dengan lumatan dan gigitannya pada semua bagian vagina Anita. Begitu pun Anita, ia menjilati, menciumi dan menggigiti vagina Mbak Yuyun yang juga ditumbuhi bulu yang lebat dengan penuh nafsu. Ia ingin membalas semua perlakuan Mbak Yuyun terhadap dirinya, ia ingin memuaskan dan dipuaskan. Mereka terus bergumul dalam posisi itu sampai kira-kira 10 menit lamanya hingga wajah mereka dilumuri cairan dan bau khas dari vagina lawan mainnya. Kemudian mereka berganti letak, Anita kali ini berada di bawah dan mereka tetap melakukan posisi itu. Tak lama kemudian, Mbak Yuyun berjongkok, dengan vaginanya masih menempel pada mulut dan wajah Anita, ia mengambil posisi berjongkok sambil menekan-nekankan vagina dan anusnya pada mulut dan hidung Anita. Kedua wanita dewasa itu begitu menikmati permainan mereka. Sampai tak lama kemudian Mbak Yuyun berkata.. “An aku ingin kencing nih! Aku ke toilet dulu ya?” ujarnya.

“Ah, tanggung Mbak, sudah cuek aja, kencingi aja mukaku, aku ingin ngerasain air kencing Mbak langsung dari tempatnya!” pinta Anita penuh nafsu. “Oh ya, ok deh klo kmu enggak keberatan,” jawab Mbak Yuyun. Lalu.. Ssseerr keluarlah air kencing Mbak Yuyun dari vaginanya, tepat di wajah Anita. Mereka makin menikmati hal ini. Anita menciumi kemaluan Mbak Yuyun saat mengeluarkan air kencing, sambil sesekali jari dan lidahnya yang nakal ditusukkan langsung ke dalam vagina Mbak Yuyun. Mbak Yuyun pun merasakan sensasi yang nikmat saat Anita melakukan hal itu. Setelah itu Mbak Yuyun bangun, dan langsung menindih Anita sambil menciuminya, mencari sisa-sisa air kencing dan lendir kewanitaan miliknya yang melumuri wajah Anita. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bunyi handphone milik Mbak Yuyun. “Sebentar ya An, mungkin orang rumah kuatir,” ujarnya. “Halo, ya disini Yuyun.. Oh kamu, dimana nih? Mbak sudah nunggu kamu dari kemarin,” ujar Mbak Yuyun pada peneleponnya.

Read more

Pengalaman Pertama Anita – Chapter 1

Sore itu, waktu masih menunjukkan pukul 15: 00, sementara itu cuaca di luar sudah terlihat agak mendung. Entah keberapa kalinya Anita menengok ke arah jam dinding, atau ke lengan kirinya yang terbalut jam tangan emas merk terkenal. Hari itu Anita mengenakan stelan blazer berwarna hitam, di padu dengan rok span setinggi diatas lutut dengan belahan yang cukup tinggi, sehingga sesekali menampakkan pahanya yang putih mulus itu. Stelan blazer hitam yang dikenakannya begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus itu. Orang lain yang baru mengenalnya pasti tidak akan mengira bahwa wanita ini sudah mencapai usia kepala tiga dan sudah mempunyai dua orang anak. Akan tetapi garis-garis kematangan yang terlihat di wajah dan tubuhnya yang nampak anggun itu semakin menampakan pesona ibu dua anak itu. Tubuh dengan tinggi semampai, rambutnya yang selalu dipotong sebahu, dan garis-garis kematangan di wajahnya itu memperlihatkan bahwa ia adalah seorang wanita karir, terlebih bila melihatnya saat mengenakan stelan kerjanya.

