P.A.R.A.D.I.S.O Part 4

“Mmhhh h.. h… h.” Indira mengeram, nafasnya mulai memburu.

“Oooh… pelan.. pelan..” Indira menahan nafas, wajahnya tampak menegang.

Dress putih yang dikenakan sudah terangkat sampai ke perut, menampakkan lekuk tubuhnya yang putih mulus. G-string yang tadi dikenakannya sudah tercampak di lantai, meninggalkan indah tubuh bawah yang telanjang.

Perut, pinggulnya yang ranum tampak demikian menggoda, dan jangan lupa: bukit kecil di bawah perutnya yang tanpa bulu, mulus halus seperti seorang bayi, membuat siapapun yang melihat pasti meneteskan air liur.

“Oooh! Sakit.. ooh! Oo.. huk..huk.” Setetes air melintas di pipinya yang merona merah, mengiringi Indira yang mulai merintih. Namun yang diajak bicara seperti tidak peduli, ia terus menghujam, membuat Indira meregang-regang di atas kursi sambil terus mengerang. Nafasnya sudah begitu memburu, dan Keringat membasahi wajahnya yang bersemu merah, sehingga membuatnya bertambah seksi.

“Mmmmh.. oooh…” matanya memejam sambil menggigit bibir bawahnya. Pinggulnya bergerak-gerak liar.

“Oooooh! Ooooh!” Indira melolong panjang ke udara.

“Ya ampun, kalau gerak-gerak gini, kapan selesai tatoonya? Ditahan dikit sakitnya napa?” Omel si seniman tatoo.

Fragmen 6
The Pain Carver
-Sheena-

40 Menit yang lalu.

Seorang wanita muda duduk santai sambil menaikkan kakinya ke atas meja. Ia menghisap sebatang rokok sambil memandangi tatoo yang baru saja diguratnya di punggung tangannya sendiri: “Paradiso”, melengkapi dua kata yang ditulis terlebih dulu “Inferno” dan “Purgatorio” dalam rangkaian gambar yang membentuk naga dari pundak – memenuhi lengan kirinya.

Tubuh wanita itu dibalut oleh tank-top putih ketat dan skinny jeans belel. Rambutnya dipotong pendek seperti Demi Moore dulu, dan sepasang kacamata hitam bundar besar-model retro- yang bertengger di wajahnya melengkapi sebentuk kecantikan dan keseksian yang demikian liar.

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 7

Fragmen 12
Katarsis

Bumi berputar menggantikan malam muram di Crossing Fate menjadi benderang pagi yang mulai mewarnai hitam langit dalam gradasi yang menawan. Hamparan persawahan di sekitar rumah Pak De masih tertutup halimun tipis, namun beberapa petani sudah berjalan menyusuri pematang bersiap untuk mengatur pembagian air irigasi.

Nasib mempertemukan Ava, Indira, dan Sheena dalam takdir yang saling bersilangan. Namun, itu semua hanyalah mula, hanya awal dari sekian teka-teki, dari sebuah perjalanan panjang menuju akhir bahagia.

Pagi itu Pak De sedang duduk di teras rumah menikmati segelas kopi hitam hangat dan pisang goreng dengan asap yang masih mengepul. Indira duduk di sampingnya, bidadari itu kini sudah mengenakan seragam putih-abu yang rapi, rambut kecoklatannya diikat kebelakang, menampakkan keanggunan yang demikian terpelajar. Indira meletakkan tangannya di atas punggung tangan Pak De.

Pak De tersenyum tipis, sebelum membelai rambut Indira lembut. Indira menyandarkan kepalanya di pundak Pak De, membiarkan ayahnya mendekapnya. Sebuah dekapan yang lama tidak Indira rasakan.
Mereka mencoba menemukan kembali kehangatan yang lama hilang. Kehangatan yang memudar sejak peristiwa 10 tahun yang lalu yang merenggut orang-orang yang mereka cintai.

“Dira berangkat dulu, Jik” kata Indira sambil mencium tangan Ayahnya.
“Oh Iya, sekalian kamu antar si Ava sampai galeri, Kadek mau Ajik suruh beli cat di Denpasar.”

