Ketika Istriku Menjadi Budak Seks Bosku Bagian 2

Bagian I: Permulaan

Audrey, Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak. Selama tiga minggu itu tidak ada apapun yang terjadi. Aku dan istriku Audrey masih menuruti instruksi yang diberikan Wen sebelum kami pulang dari puncak, namun tidak ada tanda-tanda Wen akan meneruskan aksinya terhadap Audrey. Di kantor tempatku bekerja Wen tidak pernah membicarakan kejadian di puncak itu, dia bertindak seolah-olah kejadian di puncak tidak pernah terjadi dan akupun bekerja seperti biasa yaitu membantu Wen dalam manajemen kantor sehari-hari, meskipun semenjak kejadian 3 minggu lalu itu aku dan Wen menjadi tidak akrab seperti biasanya. Kami jarang mengobrol satu sama lain, adapun apabila harus berbicara dengan Wen hanyalah sebatas pembicaraan yang terkait dengan pekerjaan. Selama tiga minggu itu, Audrey tidak pernah keluar rumah. Bel kecil di bibir atas memeknya dan larangan memakai BH dan celana dalam membuatnya risih untuk keluar rumah. Setiap Audrey melangkah pasti terdengar bel kecil itu berbunyi pelan.

Mungkin pembantu-pembantu dan supir di rumah sebenarnya mendengar dentingan bel kecil itu, hal itu terlihat di raut wajah mereka ketika Audrey ada di sekitar mereka. Raut wajah mereka menampakkan kebingungan dan kecurigaan karena mendengar bunyi bel kecil dari dalam rok majikan perempuannya, namun mereka tidak ada yang berani bertanya ataupun berkata apa-apa. Di rumahku aku dan Audrey mempekerjakan 2 pembantu wanita, 1 pembantu pria dan seorang supir. Salah satu pembantu wanita kami yang biasa kami panggil bi Minah seorang wanita tua yang bertugas memasak dan mencuci pakaian. Satu pembantu wanita kami yang lain bernama panggilan Mar seorang wanita muda berumur 18 tahunan yang bertugas membersihkan rumah, sedangkan pembantu pria dan supir kami masing-masing bernama Sudin dan Amir. Keduanya berumur sekitar 50 tahunan dan berkulit sangat hitam tanda seringnya terkena terik sinar matahari. Pembantu-pembantu dan supir di rumah terlihat menyadari perubahan pada diri Audrey, terutama Sudin dan Amir.

Mereka sering terlihat memandangi istriku di rumah, meskipun setiap kali aku melihatnya mereka memalingkan muka dan pura-pura sedang tidak memandangi Audrey. Audrey di rumah tidak pernah lagi memakai BH dan celana dalam, hal itu sesuai dengan instruksi Wen. Ada rasa kekuatiran bahwa pembantu dan supir di rumah mengetahui hal itu, apalagi setelah melihat akhir-akhir ini Sudin dan Amir sering memandangi istriku dengan tatapan yang lain, sedikit mesum terpancar di muka mereka yang hitam itu. Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak…, ketika pada suatu malam telepon kami berdering. Audrey mengangkat telepon dan terlihat berbicara dengan serius dengan orang di seberang telepon itu. Setelah 10 menit berbicara, Audrey menutup telepon dan dengan muka pucat menghampiriku. Audrey menceritakan bahwa yang menelepon barusan adalah Wen. Wen akan datang ke rumah besok siang dan memerintahkan istriku untuk mempersiapkan diri…

Bagian II: Pelecehan di Rumah

Mr. Wen, Keesokan harinya, aku ke kantor seperti biasanya, karena ketika Wen menelepon Audrey tadi malam, Wen tidak menginstruksikan apa-apa yang berkaitan dengan diriku. Hari itu di kantor Wen memberikanku banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terus terang aku tidak bisa konsentrasi di kantor. Perasaanku campur aduk mengingat telepon Wen pada istriku tadi malam, namun Wen tidak mengatakan apapun kepadaku tentang janjinya dengan Audrey siang ini. Wen memperlakukanku seolah-olah aku tidak mengetahui rencananya siang ini dengan Audrey. Menjelang istirahat makan siang, aku melihat Wen meninggalkan kantor. Melihat itu hatiku semakin campur aduk. Aku bisa menebak Wen akan pergi kemana, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Aku semakin tidak bisa konsentrasi dan pikiranku semakin kacau ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan belum ada tanda-tanda Wen kembali ke kantor. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Hp Audrey. “Tuut…tuut…tuut…” bunyi nada panggil di Hp Audrey tidak ada yang mengangkat.