Anita memang telah berkarir di perusahaan pemasaran komputer ini bertahun-tahun lamanya. Sebagai pegawai marketing, sudah tentu Anita harus selalu berpenampilan menarik. Sehingga dengan penampilannya yang selalu menarik itu, tak terlihat bahwa usianya sudah kepala 3, sebab di beberapa bagian tubuh masih dapat mengundang mata nakal para lelaki yang bertemu dengannya. Betis, lengan, leher dan dadanya yang putih mulus itu slalu mengintip dan mengundang para lelaki untuk mencuri pandang ke arahnya. Belum lagi bila melihat buah dadanya berukuran 36c yang mencuat ke atas itu pasti akan benar-benar mengundang fantasi setiap pria yang meliriknya, dan hanya bisa membayangkan untuk meremasnya dengan lembut sambil sesekali menggigit gemas putingnya. Kehidupan perkawinannya kurang bahagia. Saat ini adalah kedua kalinya ia membina rumah tangga setelah bercerai dengan suami pertamanya. Dan tetap saja, kali ini pun ia tidak sebahagia yang telah ia bayangkan dengan suami keduanya. Dan masalah itulah yang selalu menggantungi pikirannya.

Seperti saat ini, disaat ia akan pulang kantor, menuju rumahnya. Menit-menit terakhir di kantor inilah yang selalu membuatnya teringat saat-saat ia masih belum berkeluarga dulu, saat ia dapat tak langsung pulang kerumah setelah usai jam kantor, bisa berjalan-jalan dengan teman-temannya terlebih dahulu. Ia kembali merindukan saat-saat seperti dulu. Lima menit lagi bel tanda pulang berbunyi, dan itu artinya ia harus pulang ke rumahnya, bertemu dengan suaminya, membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan hal-hal rumah tangga lainnya. Tiba-tiba lamunannya dipecahkan oleh suara intercom kantor. Dan ia langsung mengangkatnya, “Halo, dengan ruang marketing, Anita disini” Halo, Anita apakah anda ada acara dirumah? Bisakah kamu memeriksa beberapa tugas auditing yang harus saya bawa ke Jakarta besok?” jelas suara diseberang, yang tak lain adalah bosnya sendiri. Sebenarnya ia memang sedang enggan langsung pulang kerumahnya, tetapi bukan ini yang diharapkannya. Walau begitu ia tetap tidak dapat menolak permintaan bosnya itu.

Read more

The Fallen Princess 5: Sang Eksekutor

“Mang…beneran Mang gak inget siapa yang bawa Putri waktu itu?”. “bener non…waktu itu Mang Sapto lagi ada di dapur…”. “lho? terus gimana caranya Putri di bawa ke kamar?”, kata Putri sambil terus memainkan jemarinya di sekitar penis Sapto yang sudah loyo itu. “kalo soal pintu depan…emang Mang Sapto lupa kunci…’n kalo soal kamar non…mungkin orang itu nemu kunci kamar non di tas non…”. “mm…bener juga…ya kali ya Mang…”. Putri semakin penasaran dan ingin tahu siapa yang menolongnya. Putri memeluk Sapto lebih erat seolah-olah gadis cantik itu tidak ingin Sapto lepas dari pelukannya. Sapto pun merangkul Putri lebih erat. Sapto sangat suka jika Putri sudah memeluknya karena tubuh Putri begitu hangat dan wangi. Seperti biasa, mereka berdua melewati masa-masa intim setelah bersenggama dengan saling berpelukan dan diam menikmati kesunyian malam. Dan kadang mereka berciuman dengan sangat mesra dan penuh rasa kasih sayang sebelum akhirnya mereka berdua tidur. Sudah 2 minggu setelah Putri masuk sekolah lagi. Dan selama itu pula, Putri tetap mencari-cari jawaban atas pertanyaannya itu.

