Kisah Si Dukun Cabul Part 3

Mbah melihat dari pipismu tadi, ternyata ilmu gendamnya si Kasno sudah masuk dalam sekali ke dalamnya. Mbah sudah coba sedot sedot tadi, tidak mau keluar juga. Berbahaya sekali Nduk, nanti kalau dibiarkan jadi ngabar (menguap) masuk ke pembuluh darahmu, bisa mati kowe. Mbah harus mencoba cara yang lebih kuat. Agak sakit mungkin Nduk, nggak apa-apa ya?” kataku penuh rasa sayang dan kasihan. Kuelus rambutnya yang sekarang tampak awut-awutan. Dia mengangguk, mengulang lagi kata-katanya yang bego tadi: “inggih Mbah, kulo nderek kemawon..”. Aku mengangguk-angguk: “anak baik. Kasihan sekali kowe Nduk”.

Sekarang aku mengangkat tubuhnya yang sudah lemas dari atas meja, dan dengan lembut membimbingnya ke dipan yang ada di sudut. Kubaringkan tubuh bugil yang sudah lemas itu, dan dengan hati-hati kulebarkan kakinya. Kini dia terbaring mengangkang, kemaluannya terbuka lebar seakan siap menerima segala kenikmatan duniawi. Aku duduk berlutut, kemaluanku sudah tegang betul dan kini terarah ke lobang kemaluannya. Kugesek-gesek kepala jagoanku ke kelentitnya. Dia mengerang pelan, matanya tertutup rapat. Kurendahkan tubuhku, kini aku telungkup di atas badannya. Kukecup bibirnya dengan lembut: “sudah siap, ya Nduk. Agak sakit, ditahan saja. Pokoknya Mbah usahakan kamu jadi sembuh betul”. Dia mengangguk, tidak membuka matanya: “inggih Mbah” desisnya lirih.

Read more

Kisah Si Dukun Cabul Part 2

Aku sekarang berdiri di depannya, tanganku memegang pundaknya. Suaraku penuh ketegasan tetapi juga bernada kuatir: “Nduk, Nduk, kamu dalam bahaya besar. Si kasno itu pasti sudah nggendam (menyihir) kamu. Mimpimu itu baru permulaan dari ilmu gendamnya. Setelah ini kamu akan semakin terbayang pada wajahnya, sampai lama-lama kamu tidak akan bisa berpikir lain selain mikirin dia. Lalu, dia tinggal menguasaimu saja..”mataku mendelik: “mesakake banget (kasihan sekali) kowe Nduk..” si Suminem tampak sekok (shock) berat mendengar ucapanku yang meluncur seperti senapan mesin itu: “terus bagaimana Mbah, tolong saya Mbah..” katanya seperti orang setengah sadar.

Aku menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala: “berat, Nduk. Aku bisa menolongmu, tetapi itu sangat berbahaya. Bisa-bisa ilmu gendamnya berbalik kepadaku. Bisa mati aku.” Kulihat matanya membelalak penuh kengerian: “jadi.. lalu bagaimana Mbah? Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya dengan suara bergetar. Aku sekarang memeluknya (aduh, badannya betul betul bahenol. Kenyal dan hangat): “ya sudah Nduk, aku kasihan kepadamu” kataku kebapakan: “aku akan mencoba menolongmu, dengan sepenuh ilmuku. Pokoknya, kamu harus mau nglakoni (melaksanakan) semua perintahku, ya Nduk. Kamu bersedia ya Nduk?” kurasakan tubuh dalam pelukanku itu bergetar. Kudengar ia terisak pelan: “matur nuwun sanget Mbah.. saya sudah ndak bisa mikir lagi..”

Read more

Kisah Si Dukun Cabul Part 1

Perkenalkan dahulu, namaku Darminto. Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menyebut dirinya dengan istilah keren “paranormal” atau yang dilingkungan masyarakat kebanyakan dikenal dengan istilah dukun. Ya, aku adalah orang yang bergelar mbah dukun, meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak percaya dengan segala hal begituan.

