Menggoda Pak Jarot

Pada awalnya aku tidak ingin ibuku menikah lagi dengan Pak Jarot, seorang pengusaha otomotif yang cukup sukses di kotaku. Bukan hanya karena aku masih belum bisa melupakan kepergian ayah kandungku, namun juga karena beliau sudah memiliki dua isteri. Tapi apa boleh buat, terpaksa aku harus menerimanya sebagai ayah tiriku agar dia bisa membiayai kuliahku.

Seperti pepatah jawa bilang, ‘witing tresno jalaran soko kulino’ lambat laun aku bisa merasakan kehadiran Pak Jarot mampu memberikan nuansa tersendiri dalam keluarga kecil kami. Meskipun aku hanya anak tiri, tapi beliau sangat menyayangiku. Jadi tidak adil rasanya kalau aku tidak membalas kebaikan beliau kepadaku. Anehnya, rasa sayangku kepada beliau justru melebihi rasa sayangku kepada ayah kandungku sendiri. Entah kenapa aku menjadi terobsesi terhadap beliau. Pak Jarot seolah menjadi sosok idola bagiku. Bahkan tak jarang aku berhayal seandainya saja beliau adalah kekasihku, bisa mencumbu dan bercinta dengannya. Pikiran kotor itu selalu hinggap manakala aku berhadapan dengannya.

“Ibu nginep di rumah Pak De, ya Pak?” tanyaku pada suatu malam. Kebetulan Pak jarot baru saja pulang mengantarkan ibu ke rumah Pak De yang lagi punya gawe.

“Iya, mungkin lusa baru pulang. Soalnya acaranya ditunda besok malam.” jawab beliau. “Kamu…..,” Pak Jarot tidak melanjutkan kata-katanya. beliau hanya memandangku dengan heran.

Read more