Tapi, tak tahu harus mulai darimana, Putri akhirnya menyerah. “non Putri…Mang Sapto sebentar lagi mau pergi…”. “emang Mang Sapto mau pergi ke mana?”. “mau perpanjang KTP abis itu mau ke rumah saudara Mang…”. “lama nggak?”. “ya mungkin sore ato malem baru pulang…”. “yah lama banget…kalo gitu Putri ikut aja…yah? yah?”, kata Putri memegang tangan Sapto. “aduh non…Mang sih emang pengen ngajak non Putri…tapi ntar sodara Mang ngomongin kalo non Putri ikut…”. “yah…Mang Sapto jahad ah…”, Putri manyun. Sapto mengangkat dagu Putri. “jangan marah dong non…”. Sapto mengelus-elus pipi Putri. “iya Mang…Putri nggak marah kok…Mang Sapto mau pergi jam berapa?”. “sekarang non…”. “o ya udah…bentar…Putri ambilin bajunya…”. Putri membuka lemarinya yang kini tak hanya ada bajunya saja yang ada di sana, tapi juga pakaian Sapto. “nih Mang…”. “makasih non…”. Sapto mengenakan pakaian yang diberikan Putri. Putri pun merapihkan pakaian Sapto. Sapto iseng, dia menarik lubang leher baju Putri ke depan sehingga dia bisa mengintip payudara Putri.

“Mang Sapto ngintip-ngintip nih…”, ujar Putri manja sambil terus mengancingkan baju Sapto seolah tak terjadi apa-apa. “hehe…”. “nah…udah Mang…udah rapih..”. “makasih ya non…”. Putri dan Sapto keluar kamar. “pulangnya jangan lama-lama ya Mang…awas kalo ngayap…”, ancam Putri, sudah seperti istri beneran Sapto saja. “iya non…tenang aja…abis selesai di rumah sodara…Mang Sapto langsung pulang..”. Tentu saja, buat apa Sapto ngelayap kalau di rumah sudah ada gadis cantik yang setia menunggunya. “yaudah Mang…ati-ati ya Mang…”. “iya non…”. Sebelum membuka pintu depan, mereka berdua berciuman lagi, penuh kehangatan dan mesra, lama sekali. Keduanya sama-sama tidak mau melepas ciumannya. Padahal hanya beberapa jam saja mereka akan berpisah, tapi ciuman yang mereka lakukan seperti pasangan yang akan berpisah bertahun-tahun. Akhirnya mereka berdua saling menjauhkan bibir mereka masing-masing. “udah ya non…Mang pergi dulu…ati-ati di rumah…kunci pintunya…”. “iya..iya…Mang juga jangan lupa pesen Putri tadi ya…”. “tenang aja non…daahh..”. “daahhh…”. Putri tetap berdiri di ambang pintu sampai Sapto belok dan tak terlihat lagi. Putri menutup dan mengunci pintu. Dia bingung mau apa, Putri akhirnya duduk di sofa saja sambil menonton tv. Dan tanpa sadar Putri tertidur karena kurang tidur tadi malam.

Putri terbangun sendiri, segar sekali rasanya setelah ngulet beberapa kali. Jam menunjukkan pukul 10 pagi, sperma Sapto bekas tadi malam yang ada di beberapa bagian tubuh Putri kini sudah benar-benar mengering dan menjadi kerak membuat Putri jadi agak tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Putri mandi membersihkan tubuhnya yang belum di bersihkan sejak ‘dipinjam’ Sapto tadi malam. Biasanya hari Sabtu dan Minggu pada jam segini, Putri belum bisa mandi karena masih ‘sibuk’ di ranjang bersama Sapto. “ting tong…ting tong…”. “siapa pagi-pagi gini?”, tanya Putri sambil bergegas mengenakan baju rumahnya dan segera berlari ke pintu depan. “iya..iya…”. “ha..hai…Putri…”. Putri terbengong tak percaya siapa yang ada di depannya sekarang. “ka..kak..Anita?”. “gue mau ngomong sesuatu ke lo, Put…lo mau gak dengerin gue?”. Putri jadi bingung harus bilang apa, salah satu dari daftar orang yang dibencinya kini ada di depannya. “Put?”. “eh…iya..kak..ayo masuk…”. Putri belum membuat rencana balas dendamnya, tapi 1 dari 3 orang yang dibencinya sudah ada di depannya.

