P.A.R.A.D.I.S.O Part 7

Fragmen 12
Katarsis

Bumi berputar menggantikan malam muram di Crossing Fate menjadi benderang pagi yang mulai mewarnai hitam langit dalam gradasi yang menawan. Hamparan persawahan di sekitar rumah Pak De masih tertutup halimun tipis, namun beberapa petani sudah berjalan menyusuri pematang bersiap untuk mengatur pembagian air irigasi.

Nasib mempertemukan Ava, Indira, dan Sheena dalam takdir yang saling bersilangan. Namun, itu semua hanyalah mula, hanya awal dari sekian teka-teki, dari sebuah perjalanan panjang menuju akhir bahagia.

Pagi itu Pak De sedang duduk di teras rumah menikmati segelas kopi hitam hangat dan pisang goreng dengan asap yang masih mengepul. Indira duduk di sampingnya, bidadari itu kini sudah mengenakan seragam putih-abu yang rapi, rambut kecoklatannya diikat kebelakang, menampakkan keanggunan yang demikian terpelajar. Indira meletakkan tangannya di atas punggung tangan Pak De.

Pak De tersenyum tipis, sebelum membelai rambut Indira lembut. Indira menyandarkan kepalanya di pundak Pak De, membiarkan ayahnya mendekapnya. Sebuah dekapan yang lama tidak Indira rasakan.
Mereka mencoba menemukan kembali kehangatan yang lama hilang. Kehangatan yang memudar sejak peristiwa 10 tahun yang lalu yang merenggut orang-orang yang mereka cintai.

“Dira berangkat dulu, Jik” kata Indira sambil mencium tangan Ayahnya.
“Oh Iya, sekalian kamu antar si Ava sampai galeri, Kadek mau Ajik suruh beli cat di Denpasar.”

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 5

Fragmen 7
Street Without a Sign

Sore telah datang, menjelang di Kuta yang semakin remang. Sheena pulang, shift nya berakhir sore itu.

Sheena merasakan lengket yang teramat pada kulitnya. Siang tadi memang berasa panas, terlebih lagi dengan kehadiran seorang klien bernama Indira, membuat hari itu semakin panas! Sheena memelorotkan celana jeans ketatnya, mengambil handuk dan melenggang santai di lorong kost-kostan, hanya dengan tank top putih dan celana boxer pendek. Tank top itu sudah membasah oleh keringat sehingga menapakan lekuk tubunya dan BH-nya yang berwarna hitam

Beberapa Beach Boys yang ngekost di sana bersuit. Sheena mengacungkan jari tengahnya dengan cuek.

Sebutkan nama hotel dan klub besar di bilangan kuta dan sekitarnya, Hard Rock, Double Six, Kama Sutra, yang semuanya memancarkan kemilau sinar dan gempita suara yang memekakkan. Dan juga outlet-outlet brand surfing yang berlomba-lomba memajang banner potongan harga.

Siapa sangka, di balik deretan pub dan artshop tersembunyi sebuah labirin, jalan-jalan kecil yang tak diberi tanda, karena memang tak ada gunanya menamai gang-gang kecil seperti itu. Di sana berjejal kontrakan-kontrakan, dan kost-kostan sempit bagi insan penggerak segala gempita di atasnya. Termasuk Sheena, dan para Beach Boys itu.

Sebuah kontradiksi.

Di dalam sebuah kamar mandi berlumut, Sheena melucuti bajunya. Ia memandangi tubuhnya yang terpantul di atas cermin berkerak.

Sebuah tubuh yang penuh kontradiksi.

Sheena memandangi tubuhnya lagi. Sepasang payudara bundar berdiri kokoh di bawah bahunya yang bidang. Lengannya yang terlatih ditutupi tatoo bergambar naga, dari punggung tangan sampai pundak. Sheena tersenyum puas melihat tatoo yang dilukisnya sendiri. Ada 3 tulisan yang tampak mencolok.

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 3

Fragmen 4
Selam

Hanyalah sesosok pohon beringin yang berdiri angkuh seperti seorang raksasa hijau di sekian sisa aroma kematian. Daunnya demikian merimbun, bertumpuk-tumpuk menghalangi jatuh cahaya ke puluhan orang yang berlalu di bawahnya. Ava berjalan dengan takut-takut, menghindari akar gantung yang menjuntai ke sampai tanah. Pohon Beringin itu nampak benar-benar wingit, apalagi dengan kain kotak-kotak hitam-putih yang dilingkarkan di sekelilingnya.

Pagi itu hari Minggu, Galeri Pakde tentu tidak buka di hari Minggu. Makanya Ava dan kadek menyanggupi unruk menggantikan Pakde kerja bakti membersihkan Pura Dalem, yakni Pura yang terletak di sekitar areal pekuburan.

