Mahasiswi Baru (MABA) Lagi Ngisep Kontol

Nah ini sekarang kan masa penerimaan mahasiswi baru (MABA). Mahasiswi yang satu ini adalah calon ayam kampus hehehe baru mau jadi mahasiswi aja dah mulai deh isep-isep alias sepong kontol wuihhh… tapi enak gila isepannya kayak disedot vacum cleaner tapi bulu memeknya lebat gilaaaaaaaaaa… 😛

Read more

Schoolgirl’s Diary 4: Doni, The Spy Among Us

Seorang gadis tampak gelisah, berkali-kali ia menekan tombol play kemudian stop di Mp4 player mungil yang baru saja ia dapatkan, entah siapa yang menaruh Mp4 itu di tasnya,

“Nggak.., mungkin…, dari mana mereka mendapatkan ini ?” berkali-kali gadis itu memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, dunia terasa berputar dengan lebih cepat

Sebuah Sms masuk ke Hp di tangannya, wajahnya memerah membaca kata-kata mesum dilayar HPnya.

Gadis itu mebalas SMS itu “Siapa ini ? Jangan kurang ajar ya..!! “

Gadis itu menengokkan kepalanya pada langkah-langkah kaki yang menghampirinya.

“ahhh..! ” Seorang gadis yang baru datang berseru terkejut ketika melihat tayangan MP4 ditangan temannya.

********************

Beberapa minggu yang lalu sebelum gadis itu menerima Mp4 gratis.

“Anita !”

“Veily!”

Anita dan Veily berlari kecil saling menghampiri, kedua gadis itu saling bergandengan tangan seolah-olah tidak ada yang dapat memisahkan mereka berdua.

“kamu mau minum apa? Veily sayang…” Anita berbisik nakal di telinga Veily.

“Mau nyusu di dada kamu boleh?” Veily membalas berbisik pelan di telinga Anita, Anita hanya tertawa sambil meremas tangan temannya itu.

Kedua gadis itu menunggu dengan sabar di depan pintu lift, tidak berapa lama pintu lift itu terbuka, beberapa orang keluar dari dalam lift sampai lift itu kosong, kedua gadis itu bergandengan tangan masuk kedalam lift. Dengan lembut tangan Veily mengusap peluh di kening Anita dengan tissue.

“Kamu ini.., coba kalau tadi aku jemput…,nggak akan keringatan gini..,”Veily bersungut-sungut, dikecupnya pipi Anita “Cuphhh”

“Yeee, kalo kamu musti jemput aku kan jalannya harus muter dulu…, jauh, tar cape” Anita tersenyum menatap Veily.

“cape gimana ? Kan aku naik mobil, lagian aku rela koq.., demi kamu…” Veily mengusap kemudian meremas lembut pinggul Anita. Veily buru-buru menarik tangannya ketika pintu lift terbuka, Anita tersenyum kecil kemudian mendahului Veily keluar dari dalam lift.

“Kita ketoilet dulu ya…” Veily menarik tangan Anita yang membalas dengan menganggukan kepalanya, wajah Anita memerah, ia tahu dengan jelas apa yang diinginkan oleh Veily.

Veily pura-pura mencuci tangan, berkali-kali dengan tidak sabaran Veily menengok ke arah Anita kemudian menengok ke arah seorang wanita setengah baya yang sedang membenahi make-upnya, akhirnya si wanita setengah baya melangkah keluar.

“Ehhhhhhhhh….! ” hanya suara itu yang keluar dari mulut Anita ketika merasakan pinggulnya ditarik dan diseret oleh seseorang, salah-satu pintu ruangan itu tertutup dengan rapat.

Veily mengecup lembut bibir Anita, bibirnya melekat kemudian memangutnya dengan lembut. Tubuh Anita merinding, kedua lututnya terasa goyah ketika Veily memangut-mangut bibirnya dengan lembut. Veily menjilati sudut bibir Anita sebelum kembali melumatnya. Nafas Anita berhembusan bercampur dengan nafas Veily yang memburu.

“AHhhhsssh…… ” Anita mendesah ketika ketika Veily berhenti melumat bibirnya, dada Anita bergerak seirama dengan helaan nafasnya,Veily berbisik di telinga Anita, entah Apa yang dibisikkan oleh Veily, Anita menggelengkan kepalanya sambil berkata “Jangan Ahhh…”, Anita menolak keinginan Veily.

Veily terus merengek memaksakan keinginannya, setelah menghela nafas panjang Akhirnya Anita meluluskan keinginan Veily, ada rasa cemas yang menggedor-gedor dadanya, ada sedikit rasa penasaran, namun juga ada rasa takut untuk melakukan sesuatu hal yang baru.

Read more

Andani Citra: Demi Sebuah Absen

Kisahku yang satu ini terjadi sudah agak lama, tepatnya pada akhir semester 3, dua tahun yang lalu. Waktu itu adalah saat-saat menjelang UAS. Seperti biasa, seminggu sebelum UAS nama-nama mahasiswa yang tidak diperbolehkan ikut ujian karena berbagai sebab seperti over absen, telat pembayaran, dan sebagainya tertera di papan pengumuman di depan TU fakultas. Hari itu aku dibuat shock dengan tercantumnya namaku di daftar cekal salah satu mata kuliah penting, 3 SKS pula. Aku sangat bingung di sana tertulis absenku sudah empat kali, melebihi batas maksimum tiga kali, apakah aku salah menghitung, padahal di agendaku setiap absenku kucatat dengan jelas aku hanya tiga kali absen di mata kuliah itu. Akupun complain masalah ini dengan dosen yang bersangkutan yaitu Pak Qadar, seorang dosen yang cukup senior di kampusku, dia berumur pertengahan 40-an, berkacamata dan sedikit beruban, tubuhnya pendek kalau dibanding denganku hanya sampai sedagu. Diajar olehnya memang enak dan mengerti namun dia agak cunihin, karena suka cari-cari kesempatan untuk mencolek atau bercanda dengan mahasiswi yang cantik pada jam kuliahnya termasuk juga aku pernah menjadi korban kecunihinannya.