Read more

The Fallen Princess 3: Musuh Dalam Selimut

Sebulan telah berlalu, Putri dan Sapto semakin mesra setiap harinya, hampir tak bisa dipisahkan. Putri pun sudah menjelma menjadi penerus Reisha. Keahlian ranjangnya sudah setara dengan Reisha. Sangat cepat dia menyerap semua ajaran Sapto. 5x lebih cepat daya serap Putri dibanding Reisha. Tak heran kalau kerinduan Sapto akan keintimannya dengan Reisha, kini terobati dengan keintimannya bersama Putri. Putri juga sudah menerima Sapto dengan sepenuh hati, setiap bercinta dengan Sapto kini Putri lakukan dengan senang hati, tidak ada rasa terpaksa seperti dulu. Dan selama 1 bulan, Putri selalu sarapan sperma Sapto. Sejak menyantap sperma Sapto setiap pagi, Putri merasa ada perubahan. Di sekolah, dia tidak pernah merasa lemas dan ngantuk lagi. Dia jadi selalu bersemangat setiap harinya sehingga mudah menyerap pelajaran dan nilai ulangan hariannya sangat bagus. Mungkin karena sperma Sapto yang kaya protein membuat tubuhnya sehat dan terus bertenaga. Akhirnya, Putri pun jadi senang ‘memerah’ penis Sapto setiap pagi. Tapi, Putri tetap tidak mau berkeliaran di dalam rumah jika tidak memakai sehelai benang pun seperti kakaknya.

Padahal, Sapto ingin sekali melihat Putri berlalu-lalang di sekitarnya tanpa pakaian. Memang, tubuh indah Putri sudah menjadi pemandangan Sapto sehari-hari, tapi melihat Putri telanjang selain di dalam kamarnya adalah fantasi liar Sapto. “Mang Sapto..”, lirih Putri lembut berada di dalam rengkuhan Sapto setelah bercinta dengan sangat panas. “iya non..ada apa?”. “Mang Sapto mau bantuin Putri kan?”. “iyalah mau non..emang mau minta tolong apa?”. “Putri mau balas dendam..”, nada suara Putri berubah. “beres non..Mang Sapto bakal bantuin non Putri..”. Lalu mereka berdua berpelukan lebih erat dari sebelumnya. Keduanya sama-sama tahu, mereka berdua akan saling menjaga dan membantu satu sama lain. Pembunuhan pasti tidak akan seru, Putri memikirkan cara untuk membuat target pertamanya malu seumur hidup dan kalau bisa, sampai hidup segan mati pun tak mau. Sapto dan Putri pun mulai menyusun rencana. Tapi, sedang asyik-asyiknya terus berduaan setiap hari, orang tua Putri pulang. Awalnya mereka berdua bingung, bagaimana caranya menghabiskan waktu bersama jika ada orang tua Putri.

Dulu, orang tua Reisha dan Putri meski masih jarang ke luar kota, mereka terus pergi sehingga Reisha dan Sapto hanya tinggal memikirkan keberadaan Putri dan Reisha sampai sering bolos sekolah hanya untuk menghabiskan waktu bersama Sapto, tapi kini, orang tua Putri dan Reisha sering berada di rumah. Bukan Sapto namanya jika kehabisan akal. Sapto yang bertugas antar-jemput Putri, ‘menculik’ Putri setiap hari ke rumahnya. Tentu, Putri mau saja setiap hari ke rumah Sapto. Berbagai alasan, Putri utarakan ke kedua orang tuanya mulai dari pelajaran tambahan, ekskul, belajar kelompok, mengerjakan tugas, dll. Kedua orang tuanya percaya saja karena yang mereka tahu, Putri adalah anak yang baik dan pintar. Kini, Putri tidak pernah lagi makan malam bersama karena setiap malam dia selalu pulang dalam keadaan kenyang. Kenyang karena sperma Sapto. Dan untuk ‘sarapan’ pagi, Putri menguras penis Sapto selama perjalanannya ke sekolah. “Nad..mau ke mana lo?”. “gue mau balik ah Ta..bt gue..”. “yaudah..terserah..”. “Nit..gue balik duluan ya..”. “oke..”.