Aneh? nggak juga. Semenjak aku kena PHK dari perusahaan sepatu tiga tahun lalu, aku berusaha keras mencari pekerjaan pengganti. Beberapa waktu aku sempat ikut bisnis jual beli mobil bekas, tetapi bangkrut karena ditipu orang. Lalu bisnis tanam cabe, baru sekali panen harga cabe anjlok sehingga aku rugi tidak ketulungan banyaknya. Untung orang tuaku termasuk orang kaya di kampung, jadi semuanya masih bisa ditanggulangi. Cuma aku semakin pusing dan bingung saja. Untung aku belum berkeluarga, kalau tidak pasti tambah repot karena harus menghadapi omelan dan gerutuan istri.

Read more

Geliat Gelisah Sang Kumbang

Ketidaksenangannya terhadap hubungan Alfi dan kakaknya Lila membuat Lidya menyetujui usul sahabat baiknya Sabrina untuk menjebak Alfi agar pemuda itu menyingkir dari kehidupan rumah tangga Lila untuk selamanya.

—————————————
Di rumah sakit

Di sebuah kamar VIP nampak Lila terbaring tengah menanti persalinan dirinya. Tadi pagi Lidya sempat mampir sebelum pergi ke kantornya dan mengutarakan niatnya buat mengajak Alfi tinggal serumah dengannya dengan alasan dia dan Sabrina merasa tidak aman tinggal berdua tanpa adanya lelaki di rumah itu. Ini aneh! pikir Lila. Sekalipun alasannya masuk akal tetap saja Lila merasakan jika ada sebuah kejanggalan. Mengapa Lidya  justru memilih Alfi? Bukankah Lidya sangat tidak menyukai Alfi? Hhhhhh! Lila berkali-kali menghela napas. Ia terus menduga-duga apa sebenarnya  yang tengah Lidya rencanakan. Kedua gadis ini benar-benar tak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Keluh Lila. Meski demikian ia belum memberikan persetujuan kepada Lidya. Tak lama kemudian masuk Sandra dan Niken ke kamarnya. Lila sengaja memanggil ke duanya untuk mendiskusikan masalah ini bersama.
“Ibuku sedang dalam perjalanan menuju kemari. Jadi kita tak punya waktu banyak buat membahas soal ini” ujar Lila.
“Aku belum tahu seperti apa rupa si Sabrina itu tapi aku pernah melihat adikmu, La. Dia itu sangat cantik dan mengoda. Dan aku kira Alfi tak bakalan kuat menahan hasratnya jika harus terus-terusan berdekatan dengan Lidya ”ujar Sandra.

Read more

Kisah Pilu Pak Imin dan Wanita-Wanita Tak Berdosa Part 3 (ENDING)

Sementara enam kawanan mesum mulai bergerak mengendap ke lantai dua. Isak maju paling depan dan Wahyu paling belakang. Mereka terus mengendap sambil memperhatikan keadaan sekitar.

Didin : Gelap semua kamarnya, cuma kamar nomor sepuluh itu yang diujung yang lampunya nyala. Jangan-jangan yang dua sudah pada tidur.
Manuel : Coba kuintip dulu kamar sepuluh.

Manuel perlahan mengendap mengintip kamar sepuluh lewat jendela. Kebetulah gordyn jendela itu terbuka. Mata Manuel mengintip perlahan, kemudian kembali lagi.

Manuel : Ternyata mereka bertiga ada di kamar ujung itu. Bagaimana jadinya?
Ando : Ya sudah, kalau begitu kita labrak sama-sama. Gimana? –semua mengangguk setuju.
Isak: Tunggu dulu bentar. Coba kulihat kamar yang lain sebentar ya.
Ando : Loh, mau apa lagi kau?
Isak : Ah pokoknya sebentar lah.

Isak masuk ke kamar delapan yang tidak dikunci, kemudian keluar mengambil sebilah cutter.
Isak : Ini akan memudahkan pekerjaan kita.

Maka Ando yang maju untuk mengetuk pintu kamar sepuluh, yang lain bersembunyi supaya tidak terlihat jika penghuni kamar mengintip lewat jendela. Isak bersiap dengan cutternya untuk memberikan kejutan.

Elma, Reina dan Yuli memutuskan untuk tidur bertiga di kamar sepuluh, karena mereka bertiga agak penakut. Elma berwajah sangat manis, yang paling manis di antara kelima gadis di sana. Kulitnya paling putih, mukanya paling cantik, dan badannya sangat langsing. Yuli juga kulitnya putih, tapi tak seputih Elma. Badannya lebih berisi. Sedangkan Reina kulitnya agak coklat gelap, namun tubuhnya yang paling montok.