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 6

Fragmen 9
The Crossing Fate

Di sebuah jalan sempit bernama Poppies II, Kuta. Suatu jalan sempit yang dipenuhi oleh pub, bar, motel, penjual souvenir, dan wisatawan yang lalu lalang menikmati gemerlap dunia malam pulau dewata. Suatu jalan yang diabadikan menjadi judul lagu oleh Slank dan Superman Is Dead.

Di salah satu sudutnya, terdapat Pub dengan tulisan “Crossing Fate” dari neon yang berpendar temaram, seperti enggan hidup. Dari dalamnya menghentak irama musik yang rancak. Seorang bule yang mengenakan singlet bir bintang dan kacamata oakley palsu memasukinya, telinganya agak pengang mendengar Suara distorsi yang menghentak ke seluruh penjuru ruangan yang remang-remang. Asap rokok dan aroma alkohol memenuhi pengap udara. Sementara lantai kotak-kotak hitam putih seperti papan catur,dipenuhi bule-bule lain yang berjoget dan moshing mengikuti alunan musik Punk-Rockabilly yang dimainkan.

Lagu Cover version The Ramones memantul ke dinding yang berwarna merah-hitam, dan atap beton yang tidak di plester.

Seorang Pemain Bass penuh tatoo, mengenakan celana ketat dan singlet ketat, dengan jambul seperti Elvis asyik memainkan bas betot putih berukuran besar, yang ditempeli stiker heart-spade-clover-diamond, seperti kartu remi . Kadang ia beratraksi dengan berdiri menaiki bass betotnya itu, sehingga memancing riuh tepuk tangan para hadirin.

Di belakang, sang drummer yang mengenakan topi koboi, memandu ritme sambil berdiri memainkan set drum, yang hanya terdiri dari bas drum, hi-hat, dan snare, tanpa tom-tom, tanpa symbal.

Sementara sang Vokalis- Sheena mengenakan Skinny Jeans, dan T-Shirt hitam ketat bertuliskan “ElectroHell” dibalut jaket kulit hitam. Ia asyik bernyanyi sambil memainkan gitar Grestch White Falcon yang berwarna putih (jelas dong, namanya saja White Falcon). Kakinya bergerak-gerak asyik ke sana kemari. Suaranya merdu tapi melengking parau sekilas mirip suara Karen-O vokalis Yeah Yeah Yeahs.

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 5

Fragmen 7
Street Without a Sign

Sore telah datang, menjelang di Kuta yang semakin remang. Sheena pulang, shift nya berakhir sore itu.

Sheena merasakan lengket yang teramat pada kulitnya. Siang tadi memang berasa panas, terlebih lagi dengan kehadiran seorang klien bernama Indira, membuat hari itu semakin panas! Sheena memelorotkan celana jeans ketatnya, mengambil handuk dan melenggang santai di lorong kost-kostan, hanya dengan tank top putih dan celana boxer pendek. Tank top itu sudah membasah oleh keringat sehingga menapakan lekuk tubunya dan BH-nya yang berwarna hitam

Beberapa Beach Boys yang ngekost di sana bersuit. Sheena mengacungkan jari tengahnya dengan cuek.

Sebutkan nama hotel dan klub besar di bilangan kuta dan sekitarnya, Hard Rock, Double Six, Kama Sutra, yang semuanya memancarkan kemilau sinar dan gempita suara yang memekakkan. Dan juga outlet-outlet brand surfing yang berlomba-lomba memajang banner potongan harga.

Siapa sangka, di balik deretan pub dan artshop tersembunyi sebuah labirin, jalan-jalan kecil yang tak diberi tanda, karena memang tak ada gunanya menamai gang-gang kecil seperti itu. Di sana berjejal kontrakan-kontrakan, dan kost-kostan sempit bagi insan penggerak segala gempita di atasnya. Termasuk Sheena, dan para Beach Boys itu.

Sebuah kontradiksi.

Di dalam sebuah kamar mandi berlumut, Sheena melucuti bajunya. Ia memandangi tubuhnya yang terpantul di atas cermin berkerak.

Sebuah tubuh yang penuh kontradiksi.