Setelah cipika cipiki ke kedua temannya itu, Nadya keluar meninggalkan club favoritnya. Mobil Nadya melaju kencang menembus kegelapan malam karena dia memang sedang sangat bad mood. Tapi, lama-lama mobilnya terasa aneh. Mobilnya terasa berguncang-guncang sepanjang jalan. Nadya meminggirkan mobilnya di jalanan yang sudah sepi. Rupanya, ban belakang mobilnya kempes. “mampus gue..pake kempes segala..”, Nadya kebingungan, bannya kempes di jalanan yang sepi, ditambah sekarang jam 2 pagi, mana ada bengkel yang masih buka. Teleponnya mati, lupa di cas olehnya. Tiba-tiba ada seseorang yang datang dari kejauhan. “Pak…maaf..bisa bantu saya?”. “oh iya..ada apa neng?”. “ban saya kempes..”. “yah neng..malem-malem gini..gak ada bengkel yang buka..”. “tolong Pak…”. “mm..bentar neng..saya coba ke bengkel teman saya dulu..mudah-mudahan masih bangun..”. Dengan sabar, Nadya menunggu bapak tadi. Tidak ada pilihan lain, mau pulang dan kembali lagi, tak ada kendaraan yang lewat. Tak lama kemudian, ada empat orang laki-laki yang datang. “wah..ternyata mobilnya neng cakep toh..pantes aja tadi gue mimpi ketiban duren..”.

Read more

The Fallen Princess 4: Final Target

“mmm…hhhmmm…”. Renata tidur terlentang di kasurnya. Tangannya bergerak lemah lembut mengelus-elus bibir vaginanya sendiri. Di malam yang sepi itu, Renata sendirian di kamarnya dan entah kenapa nafsunya sedang tinggi. Setelah ‘memanaskan’ vaginanya, Renata mengambil sebuah dildo. Dildo kesayangan Renata karena bentuknya besar dan panjang mampu membuat orgasmenya benar-benar maksimal. “uuummmhh..”, Renata mengulum bibir bawahnya menikmati benda tumpul yang terus masuk ke dalam vaginanya. Begitu sudah seluruhnya masuk ke dalam liang vaginanya, Renata menekan tombolnya. “ooohhh !!! Maanhhh !!”, Renata mendesahkan nama Arman. Arman, sang bandar narkoba, kini telah tiada. Tewas ditembak polisi saat penggrebekkan. Renata merasa sangat kehilangan meski Arman hanyalah sampah masyrakat dan wajahnya jelek, tapi Renata sudah terlanjur bertekuk lutut kepada Arman dengan ‘tongkat sakti’nya. Dildo yang sedang mengaduk-aduk vagina Renata itu mempunyai 2 variasi gerakan. Pertama, bergerak ke kanan dan kiri selama 6 detik. Kedua, berputar di poros selama 4 detik lalu kembali ke gerakan pertama, dst.