Read more

Ketika Istriku Menjadi Budak Seks Bosku

Bagian I: Permulaan

Audrey, Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Tommy dan Istriku bernama Audrey, umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. Sebagai istri, Audrey adalah istri yang baik, ia adalah seorang wanita yang alim dan sopan. Untuk urusan ranjang, Audrey dapat dikatakan bukanlah seorang ahli, laki-laki pertama yang menidurinya adalah aku yaitu pada saat malam pengantin kami. Dua tahun kehidupan perkawinan kami berjalan baik-baik saja, kami belum mempunyai keturunan, mungkin kekurangannya adalah kehidupan seks kami terlalu biasa-biasa saja. Kami mungkin hanya berhubungan badan sekali dalam 2 minggu dan itupun hanya dengan cara yang sangat konvensional yaitu posisiku di atas dan dia di bawah. Audrey tidak menyukai atau bahkan dapat dikatakan tidak mau dengan gaya lain selain gaya konvensional tersebut.

Entah kenapa setelah 2 tahun berumah tangga, pada waktu berhubungan badan dengan Audrey, aku selalu membayangkan Audrey sedang disetubuhi laki-laki lain, dan hal tersebut terus berulang sampai-sampai pada saat sedang tidak berhubungan badanpun dengan Audrey aku selalu memikirkan bagaimana rasanya melihat Audrey disetubuhi laki-laki lain. Aku bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional, bossku adalah seorang warga negara China, umurnya sekitar 59 tahun, badannya sangat gemuk dan kepalanya sudah mulai botak, hanya tinggal rambut-rambut tipis menutupi bagian kepala belakangnya. Bossku ini, namanya Wen sangatlah baik kepadaku, dapat dibilang akulah tangan kanannya di Indonesia. Orangnya suka bergurau masalah-masalah seks. Wen sering sekali menanyakan kabar Audrey, memang sudah beberapa kali Wen bertemu dengan Audrey dalam acara-acara kantor, terlihat sekali dia sangat tertarik pada Audrey yang memang sangat cantik dan menggiurkan banyak laki-laki. Suatu ketika Wen menanyakan kehidupan rumah tanggaku, seperti biasa dia menanyakan kabar Audrey dan menanyakan mengapa sampai saat ini kami belum mempunyai keturunan dan apakah hal tersebut disengaja karena memang belum menginginkan keturunan.

Mendengar pertanyaan tersebut, akupun menjawab bahwa sebenarnya aku dan Audrey menginginkan keturunan tapi memang belum berhasil mendapatkannya. “Mungkin cara kamu salah Tom, berapa kali kamu berhubungan badan dengan istrimu dalam seminggu” Tanya Wen kepadaku. “Yah sekitar sekali dalam 2 minggu dan pada saat istriku dalam keadaan subur” jawabku singkat. “Waah, mungkin kamu harus periksa ke dokter tuh, dokter ahli kandungan dan dokter ahli jiwa. Kenapa ke dokter ahli jiwa? Karena kamu punya istri cantik tapi hanya ditiduri sekali dalam 2 minggu atau pada saat subur saja. Kalau Audrey itu istriku, pasti aku tiduri dia tiap hari dan berkali-kali” candanya kepadaku. Mendengar hal tersebut, entah setan apa yang menghinggapi diriku, timbul sebuah ide dalam benakku. “Mr. Wen mau tidur dengan istriku? Bilang saja terus terang” celotehku. Mendengar perkataanku muka Wen terlihat kaget dan tidak percaya. “Kalau saya bilang memang sangat mau bagaimana?” katanya memancingku. “Ya boleh saja” sahutku. Kemudian aku menceritakan kepada Wen bahwa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan aku menyaksikan Audrey ditiduri laki-laki lain, dan aku juga menjelaskan bahwa mungkin pikiranku ini hanya akan jadi khayalan semata mengingat betapa alimnya Audrey. Ternyata gayung bersambut. Wen menjelaskan dan meyakinkan kepadaku bahwa sebenarnya tidak ada wanita yang alim dalam seks, wanita hanya memerlukan pancingan dan pengaturan “permainan” dari laki-lakinya untuk membangkitkan nafsu yang ada dalam dirinya. Wen kemudian mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati membantu khayalanku menjadi kenyataan kalau memang aku mempercayainya. Mendengar itu akupun langsung mengiyakan. Wen kemudian memastikan lagi apakah aku tidak akan apa-apa kalau dirinya meniduri Audrey dan menanyakan apakah aku meminta imbalan sesuatu dari dirinya agar dia diperbolehkan meniduri Audrey.

Read more