Gairah Tania, Terhanyut Dalam Sensasi Cinta Tiga Pria – Part 2 – With Reza

Peluh terasa membasahi tubuhku. Ketika kuhentikan langkahku di bawah pohon beringin di alun-alun kota ini.
Travel Bag hitam milikku, rasanya sudah terasa sedemikian beratnya untuk kuangkat. Tak terhitung sebenarnya telah berapa jarak yang kutempuh sedari tadi. Sekedar hanya berputar-putar tak menentu. Tak tahu arah mana yang akan kutuju.
Sangat letih rasanya…

Kuserahkan Cinta dan Masa Depanku Pada Reza. Namun Ternyata…

Dibawah rindangnya dedaunan pohon beringin ini, aku tertunduk lesu. Membayangkan pertanyaan yang tak sempat terungkap. Serta jawaban yang tak pernah terlukis di bibirku yang telah mengering ini. Saat ini aku dilanda kegalauan yang teramat sangat, kebimbangan, serta rasa penyesalan yang tak sanggup aku gambarkan.

Setelah kejadian memalukan itu. Kini aku memutuskan untuk pergi. Meninggalkan segala kenangan buruk yang pernah terlalui bersama Zul. Pria yang sempat mengisi hatiku dengan cinta. Juga bertekad pergi jauh dari kehidupan mereka. Dari bibiku yang telah tersakiti karena perselingkuhan kami. Walaupun sempat aku mengucap maaf, namun aku yakin pasti masih perih baginya.

Kabar tentang perselingkuhanku dengan Mangci Zul ternyata tak hanya diketahui oleh kami saja. Namun, ternyata karena amarahnya yang tak tertahan, bibi sempat menelpon ibuku di M*rt*p*ra. Mengadukan perbuatanku dengan Mangci. Bahkan tragisnya, cerita ini juga dengan cepat menyebar ke kerabat lain. Karena sempat bibi bercerita soal masalah ini ke sepupunya, yang tak lain juga kerabatku di kampung sana. Dan, seperti sudah kuduga. Hasilnya adalah rasa malu yang teramat sangat, seperti aib yang mencoreng muka ibuku.

Ingin rasanya kutumpahkan air mataku. Bila kembali aku mengingat, suara tangis dan ucapan ibu saat tadi langsung menelponku, ketika tahu terjadi tragedi ini. Namun ada sayatan kata yang paling terngiang ditelingaku. “Tania…kamu pengen ibu cepet mati…. !“.

Read more

Cindy Selingkuhan Papa

Indra pulang lebih awal berhubung dia dihubungi oleh kakaknya untuk segera pulang, misterius banget beritanya. Selama dalam perjalanan pulang hatinya galau dan cemas, apakah terbaca oleh kakaknya no hp si Budi di iklan kamar kost. Sesampainya Indra di rumah, terlihat muka masam kakak perempuannya,hm.. gawat.

“Ada apa kak? Kok kelihatannya gawat?” Tanya Indra cemas, semoga saja bukan masalah Budi. “Tadi Vera menelpon, Papa kita sepertinya berselingkuh dengan salah satu pegawainya” Indra merasa lega (rumah kost maksiatnya masih bisa terus beroperasi), tetapi dia kebingungan mendengarnya, kok bisa sih bokapnya selingkuh dengan pegawainya, setahu dia sistem perekrutan pegawainya sama dengan konsep kakaknya, tidak boleh ada yg lebih cantik dari Nyokap dan Kakaknya, kalo lebih muda yah lumrah, lagian si Vera kakak perempuan sulungnya menjabat sebagai seketaris dan asisten Bokapnya, semua pegawai biasanya di sensor dulu olehnya, kok bisa kebobolan atau Bokapnya sekarang sudah rabun tua, jelek terlihat cantik di matanya?

“Jadi si Vera nangkep basah Papa lagi berduaan sama selingkuhannya?” Indra bertanya sambil berusaha untuk tidak membayangkan Bokapnya yg sama kurusnya dengan dia tetapi lebih bungkuk badannya dan telah beruban sedang menggenjot cewek ceking , atau barangkali gembrot di kantornya. “Tidak, hanya saja Papa menyuruh Vera untuk memberikan bonus untuknya mobil yg lebih mewah dari standard bonus pegawai lain,” Kakak Indra mencak2,” Papa juga terlalu sering meeting dengan kliennya bersamanya tanpa melibatkan Vera, Mama juga curiga akan hal ini, Vera ingin kita menyelesaikan masalah ini, kasihan Mama,” “oh.. Gituh” Indra merasa dia harus ikut prihatin,” jadi rencana kalian gimana,”

“Vera setuju dengan Papa bahwasannya prestasi Cindy ,pegawai genit itu memang bagus, dan berhubung kliennya dari Jakarta, maka sudah seharusnya dia mendapatkan mobil tersebut dan pindah ke Jakarta agar bisa lebih dekat dengan kliennya, hi..hi.. kita buka kantor khusus hanya untuk dia saja..jadi tidak menganggu moral kerja pegawai lain dan papa akan kesulitan menemuinya lagi..hi..hi.” Kakak Indra tertawa sinis mirip tokoh2 wanita jahat ala sinetron tv .

“Papa setuju?” Indra bertanya,” Dan kenapa tidak dipecat saja daripada susah2 pindahin dia,” “Hm..rencananya sih begitu, tetapi klien yg dibawanya memberikan kontrak jumlah besar pada kita, dan menurut Vera pemilik perusahaan itu Ortu daripada Ipar Cindy, jadi kita tidak mau beresiko diputuskan kontrak, malah bisa2 Besan Cindy merasa kita membalas jasa baik Cindy bila dia kita pindahkan ke sini dan dapat kantor khusus untuknya…hi..hi..” Indra merinding mendengar tawa licik kakaknya. “wah.. hebatnya rencana kalian, berarti sudah beres donk ,” Indra sudah tak sabar ingin kembali ke rumah kostnya dan menggarap Desy,” jadi sudah bereskan , .. saya mau lanjutkan belajar bareng Budi”

“Hei,.. jangan egois gituh,” kakak Indra menatap tajam,” Dia sudah diberangkatkan tadi siang oleh Vera, kamu jemput dia sekarang dan kamu carikan dia tempat tinggal sementara, cari saja hotel murahan sementara dulu, ntar besok kamu carikan rumah sewa sekalian yg bisa dijadikan kantor untuknya,” “Lho.. kok hotel?” Indra yg kesal karena tidak bisa balik ke rumah kost mereka menyela,” Bukankah kita sudah ada kandang buat orang jelek di sebelah rumah Ini,”

Read more