Saat Renata sedang menikmati dan menghayati gerakan dildo di vaginanya, tiba-tiba pintu kamar Renata terbuka. Renata menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. “kak?”. Ternyata yang masuk adalah adik angkatnya, Andre. “kakak lagi ngapain?”. Andre mendengar suara berdengung. Andre melihat mata Renata sayup-sayup dan tubuhnya bergetar. Andre menarik selimut Renata dan menemukan suara dengung itu berasal dari dildo yang menancap di vagina kakaknya. “tu…tuuphh…piint..ttuuhh..”, lirih Renata pelan. “oke..kak..”. Andre menutup dan mengunci pintu kamar Renata lalu berdiri di ujung tempat tidur Renata. Andre pun menonton kakaknya. Memandangi vagina kakaknya yang tertutup pangkal dildo. Andre tersenyum, menatap vagina yang telah menjadi tempat ‘bermukim’ bagi burung mudanya itu selama 2 tahun terakhir. Ya, benar, hubungan Andre dan Renata bukan kakak-adik angkat biasa. Setiap hari selama 2 tahun terakhir, Andre tidak pernah tidur di kamarnya, dia selalu tidur di kamar Renata. Hubungan ini bermula ketika Andre berumur 13 tahun saat masih duduk di kelas 1 SMP.

Sebenarnya, Andre adalah cucu dari pembantu Renata yang sudah lama meninggal. Saat Andre masih berumur 2 tahun, keluarganya hanya tinggal neneknya. Kedua orang tuanya entah kemana, tak ada kabar. Kakeknya pun meninggal dunia saat Andre baru berumur 6 bulan. Kedua orang tua Renata memutuskan untuk mengadopsi Andre karena nenek Andre sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh keluarga Renata. Renata pun tidak keberatan Andre menjadi adiknya. Awalnya, seperti anak kecil lainnya, Andre sering menjahili Renata. Tapi, ketika hormon-hormon Andre mulai bekerja dan membuat Andre jadi memperhatikan lawan jenis, Andre baru sadar kalau kakak angkatnya itu cantik sekali. Dari ‘pengalaman’ bermain internet yang Andre lakukan mulai dari kelas 4 SD (anak sekarang cepat dewasa karena internet, ya kan? hhi), penis kecil Andre sering tegak jika berdekatan dengan Renata yang waktu itu baru kelas 3 SMP. Saat Renata sudah masuk SMA. Andre semakin tergila-gila dengan Renata bahkan Andre sering membayangkan Renata bugil di depannya.

Andre jadi salah tingkah jika di dekat Renata. Renata sebenarnya memperhatikan tingkah adik angkatnya itu, tapi tidak memperhatikannya karena Renata terlalu sibuk membangun reputasi di sekolahnya. Saking memuja-muja kakak angkatnya, dan Renata pun muncul sebagai pasangan Andre di mimpi basahnya saat berumur . “oohh…kak Rena…aahhh”, Andre mengocok penisnya sendiri sambil memegang cd yang ada di ranjang Renata. Andre menempelkan cd Renata ke hidungnya sambil terus mengocok penisnya sendiri. Aroma vagina Renata masih melekat erat di cd itu karena cd itu habis dipakai Renata kemarin dari sore hingga pagi. Pagi itu, Renata terlambat jadi dia mengganti cdnya dan asal membuang cdnya itu ke tempat tidur. Rupanya, sejak mimpi basah, Andre jadi semakin nekat. Andre sering mengendap-endap ke kamar Renata yang sering tak terkunci lalu Andre mengendus-endus cd dan bh Renata sambil onani. “Andre ??!!”. “hah?!”. Andre kaget bukan kepalang, kakaknya berdiri di pintu kamar padahal dia masih memegang cd kakaknya dan menggenggam penisnya.

Read more

Dosen Favorit

Namaku Anita, kelahiran Samarinda, kuliah di fakultas Ekonomi sebuah PTS cukup beken di kota Malang, saat ini semester 6. Kabarnya teman kuliahku bilang aku cukup manis untuk dipandang, dengan ukuran buah dada 34C, tubuhku seolah tak kuat menyangga buah dadaku. Tinggiku 165 cm dan beratku 60 kg, kulitku putih mulus dan pantatku berisi. Tiap kuliah dengan kelebihan yang kupunya aku berusaha menarik perhatian semua orang dengan pakaian ketat dan rok miniku berjalan melenggang. Semua mata tertuju kepadaku ada juga beberapa berdecak kagum atas kemolekan tubuhku dan, aku bangga menyaksikan semua itu.