Mereka bertiga sedang ngobrol sambil menunggu kantuk sebelum pintu itu diketuk. Elma yang tuan rumahnya kamar langsung berdiri dan menghampiri pintu. Mereka semua berdaster dan segera memakai kerudung begitu tahu ada yang datang. Elma tidak curiga sedikitpun jadi tidak perlu merasa melihat melalui jendela dan langsung membuka pintu.

Read more

Hakim Cabul

“Sidang diskors sampai besok!” Dan, Bambang mengetok palu tanda sidang ditunda. Sidang rencananya akan dilanjutkan besok untuk mendengarkan saksi-saksi lainnya. Sidang ini membahas dakwaan terhadap Irsan, seorang pengusaha yang terbukti melakukan tindakan suap untuk mendapatkan proyek triliunan rupiah yang tentu saja merugikan negara puluhan miliaran rupiah. Meskipun termasuk kasus besar yang sedang menjadi cover story di media tanah air, dari sidang ke sidang rasanya Bambang semakin tidak bisa mengalihkan matanya dari sosok wanita berumur 40-an tahun. Terlihat sangat cantik dan dibalut dengan keanggunan dan kemewahan penampilannya. Dari informasi anak buahnya, Bambang mengetahui nyonya cantik itu adalah isteri Irsan. Nyonya Nia, namanya. Di samping Nyonya Nia, adalah Tyas puteri sulungnya yang beranjak dewasa. Sama-sama cantik dan mempesona.

Sebagai Hakim, Bambang dengan mudah mendapatkan informasi tentang keluarga Irsan ini. Nyonya Nia, mantan seorang fotomodel yang cukup terkenal di zamannya. Pantas dia memiliki semua kecantikan itu. Si pemilik kulit putih ini menyukai olahraga senam yoga. Beberapa kali Bambang malah sudah mengintip Nyonya Nia saat latihan. Sangat menggairahkan ketika melihat tubuhnya yang masih langsing basah oleh peluh. Pakaian senamnya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat sempurna.

“Beruntung sekali Si Irsan ini,”Gumam Bambang dalam hati. Hampir seminggu ini, Hakim ini tidak mampu melupakan setiap lekuk tubuh Nyonya Nia. Tinggi semampai 175 cm, dengan tonjolan buah dada 34 D yang membuat gairah Sang Hakim begitu menggelora. Dan, aku harus bisa merasakan nikmatnya tubuh Nia ini, kata Bambang dalam hati sambil masuk ke ruang kerjanya.

Dan waktunya tiba. Besok isterinya dan anak-anaknya akan berangkat ke Yogya untuk mengunjungi rumah mertuanya, sambil liburan sekolah. Artinya, ada waktu seharian untuk merancang semuanya…..

Dalam perjalanan pulang dari airport usai mengantar keluarganya, Bambang menelpon Nyonya Nia lewat no hp baru yang sengaja dia siapkan untuk operasi ini.”Selamat siang Nyonya Nia. Saya Bambang, Anda pasti kenal. Saya punya cara untuk menyelamatkan Irsan Maulana,suami nyonya. Kalau nyonya tertarik datang ke Mall Taman Anggrek sekarang. Datang di depan lobi masuk. Jangan cerita siapa-siapa,termasuk keluarga Nyonya. Kejahatan suami ibu berat. Polisi pasti sedang membuntuti Nyonya sekarang. Nanti Nyonya saya kalau sudah sampai sana.”

Terlihat dari nada suara Nyonya Nia yang kaget karena tidak menyangka peristiwa ini. Bambang sengaja tidak memperpanjang percakapan. Dan perhitungan Bambang tidak meleset, selang beberapa lama kemudian, terlihat Nyonya Nia sudah di lobi, sendirian.

“Sekarang, naik taksi nyonya. Jalan sampai ke tempat yang saya perintahkan. Nanti Nyonya akan saya jemput.” Perintah Bambang lagi. Dan, Nyonya Nia pun menurut. Hehehehe, isteri yang baik, tapi akan ku rusak kesucianmu sebentar lagi, kata Bambang dalam hati.

Read more