Liany: Sex In The Mall

Sore itu Liani sedang duduk ngobrol dengan tiga teman ceweknya di dalam sebuah mal. Mereka sedang asyik-asyiknya ngobrol dan saling bercanda sambil memesan minuman dan makanan ringan. Saat itu mereka semua masih memakai pakaian seragam tapi bukan seragam putih abu-abu biasa, namun seragam dengan corak seperti batik untuk bajunya. Memang sekolahnya ini punya dua jenis seragam, seragam biasa dan seragam ini.Di hari-hari tertentu seragam inilah yang digunakan. Saat mereka sedang seru-serunya bercandaan, ada seorang cowok yang sedang memandangi empat anak cewek yang cakep-cakep itu dengan tampang mupeng. Cowok ini adalah anak smu juga tapi beda sekolah dengan Liani. Cowok ini memang sering datang ke mal itu, kadang sendirian kadang bareng teman-temannya. Mereka adalah cowok-cowok berandalan yang datang ke mal dengan dua tujuan. Kalau nggak cuci mata dan godain cewek-cewek terutama cewek-cewek smu yang putih dan cakep-cakep itu, ya memalak anak-anak sd atau smp yang main game di dekat bioskop. Hari ini kebetulan ia lagi sendirian.

Saat itu empat cewek itu tetap asyik ngobrol tanpa sadar ada cowok yang menatap mupeng ke arah mereka. Semuanya cakep-cakep dan putih-putih. Namun diantara keempatnya, cowok itu paling sering memandangi Liani. Karena memang Liani yang paling cakep diantara mereka berempat. Apalagi posisi Liani saat itu sungguh pas menghadap ke arahnya. Namun yang bikin cowok itu makin mupeng dengan Liani, saat itu posisi duduk cewek itu agak serampangan. Kedua kakinya agak terbuka dan roknya sedikit tertarik ke atas sehingga cowok itu bisa melihat paha putih Liani yang terbuka, apalagi posisi cowok itu sungguh strategis. Liani seperti tak menyadari sedari tadi ada cowok yang memperhatikan pahanya. Ia tetap tidak mengubah posisi duduknya itu. Sehingga cowok itu sungguh beruntung bisa memandangi paha Liani yang sungguh putih mulus itu selama beberapa saat lamanya. Matanya berpindah-pindah antara wajah yang polos tapi cantik itu dan pahanya yang terbuka. Namun itu masih belum apa-apa. Setelah itu, Liani becanda agak kelewatan dengan salah satu temannya. Sampai temannya itu ingin mencubit dirinya.

Tentu ia tak ingin dicubit begitu saja dan berusaha menghindar. Saat ia berusaha menghindari cubitan itu, tanpa sadar ia membuka kakinya terlalu lebar sampai celana dalamnya kelihatan dari sudut pandang cowok itu. Apalagi cd yang dipakainya saat itu warna hitam, yang mana sungguh kontras dengan kulitnya yang putih. Tentu cowok itu jadi melongo dibuatnya saat mendapat rejeki nomplok itu. Mimpi apa semalam bisa ngeliat celana dalam cewek smu yang cakep dan putih itu. Dan itu terjadi nggak hanya sekali tapi ada tiga atau empat kali. Akibatnya cowok itu kini jadi mupeng abis dengan Liani! Beberapa saat kemudian, bubarlah mereka berempat dari kumpul-kumpul itu. Namun saat itu Liani tidak langsung pulang. Ia ingin melihat-lihat pakaian dulu. Saat itulah ia berjalan melewati cowok itu yang berdiri di dekatnya. Langsung saja mata cowok itu jelalatan menatap diri Liani dari atas ke bawah. Terutama dada cewek itu yang menonjol di balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi tak ada yang kelihatan tembus pandang.

Namun tetap menarik untuk dilihat karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan padat berisi. Saat itu Liani lagi dalam keadaan rasa isengnya muncul, sehingga dilabraknya cowok itu. Memang Liani adalah cewek yang agak aneh. Disaat cewek lain takut, ia malah berani. “Hey! Ngapain lu liat-liat gua terus? Lagi mupeng ya?” Namun kini ia kena batunya, karena cowok itu malah menantang balik, “Kalo memang iya kenapa?” “Enak aja mupengin orang sembarangan. Terus sekarang maunya apa?” “Maunya apa? ML yuk!” Rupanya saat itu Liani lagi kambuh penyakit isengnya, sehingga omongan usil orang itu malah ditanggapi dengan tak kalah badungnya. “Sekarang berani nggak? Di toilet,” katanya. “Boleh. Ayo sekarang! Kebetulan gua udah mupeng abis sama elo.” “Ayo ikut gua kalo berani. Jangan cuman ngomong doang,” kata Liani meninggalkan cowok itu dan berjalan menuju ke toilet cewek. Dan cowok itu, entah karena sama gilanya atau sudah kadung mupeng abis dengan Liani, omongan cewek itu ditanggapi beneran. Ia berjalan mengikutinya.

