Kisah Pilu Pak Imin dan Wanita-Wanita Tak Berdosa Part 1

Nama aslinya Sugimin, tapi orang lebih sering memanggilnya Pak Imin. Usianya 55 tahun, mantan PNS di sebuah Kantor Dinas yang pensiun dini. Sebenarnya pekerjaannya itu membuat diri dan keluarganya mapan. Kerap dipindahtugaskan ke luar Pulau, dengan gaji yang lebih dari cukup. Tapi di tempat kerja terakhirnya dia merasa tidak cocok dengan atasannya. Dirinya yang cukup idealis akhirnya memutuskan untuk keluar daripada terus bekerja dengan atasannya tersebut.

Karena sering dimutasi itulah ia jadi terlambat nikah. Istrinya, Bu Tini sekarang baru berusia 38 tahun. Perbedaan usia tersebut tidak menghalangi kedua insan itu bersatu. Kebetulan Bu Tini adalah wanita dengan wajah cantik alami, kulit coklat bersih, yang ketika itu mendamba suami yang mapan, sementara Pak Imin adalah jejaka yang sudah mapan secara ekonomi, alias agak matre. Fisiknya pun tak kalah bagusnya, dengan wajah yang cukup tampan, dada dan bahu yang terbentuk serta tangan yang kekar karena sering latihan angkat beban.

Walau istrinya agak matre, tapi Pak Imin sangat mencintainya, selain karena kecantikannya, juga karena istrinya sangat telaten melayani semua kebutuhannya, baik dari pekerjaan rumah tangga hingga urusan ranjang. Ketika menikah, tubuh Bu Tini langsing semampai, namun kini karena makannya tercukupi, beberapa bagian tubuhnya membengkak. Terutama pantatnya yang tadinya tepos kini membulat indah, melebihi ukuran telapak tangan orang dewasa. Begitu pula payudaranya yang kini berukuran 36, terutama setelah menyusui kedua anaknya, Mila dan Agung.

Satu hal lagi, sejak menikah Bu Tini mengenakan jilbab. Ini sebagai bentuk syukurnya karena keinginannya mempunyai suami mapan akhirnya terpenuhi. Ia juga rajin mengikuti pengajian untuk mempertebal imannya. Pak Imin pun makin sayang padanya. Kemolekan tubuh istrinya hanya diserahkan padanya semata, tak ada laki-laki yang lain yang bisa menikmatinya. Jangankan meremas atau menyentuhnya, melihatnya pun hanya sebatas wajahnya yang ayu dan telapak tangannya yang mulus.

Begitu pula Mila anak sulungnya yang kini SMA, sejak SMP sudah berjilbab rapi atas arahan ibunya. Tubuh Mila kini langsing semampai seperti ibunya waktu gadis dengan bejolan kembar di dada yang tidak terlalu besar karena memang masih dalam perkembangan. Tapi kulit Mila putih bersih seperti bapaknya, sehingga lebih bening dari ibunya yang berkulit coklat. Pernah Bu Tini mencoba memakai pemutih supaya kulitnya lebih putih, tapi akhirnya berhenti karena Pak Imin tidak setuju. Pak Imin lebih suka wanita yang kulitnya coklat. Lebih eksotis katanya kalau diterpa sinar remang-remang di ranjang sambil telanjang.

Read more

Ria Siswi Nakal

Namaku adalah Andi (bukan nama yang sebenarnya), dan aku kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku berasal dari luar daerah dan aku tinggal di kost. Aku pun termasuk orang yang berada, serta sangat menjalankan keagamaan yang kuat. Apalagi untuk mencoba narkoba atau segala macam, tidak deh.

Kejadian ini bermula pada waktu kira-kira 4 bulan yang lalu. Tepatnya hari itu hari Selasa kira-kira jam 14:12, aku sendiri bingung hari itu beda sekali, karena hari itu terlihat mendung tapi tidak hujan-hujan. Teman satu kostan-ku mengatakan kepadaku bahwa nanti temanya anak SMU akan datang ke kost ini, kebetulan temanku itu anak sekolahan juga dan hanya dia yang anak SMU di kost tersebut.

Setelah lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu datang juga, kemudian temanku langsung mengajaknya ke tempat kamarku yang berada di lantai atas. Akhirnya aku dikenali sama perempuan tersebut, sebut saja namanya Ria. Lama-lama kami ngobrol akhirnya baru aku sadari bahwahari menjelang sore. Kami bertiga bersama dengan temanku nonton TV yang ada di kamarku. Lama-lama kemudian temanku pamitan mau pergi ke tempat temannya, katanya sih ada tugas.