Sheena memandangi tubuhnya lagi. Sepasang payudara bundar berdiri kokoh di bawah bahunya yang bidang. Lengannya yang terlatih ditutupi tatoo bergambar naga, dari punggung tangan sampai pundak. Sheena tersenyum puas melihat tatoo yang dilukisnya sendiri. Ada 3 tulisan yang tampak mencolok.

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 3

Fragmen 4
Selam

Hanyalah sesosok pohon beringin yang berdiri angkuh seperti seorang raksasa hijau di sekian sisa aroma kematian. Daunnya demikian merimbun, bertumpuk-tumpuk menghalangi jatuh cahaya ke puluhan orang yang berlalu di bawahnya. Ava berjalan dengan takut-takut, menghindari akar gantung yang menjuntai ke sampai tanah. Pohon Beringin itu nampak benar-benar wingit, apalagi dengan kain kotak-kotak hitam-putih yang dilingkarkan di sekelilingnya.

Pagi itu hari Minggu, Galeri Pakde tentu tidak buka di hari Minggu. Makanya Ava dan kadek menyanggupi unruk menggantikan Pakde kerja bakti membersihkan Pura Dalem, yakni Pura yang terletak di sekitar areal pekuburan.

Pekuburan itu tanpa nyaris tanpa nisan, karena prosesi pemakaman di sini mengharuskan jenazah si Mati di lebur dalam api -pralina- dilebur oleh Sang Siwa, sehingga menyisakan bade-wadah mayat-, dan pelepah pisang yang tak habis terbakar, dibiarkan teronggok begitu saja di antara rerumputan yang meninggi. Ava sedikit bergidik melihat karangan kembang kertas yang sudah mengering terkelupas di dekat kakinya, menebarkan sisa murung kematian ke seantero Setra.

Ava menebas rerumputan itu dengan arit, bersama puluhan warga lain. Jelas sekali Ava tampak ragu-ragu membaurkan diri. Ava takut kejadian seperti Indira terulang lagi, apalagi dengan nama dan penampilan brewoknya.

“Oh murid Pak De nggih?” kata Seorang bapak-bapak yang mengenakan kaos partai sambil tersenyum.

Namun Ava keliru, ternyata para warga di sini sangat ramah.

“Nggih” jawab Ava, karena dia tahu inggih di sini dan di Jawa tidak berarti berbeda.

“Gus nak Selam?” kata seorang lagi yang agak botak.

Ava menoleh ke Kadek –tidak mengerti artinya, Kadek menjelaskan maksudnya “Adik agama Islam?”

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 1

Fragmen 1
The Dream Painter
-Ava-

Hanyalah pemadangan sawah bertingkat-tingkat yang indah, dan deru skuter tua yang seperti tak mau lagi hidup menyusur di tengahnya. Matahari bersinar tinggi di langit biru yang tanpa awan, menyisakan silau di balik kacamata hitam Ava yang bundar besar.

Skuter yang ditumpangi Ava berjalan perlahan melewati jalan kecil berkelok di tengah persawahan, mereka sedikit melambat saat melewati sekumpulan orang berpakaian hitam-hitam di jalan itu.

“Bli, Bli Kadek, ada apa ini ramai-ramai?” Ava menepuk pundak Kadek yang duduk di depannya.

Kadek namanya, ia adalah kakak kelas Ava waktu kuliah di Institut Seni di Jogja. Kadek ini pula yang menawari Ava pekerjaan di tempat seorang Seniman terkenal di Kampungnya, setelah Ava lulus bulan lalu.

“Oh, ini ada pengabenan” Bli Kadek itu menyahut tanpa menoleh.

Kadek menganggukkan kepala kepada orang-orang itu, sekedar sopan santun saat melewati rombongan mereka. Aroma dupa dan alunan tetabuhan yang terdengar asing membuat bulu kuduk Ava merinding. Ava melirik ke arah patung lembu hitam yang diusung dan orang-orang berjalan dengan wajah murung.

Sebuah upacara pemakaman.

Ava menghela nafas, dadanya dipenuhi dengan rasa takut yang purba. Skuter mereka menjauhi rombongan itu.

Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di sebuah villa yang indah. Villa itu terletak di pinggir jurang yang menjorok ke sungai. Skuter mereka melewati candi bentar berukir, dan memasuki halaman yang dipenuhi oleh tanaman tropis yang eksotis.

Read more