Read more

Abege di Mall

Malem sabtu kemaren aku iseng ja browsing ke mal. Karena dah laper, aku menuju salah satu resto yang ada di mal. Didepan resto itu pandanganku tertuju pada seorang abege, amoy lagi, sedang membungkuk di pegangan pinggir lantai, memandang ke bawah. Dia pake t shirt ketat dan celana pendek saja. Dari samping gak keliatan toketnya besar gak, tapi pahanya mulus banget, putih lagi, maklum deh amoy. aku tertarik untuk mendekati. Aku ikutan membungkuk di dipegangan itu, “ngeliatin apa si”. Dia menoleh, woo cantik nian, matanya sipit, hidungnya mancung dan bibirnya mungil memberikan senyum manisnya kepada aq. “Nunggu temen, om”. “Mangnya janjian ya”. “Iya katanya mo nonton, tapi dah jam segini gak nongol juga, kesel deh Memey”. “O namanya Memey toh, kenalin”, kataku memperkanalkan diri sambil mengulurkan tangan. Dia menjabat tanganku. “Iya om, aku Memey”. Tangannya tak kulepaskan malah dengan jari telunjukku kukilik telapak tangannya yang sedang kujabat itu. “Ih, si om iseng deh”, katanya sambil tetap tersenyum. Karena dia menghadap ke aku, aku bisa melihat bentuk toketnya, masih imut, mungkin umurnya masi muda. “Sekolahnya kelas berapa”. “Kelas 1 om”. “Wah abege banget. Dah temennya gak dateng kali, ikutan makan yuk, aku laper nih”, kataku sambil menggandeng tangannya menuju ke resto. Dia ngikut aja. Sambil makan, dia kuguyoni. “Nunggu temen cowok ya”. enggak kok om, cewek”. “Kok nonton ma cewek, mana asik?” “Kan cuma mo nonton om, mangnya di bioskop mo ngapain pake asik segala”. “Ya nonton sembari….”, kataku sambil memutuskan ucapanku, aku pengen liat reaksinya gimana. “Sembari apaan om”, aku berhasil membuatnya penasaran. “Sembari ngapain ya kalo dibioskop”. “Ya nonton lah om, emangnya om kalo nonton sembari ngapain”. “Tergantung temen nontonnya”. “Kok tergantung temen nonton, kan ke bioskop mo liat filmnya”. “Iya, tapi kalo ditemeni abege secantik Memey, jadi gak merhatiin filmnya deh”. “abis merhatiin apa?” “Ya merhatiin kamu lah, abis kamu cantik banget”. “Ih om gombal deh, Memey biasa aja kok”. “Temen kamu gak dateng, trus nonton ma aku mau gak?” “Tapi nonton ya om, gak yang lain”. “Tapi nontonnya ditempatku”. “Kok ditempat om”. “Biar private nontonnya, berdua aja, mau gak”. “Mangnya mo ngapain om berdua aja”. “Ya bisa sembari ngobrol, makan minum”. “Kan sekarang dah makan minum, mangnya om masi laper”. “Ya enggak makan berat kaya gini, makanan ringan lah”. “Kapuk kali ringan”. “Mau gak nonton ditempatku”. “Mangnya om punya film apa?” “Filmnya asik lah pokoknya, mau ya”. “Rumah om jauh gak?” “Napa, besok kan libur skolah kan, pulang maleman gak apa kan, ato pulang pagi aja sekalian biar gak masuk angin”. “Maunya, ntar gak masuk angin tapi kemasukan yang laen lagi”. “Mangnya perna kemasukan yang laen?” Dia diem aja. “Ma cowoknya ya”. “Gak tau ah, om kok nanya gituan sih”. “Kan tadi kamu yang bilang kemasukan yang laen. dah pernah ya kemasukan yang laen, nikmat kan?” Dia diem aja lagi. “Nikmat kan kalo kemasukan”. “Gak tau ah”. Aku membayar makanannya dan mengajaknya keluar resto. “Ketempatku ya”. “Tapi jangan dimsukin ya om”. “Napa, kan enak kalo dimasukin”. “ak ah, takut”. “Udah pernah aja kok takut si”. “Sok tau, kata siapa Mey-Mey dah perna kemasukan”. “Ya nebak aja, udah pernah kan, kayanya si udah”. “Gak tau ah”. Aku menggandengnya ke baemnet menuju ke mobilku. Dia tidak menolak waktu kuajak masuk mobil, kemudian mobil meluncur meninggalkan basement mal menju ke apartmenku. “Kok ke apartmen? Om tinggak disini ya”. “Iyalah”. Dari basement apartment, dia kugandeng ke lift dan lift meluncur menuju lantai 35. Dia nurut saja ketika kugandeng keluar lift menuju ke apartmentku.

Read more