Terus terang aku sudah tidak perawan sejak usia 18 tahun pada waktu aku di SMA, karena bebasnya pergaulan dan longgarnya tatanan keluargaku aku bebas pergi kemana saja yang kusuka. Keperawananku hilang saat aku melakukan kegiatan “camping” bersama teman-teman saat perpisahan sekolah di suatu tempat pariwisata. Aku tidak menyesali karena kulakukan atas dasar suka sama suka.

Kuliah sore ini adalah dosen favoritku. Faisal namanya, wajahnya ganteng atletis dan banyak sekali mahasiswi yang berusaha menarik perhatiannya pada saat dia mengajar. Bahkan aku pernah dari kakak tingkatku walau dia kelihatan alim sebenarnya piawai juga dalam menaklukkan hati wanita yang diincarnya. Pak Faisal sudah berkeluarga tetapai masih banyak juga mahasiswi yang tergila-gila melihat penampilannya termasuk aku sendiri. Aku pilih tempat duduk paling depan lurus dengan tempat duduknya biar aku dapat dengan mudah dan puas memandangnya. Tak lama kemudian Pak Faisal memasuki ruangan, setelah memberikan salam dan berbasa-basi pelajaran dilanjutkan. Aku tidak dapat konsentrasi pada kuliah yang diajarkannya, pikiranku tertuju pada wajah dan bodinya yang tepat berdiri di depanku. Sesekali kugerakkan kakiku untuk menarik perhatiannya dan dia terpancing, diliriknya rokku yang cukup sempit itu, sreet. Dan dipalingkan wajahnya pada pandangan lain, ah dia kena, pikirku. Dan secara tidak sengaja dilemparkan pandangannya pada daerah dadaku Pak Faisal agak terbelalak melihat belahan dadaku yang seolah mau melompat keluar karena ketatnya T-shirt yang kukenakan.

Merah wajahnya seketika menyadari keadaan ini dan dia pura-pura menulis di papan. Selang beberapa saat dia melanjutkan membahas materi kuliah dan kini aku yang benar-benar terkejut, kulihat celana Pak Faisal ada yang menggembung di bagian depan. Beberapa mahasiswa tersenyum malu memandangnya bahkan ada yang sempat terhenyak sampai menutup mulutnya. Kubayangkan betapa besar batang kemaluan Pak Faisal yang sekarang sembunyi di balik celananya. Aku semakin terkagum dan merinding membayangkan andaikan vaginaku yang sempit ini sempat disinggahi oleh batang kemaluannya. Ketika kuliah usai mahasiswi ramai membicarakan kejadian yang baru berlangsung yaitu menggembungnya celana Pak Faisal.

“Eh, Neti kamu lihat nggak anunya Pak Faisal meradang”, tanya Nina sambil berbisik berbicara dan menutup mulutnya. “Iya Nin, Aku jadi merinding lho membayangkan, ngeri juga ya, kalau kamu bagaimana Anita”, Tanyanya kepadaku, mereka berdua denganku (jadi bertiga) adalah kelompok belajar yang kadang suka ngerumpi hal-hal yang jorok-jorok untuk selingan, dan kedua temanku juga orangnya fair dia mengaku sama-sama tidak perawan dan senang melakukan hubungan seks dengan orang yang di sukai. Yang jelas ketiganya ini memang sedang berburu Pak Faisal, Karena konon kabarnya Pak Faisal pernah juga terlibat beberapa kali affair dengan mahasiswinya dan semua berjalan santai-santai saja.

“Pasti dong, aku kan duduk depan sendiri jadi aku paling jelas lihat burung raksasanya, benar juga ya kali. Kakak tingkat kita itu yang pernah sama dia pasti ketagihan dibuatnya,..” cerita Anita berapi-api, ” Dan yang jelas aku pengin mendapatkannya”, lanjutnya.

Read more