Pekuburan itu tanpa nyaris tanpa nisan, karena prosesi pemakaman di sini mengharuskan jenazah si Mati di lebur dalam api -pralina- dilebur oleh Sang Siwa, sehingga menyisakan bade-wadah mayat-, dan pelepah pisang yang tak habis terbakar, dibiarkan teronggok begitu saja di antara rerumputan yang meninggi. Ava sedikit bergidik melihat karangan kembang kertas yang sudah mengering terkelupas di dekat kakinya, menebarkan sisa murung kematian ke seantero Setra.

Ava menebas rerumputan itu dengan arit, bersama puluhan warga lain. Jelas sekali Ava tampak ragu-ragu membaurkan diri. Ava takut kejadian seperti Indira terulang lagi, apalagi dengan nama dan penampilan brewoknya.

“Oh murid Pak De nggih?” kata Seorang bapak-bapak yang mengenakan kaos partai sambil tersenyum.

Namun Ava keliru, ternyata para warga di sini sangat ramah.

“Nggih” jawab Ava, karena dia tahu inggih di sini dan di Jawa tidak berarti berbeda.

“Gus nak Selam?” kata seorang lagi yang agak botak.

Ava menoleh ke Kadek –tidak mengerti artinya, Kadek menjelaskan maksudnya “Adik agama Islam?”

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 2

Fragmen 3

Ufuk timur sudah benderang ketika Ava terbangun enggan dari tidurnya. Udara masih dingin, dan kabut melayang tipis di atas sawah. Ava menuruni tangga kayu di depan kamarnya dengan malas, sambil merenggangkan tubuh.

Sepasang mata Ava tertuju pada pura kecil di pojok belakang rumah. Di sampingnya berdiri pohon Kamboja. Dahannya menjuntai ke udara serupa tangan seorang Pandhita Ratu, menebarkan taksu ke sekujur bangunan batu bata merah di bawahnya. Ava melihat Kadek sedang memegang dupa di sana. Asapnya membumbung ke udara menimbulkan harum yang melambung di paru-parunya.

“Beh, jam segini baru bangun..” kata Kadek saat selesai berdoa, di dahinya menempel beras putih.
“Hehehe..” Ava menggaruk-garuk kepala. Waktu kuliah, Ava memang biasa bangun jam segini.

“Besok dah senin, jam 7 pagi kita harus sudah ada di galeri..”
“Siap, kakak seperguruan.”
“Haha..” kadek tertawa.

Di sudut lain, sebuah gerbang batu berdiri dengan misterius, ditutupi tanaman keladi yang rimbun.

“Eh Dek, itu pintu kemana?”
“Tuh ke sungai bawah..”
“Oh, bisa buat mandi juga?”
“Bisa.”
“Kok kemarin gak mandi di sana ja?”
“Gak seru mandi sendiri, seru itu rame-rame.”

Ada perbedaan paradigma antara Ava dengan Kadek. Outdoor nudity itu memang adiktif, namun tetap saja Ava belum bisa nyaman dengan communal nudity.

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 1

Fragmen 1
The Dream Painter
-Ava-

Hanyalah pemadangan sawah bertingkat-tingkat yang indah, dan deru skuter tua yang seperti tak mau lagi hidup menyusur di tengahnya. Matahari bersinar tinggi di langit biru yang tanpa awan, menyisakan silau di balik kacamata hitam Ava yang bundar besar.

Skuter yang ditumpangi Ava berjalan perlahan melewati jalan kecil berkelok di tengah persawahan, mereka sedikit melambat saat melewati sekumpulan orang berpakaian hitam-hitam di jalan itu.

“Bli, Bli Kadek, ada apa ini ramai-ramai?” Ava menepuk pundak Kadek yang duduk di depannya.

Kadek namanya, ia adalah kakak kelas Ava waktu kuliah di Institut Seni di Jogja. Kadek ini pula yang menawari Ava pekerjaan di tempat seorang Seniman terkenal di Kampungnya, setelah Ava lulus bulan lalu.

“Oh, ini ada pengabenan” Bli Kadek itu menyahut tanpa menoleh.

Kadek menganggukkan kepala kepada orang-orang itu, sekedar sopan santun saat melewati rombongan mereka. Aroma dupa dan alunan tetabuhan yang terdengar asing membuat bulu kuduk Ava merinding. Ava melirik ke arah patung lembu hitam yang diusung dan orang-orang berjalan dengan wajah murung.

Sebuah upacara pemakaman.

Ava menghela nafas, dadanya dipenuhi dengan rasa takut yang purba. Skuter mereka menjauhi rombongan itu.

Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di sebuah villa yang indah. Villa itu terletak di pinggir jurang yang menjorok ke sungai. Skuter mereka melewati candi bentar berukir, dan memasuki halaman yang dipenuhi oleh tanaman tropis yang eksotis.

Read more