Karena sudah senior dan menjabat kepala jurusan, dia diberi ruangan seluas 5×5 meter bersama dengan Bu Hany yang juga dosen senior merangkap wakil kepala jurusan. Kuketuk pintunya yang terbuka setelah seorang mahasiswa yang sedang bicara padanya pamitan. “Siang Pak!” sapaku dengan senyum dipaksa. “Siang, ada perlu apa?” “Ini Pak, saya mau tanya tentang absen saya, kok bisa lebih padahal di catatan saya cuma tiga..,” demikian kujelaskan panjang lebar dan dia mengangguk-anggukkan kepala mendengarnya. Beberapa menit dia meninggalkanku untuk ke TU melihat daftar absen lalu kembali lagi dengan map absen di tangannya. Ternyata setelah usut punya usut, aku tertinggal satu jadwal kuliah tambahan dan cerobohnya aku juga lupa mencatatnya di agendaku. Dengan memohon belas kasihan aku memelas padanya supaya ada keringanan. “Aduhh.. Tolong dong Pak, soalnya nggak ada yang memberitahu saya tentang yang tambahan itu, jadi saya juga nggak tahu Pak, bukan salah saya semua dong Pak.” “Tapi kan Dik, anda sendiri harusnya tahu kalau absen yang tiga sebelumnya anda bolos bukan karena sakit atau apa kan, seharusnya untuk berjaga-jaga anda tidak absen sebanyak itu dong dulu.”

Beberapa saat aku tawar menawar dengannya namun ujung-ujungnya tetap harga mati, yaitu aku tetap tidak boleh ujian dengan kata lain aku tidak lulus di mata kuliah tersebut. Kata-kata terakhirnya sebelum aku pamit hanyalah, “Ya sudahlah Dik, sebaiknya anda ambil hikmahnya kejadian ini supaya memacu anda lebih rajin di kemudian hari” dengan meletakkan tangannya di bahuku. Dengan lemas dan pucat aku melangkah keluar dari situ dan hampir bertabrakan dengan Bu Hany yang menuju ke ruangan itu. Dalam perjalanan pulang di mobilpun pikiranku masih kalut sampai mobil di belakangku mengklaksonku karena tidak memperhatikan lampu sudah hijau. Hari itu aku habis 5 batang rokok, padahal sebelumnya jarang sekali aku mengisapnya. Aku sudah susah-susah belajar dan mengerjakan tugas untuk mata kuliah ini, juga nilai UTS-ku 8, 8, tapi semuanya sia-sia hanya karena ceroboh sedikit, yang ada sekarang hanyalah jengkel dan sesal. Sambil tiduran aku memindah-mindahkan chanel parabola dengan remote, hingga sampailah aku pada channel TV dari Taiwan yang kebetulan sedang menayangkan film semi. Terlintas di pikiranku sebuah cara gila, mengapa aku tidak memanfaatkan sifat cunihinnya itu untuk menggodanya, aku sendiri kan penggemar seks bebas. Cuma cara ini cukup besar taruhannya kalau tidak kena malah aku yang malu, tapi biarlah tidak ada salahnya mencoba, gagal ya gagal, begitu pikirku. Aku memikirkan rencana untuk menggodanya dan menetapkan waktunya, yaitu sore jam 5 lebih, biasanya jam itu kampus mulai sepi dan dosen-dosen lain sudah pulang. Aku cuma berharap saat itu Bu Hany sudah pulang, kalau tidak rencana ini bisa tertunda atau mungkin gagal.

Keesokan harinya aku mulai menjalankan rencanaku dengan berdebar-debar. Kupakai pakaianku yang seksi berupa sebuah baju tanpa lengan berwarna biru dipadu dengan rok putih menggantung beberapa senti diatas lutut, gilanya adalah dibalik semua itu aku tidak memakai bra maupun celana dalam. Tegang juga rasanya baru pertama kalinya aku keluar rumah tanpa pakaian dalam sama sekali, seperti ada perasaan aneh mengalir dalam diriku. Birahiku naik membayangkan yang tidak-tidak, terlebih hembusan AC di mobil semakin membuatku bergairah, udara dingin berhembus menggelikitik kemaluanku yang tidak tertutup apa-apa. Karena agak macet, aku baru tiba di kampus jam setengah enam, kuharap Pak Qadar masih di kantornya. Kampus sudah sepi saat itu karena saat menjelang ujian banyak kelas sudah libur, kalaupun masuk paling cuma untuk pemantapan atau kuis saja. Aku naik lift ke tingkat tiga. Seorang karyawan dan dua mahasiswa yang selift denganku mencuri-curi pandang ke arahku, suatu hal yang biasa kualami karena aku sering berpakaian seksi cuma kali ini bedanya aku tidak pakai apa-apa di baliknya. Entah bagaimana reaksi mereka kalau tahu ada seorang gadis di tengah mereka tidak berpakaian dalam, untungnya pakaianku tidak terlalu ketat sehingga lekukan tubuhku tidak terjiplak. Akupun sampai ke ruang dia di sebelah lab. Bahasa dan kulihat lampunya masih nyala. Kuharap Bu Hany sudah pulang kalau tidak sia-sialah semuanya. Jantungku berdetak lebih kencang saat kuketuk pintunya.

Read more