Kisah Eliza 08 : Suka Duka Liburan

Di hari Jumat ini, ketika sudah waktunya pulang sekolah, aku sudah akan berdiri dari kursi ketika Jenny memintaku menunggu sebentar. “El, jangan pulang dulu dong, bentar bentar! Kamu lagi mikirin apa sih El? Gini aku jelaskan lagi ya, besok Senin, Selasa dan Rabu kita kan libur.. yaaa aku tahu memang ada bazar, tapi kita bisa berlibur dulu kan, jadi baru datang hari Selasa dan Rabunya gitu”, Jenny berkata panjang lebar. Aku terbawa oleh sikapnya yang selalu riang itu, dan mendengarkannya sambil tersenyum.

“Gini nih Eliza, aku pinginnya, kita berlibur ke Tretes, tiga hari dua malam saja. Jadi besok sore kita berangkat, terus senin sore baru balik lagi ke Surabaya. Gimana El?”, tanya Jenny. “Memangnya kita mau pergi sendiri berdua Jen?”, aku bertanya heran. “Ya nggak lah El, kamu sih dari tadi nggak dengerin kita ngomong, ngelamun aja.. Lha ini Siany, Bella dan Rini ngumpul sama kita di sini buat apa?”, gerutu Jenny, dan ketiga temanku yang lain itu memandangku dengan cemberut.

Aku baru sadar kalau ada mereka bertiga ini yang sejak tadi ngobrol dengan kami berdua. “Aduh.. sori ya.. jadi, kita berlima ya Jen?”, tanyaku lagi. Jenny mencubit kedua pipiku dengan gemas, “Nih anak memang minta dijitaaak… Sherly juga ikut Eeel!”. Aku mengeluh manja, “Aduh Jen.. iya ampun…”. Kami semua tertawa dalam suasana yang riang. “Hei.. sori telat nih, aku tadi ada perlu bentar di kelas”, Sherly mendadak muncul mendekati kami yang masih duduk duduk di dalam kelas dan menyapa kami semua.

“Sudah lengkap ya semua… Jadi gimana nih? Kita tidur di mana nanti di Tretes? Sudah ada yang membooking vila? Atau kita tidur di hotel Surya?”, tanya Sherly setelah duduk bersama kami. Rini yang pada kelas 1 SMA sekelas denganku, langsung bertanya padaku, “El, langsung aja nggak pakai basa basi, kalau vila kamu dipakai nggak? Kalau nggak dipakai, bisa nggak kita menginap di vilamu?”. Aku agak terkejut mendengar kata kata Rini. “Vilaku…?”, aku mengguman dengan ragu.

“Iya El, kalau di vilamu gimana? Selain Rini, nggak ada yang pernah ke sana lho.. please yaa?”, Sherly menambahkan. “Iya nih El.. itu ide yang bagus kan. Kalau di vila Sherly, kayaknya bakal gak cukup..”, seru Jenny dengan bersemangat, tapi terhenti karena diam diam di bawah meja aku menendang kakinya. Jenny rupanya sadar juga, mengapa aku menendang kakinya. Jenny pasti baru ingat, aku pernah menceritakan padanya kalau aku pernah dikerjain oleh penjaga vilaku, pak Basyir itu.

Rini yang jelas tak tahu apa apa, menceritakan kalau pada perpisahan kelas 1 SMA dulu, semua siswi di kelasku menginap di vilaku, sedangkan yang siswa menginap di vila Andi. Oh.. teringat kepada Andi, aku jadi merenung. Orang yang telah menjatuhkan hatiku sejak di kelas 1 dulu, tapi kini aku berlumuran dosa. Aku tahu, Andi sendiri sebenarnya menaruh hati padaku. Sekarang kami sudah nggak sekelas, tapi Andi sering mencariku, dengan alasan untuk pinjam buku catatanku.

Aku yakin itu cuma alasan, karena aku tahu Andi sendiri adalah anak yang rajin, tak mungkin dia perlu pinjam buku catatanku. Hal ini memang yang membuat aku tadi melamunkan Andi, yang baru saja meminjam buku catatan pelajaran Fisika dariku. Selain itu, Andi sering salah tingkah kalau ada di dekatku, ia tak pernah mampu menatapku lama lama. Oh seandainya saja Andi tau, aku juga suka padanya… tapi kini, aku sudah berlumuran dosa.

“Gimana El?”, pertanyaan Sherly membuyarkan lamunanku. “Oh… itu ya”, aku tergagap, dan memandang sekelilingku. Selain Jenny, mereka semua terlihat berharap untuk menginap di vilaku, dan ini membuatku tak enak untuk menolak. “Ya sudah, aku telepon penjaga vilaku dulu yah, aku suruh siapkan dua kamar untuk kita. Kita tidurnya bertiga bertiga ya?”, kataku sambil mengambil handphoneku dari dalam tas sekolahku, walaupun sebenarnya perasaanku tak karuan. Ini kan sama saja seperti aku menyerahkan diriku kepada pak Basyir?

“Asyiik..”, seru ketiga temanku, sedangkan Jenny tersenyum ragu, sementara Sherly duduk di kursi sebelahku, ia memelukku dan berkata, “Thanks ya Eliza”. Aku agak tersengat, karena aku merasakan payudara Sherly menekan payudaraku, membuat mukaku rasanya panas. “Mmm…”, aku memejamkan mataku, tapi aku langsung sadar aku tak boleh larut oleh perbuatan Sherly ini. “Iya nggak apa apa kok Sher, bentar aku telepon dulu nih”, kataku sambil mencoba melepaskan pelukan Sherly dengan agak panik, masa Sherly memelukku dengan semesra ini di depan teman teman?

Read more