Akhirnya singkat cerita kami berdua di tinggal berdua dengan Ria. Aku memang tergolong cowok yang keren, Tinggi 175 cm, dengan berat badan 62 kg, rambut gelombang tampang yang benar-benar cute, kata teman-teman sih. Ria hanya menatapku tanpa berkedip, akhirnya dia memberanikan diri untuk menggelitikku dan aku tidak tahu darimana dia mengetahui kelemahanku yang sangatvital itu kontan saja aku langsung kaget dan balik membalas serangan Ria yang terus menerus menggelitikiku. Lama kami bercanda-canda dan sambil tertawa, dan kemudian diam sejenak seperti ada yang lewat kami saling berpandang, kemudian tanpa kusadari Ria mencium bibirku dan aku hanya diam kaget bercampur bingung.

Akhirnya dilepaskannya lagi ciumannya yang ada di bibirku, aku pun heran kenapa sih nih anak? pikirku dalam hati. Ria pun kembali tidur-tiduran di kasur dan sambil menatapku dengan mata yang uih… entah aku tidak tahu mata itu seolah-olah ingin menerkamku. Akhirnya dia melumat kembali bibirku dan kali ini kubalas lumatan bibirnya dengan hisapan-hisapan kecil di bibir bawah dan atasnya. Lama kami berciuman dan terus tanpa kusadari pintu kamar belum tertutup, Ria pun memintaku agar menutup pintu kamarku, entah angin apa aku hanya nurut saja tanpa banyak protes untuk membantah kata-katanya.

Setelah aku menutup pintu kamar kost-ku Ria langsung memelukku dari belakang dan mencumbuku habis-habisan. Kemudian kurebahkan Ria di kasur dan kami saling berciuman mesra, aku memberanikan diri untuk menyentuh buah dadanya Ria yang kira-kira berukuran berapa ya…? 34 kali, aku tidak tahu jelas tapi sepertinya begitu deh, karena baru kali ini aku menuruni BH cewek. Dia mengenakan tengtop dan memakai sweater kecil berwarna hitam. Aku menurunkan tengtop-nya tanpa membuka kutangnya. Kulihat buah dada tersebut… uih sepertinya empuk benar, biasanya aku paling-paling lihat di BF dan sekarang itu benar-benar terjadi di depan mataku saat ini.

Read more

Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah

“Jangan pernah berpikir Tut, aku akan menceraikanmu. Kalau memang maumu hendak menyiksa perasaanku, mending kugantung saja perkawinan ini. Dengan begitu, kita seri. Kamu bisa bahagia dengan mencari di luar, begitu pun denganku. Tapi soal status, jangan lupa, kamu masih tetap istriku… selamanya!”

Kata-kata Mas Santoso tiba-tiba mengiang di telingaku. Malam, sudah tua benar. Jam di dinding kamar hotel yang kutempati dengan Bram, kekasih baruku, telah menunjukkan pukul 24.15. Tapi aku masih termangu di depan jendela, mencoba mengurai kembali perjalanan hidupku. Dari keinginan orangtuaku untuk mengawinkan aku dengan Mas Santoso yang sebenarnya tak pernah kucintai, sampai dengan sederet petualanganku dengan lelaki lain yang memberikan kenikmatan berlebih-lebih.

Entahlah, mungkin karena aku tak pernah mencintai Mas Santoso, setiap ia menuntut haknya sebagai suami, aku selalu ogah-ogahan. Kalau toh harus melayaninya, itupun kulakukan dengan terpaksa. Hasilnya, sungguh jauh dari memuaskan. Itu pula kesan yang diperoleh Mas Santoso dariku. “Kalau begini terus, bisa-bisa aku impoten. Soalnya di atas ranjang, kamu tak ubahnya sepotong batang pisang. Dingin, kayak es”, gerutu Mas Santoso.

Sejak menikah dengan Mas Santoso 4 tahun lalu, rasanya bisa dihitung dengan jari aku melakukan hubungan suami-istri dengannya. Terus terang, aku lebih banyak menolak daripada melayani hasrat seksualnya. Kalau toh mau, ya itu tadi, dengan setengah hati. Artinya, aku juga tak pernah bermimpi bisa mendapatkan kenikmatan surga duniawi saat berhubungan intim dengannya.

Sebaliknya jika melakukan dengan pria lain, rasa yang kudapatkan sungguh dahsyat luar biasa. Aku mampu berperan aktif di ranjang. Mencoba memuaskan pasanganku, dan sebaliknya berharap kepuasan setimpal darinya. Tak mampu kuingat lagi, dengan beberapa pria yang bukan suamiku aku pernah tidur bersama. Salah satunya adalah Bram, seorang mahasiswa hukum usianya terpaut 5 tahun lebih muda dari usiaku sendiri yang sudah menginjak kepala 3.

Read more