Desahan Penuh Kenikmatan

Nama saya Citra (samaran) , dan saya adalah mahasiswa semester 5 di salah satu universitas swasta ternama di bilangan Jakarta Pusat , dan apa yang akan saya ceritakan disini adalah kisah yang terjadi sekitar beberapa tahun yang lalu.

Rabu adalah hari yang paling melelahkan bagiku ketika semester lima, bagaimana tidak, Hari itu aku ada tiga mata kuliah, dua yang pertama mulai 9.00 sampai jam tiga dan yang terakhir mulai jam lima sampai jam 7 malam, belum lagi kalau ada tugas bisa lebih lama deh. Ketika itu aku baru menyerahkan tugas diskusi kelompok sekitar jam 7 lebih. Waktu aku dan teman sekelompokku, si Dimas selesai, di kelas masih tersisa enam orang dan Pak Didi , sang dosen.

Read more

Tantri, Chua Kotak & Citra Idol XXX

Tantri & Chua dari kelompok band kotak dan bukan mereka saja mereka juga mengajak patner mereka citra idol salh satu pendatang baru jebolan indonesian idol.mereka sedang berlibur di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Mereka ingin sekali pergi dari hiruk pikuk kota Jakarta, dan juga memanfaatkan waktu kosong selama tiga bulan karena sepinya panggilan untuk show. Akan tetapi ternyata liburan itu berubah menjadi sebuah mimpi bagi mereka bertiga. Mereka sedang beristirahat di pondok, setelah sehari penuh berlari-lari dan bersenang-senang di pantai, ketika terdengar ketukan di pintu. Citra membuka pintu. Dan dengan segera tiga orang polisi masuk ke pondok itu. Ketiga gadis itu tidak mempunyai kesempatan bertanya apa yang terjadi karena dengan segera tangan mereka diborgol dan mereka digiring ke mobil tahanan yang menunggu di luar. Ketiga polisi itu juga mengemasi semua pakaian ketiga gadis itu dan membawanya pergi sehingga tidak ada tanda-tanda seseorang pernah tinggal di pondok itu. Kemudian mereka dibawa ke sebuah markas polisi.

Setelah sampai mereka digiring ke ruang interogasi di bawah tanah. Ketiga gadis itu ditubuh menggunakan exctasy selama mereka berlibur di pulau itu. Mereka memprotes tuduhan itu tapi polisi itu tidak peduli atas sanggahan Citra,Chua dan Tantri. Ketiga gadis itu ditanyai secara bersamaan pada awal pemeriksaan. Mereka sangat ketakutan, tapi karena tuduhan itu sama sekali tidak benar, mereka sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dari para polisi itu. Dua dari polisi tersebut yang satu berbadan besar dan hitam, sedang yang satu lagi berkepala botak. Kemudian Citra ditarik berdiri untuk digeledah. Sedangkan Chua dan Tantri masih terborgol dan duduk di atas kursi melihat penggeledahan tersebut. Polisi yang berkulit hitam berdiri di belakang Citra dan memegangi bahunya. Tangan Citra masih terborgol ke belakang. Lalu mulai menggeledah seluruh tubuh Citra, mulai dari dada, pinggang kemudian turun ke paha dan kakinya. Ketika ia tidak menemukan apapun ia mengangguk kepada polisi yang berkepala botak dan melanjutkan pencarian secara lebih seksama.

Polisi yang berkepala botak itu mendekat dan mulai melepaskan kancing baju Citra. Citra ketakutan dan mulai berteriak dan meronta-ronta. Ia menutup mulut dengan tangannya dan menyuruhnya untuk diam. Citra terus berteriak, ia kemudian menjepit hidung Citra dan menutup mulut Citra. Citra mulai kehabisan nafas dan terus meronta-ronta. Polisi yang berkulit hitam itu menyuruhnya untuk diam. Temannya yang berkepala botak melepaskan tangannya dan berkata “Diam, atau kamu mati!” Citra tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah itu. Polisi yang berkepala botak melanjutkan menelanjangi Citra. Ia melepaskan kancing baju Citra dan melepaskannya hingga bagian depan tubuh Citra terbuka. Kedua polisi itu sejenak memandangi buah dada Citra yang tertutup oleh BH putih berenda. Polisi yang berkulit hitam meraba toket Citra yang masih tertutup BH itu. Kemudian ia mulai melepaskan kancing dan restleting jeans Citra. Jenas itu dengan segera dapat ditarik turun. Ia menarik sepatu Citra dan kemudian melepaskan jeans dan kaki Citra.

Selangkangan Citra juga tertutup oleh celana dalam putih yang dihiasi oleh renda kecil, ia dengan tidak sabar langsung menarik celana dalam itu membuat memek Citra terlihat. Jembut memek Citra yang ditumbuhi bulu bulu halus menutupi bukit memek yang tampak sempit itu. Keduanya memperhatikan memek itu selama beberapa saat tapi tanpa menyentuhnya. Karena tangan Citra masih terborgol ke belakang, baju dan BH Citra tidak bisa dilepaskan. Polisi yang berkepala botak mengambil kunci borgol dan melepaskan borgol itu dari tangan Citra. Kemudian baju dan BH Citra segera dilucuti dari tubuh Citra. Itu membuat buah dada Citra yang bulat sedang terpampang dengan jelas di hadapan kedua polisi itu dihiasi pentilnya yang berwarna kemerahan. Citra sekarang berdiri telanjang bulat ditengah ruangan dihadapan polisi itu. Kedua polisi itu seakan-akan lupa dengan tugas penggeladahannya dan mulai merabai tubuh Citra. Ketika Citra mulai meronta, yang berwajah hitam memukul buah dada Citra dengan tangannya keras-keras. Jerit kesakitan Citra segera diredam oleh tangan yang berkepala botak yang menutup mulutnya.

Read more

Desahan di Dalam Mobil

Nama saya Citra (samaran), dan saya adalah mahasiswa semester 5 di salah satu universitas swasta ternama di bilangan Jakarta Pusat , dan apa yang akan saya ceritakan disini adalah kisah yang terjadi sekitar beberapa tahun yang lalu.

Hari Rabu adalah hari yang paling melelahkan bagiku ketika semester lima, bagaimana tidak, hari itu aku ada tiga mata kuliah, dua yang pertama mulai jam 9 sampai jam tiga dan yang terakhir mulai jam lima sampai jam 7 malam, belum lagi kalau ada tugas bisa lebih lama deh. Ketika itu aku baru menyerahkan tugas diskusi kelompok sekitar jam 7 lebih. Waktu aku dan teman sekelompokku, si Dimas selesai, di kelas masih tersisa enam orang dan Pak Didi, sang dosen.

“Bareng yuk jalannya, parkir dimana Citra ?” ajak Dimas “Jauh nih, di deket psikologi, rada telat sih tadi”

Dimas pulang berjalan kaki karena kostnya sangat dekat dengan kampus. Sebenarnya kalau menemaniku dia harus memutar agak jauh dari jalan keluar yang menuju ke kostnya, mungkin dia ingin memperlihatkan naluri prianya dengan menemaniku ke tempat parkir yang kurang penerangan itu. Dia adalah teman seangkatanku dan pernah terlibat one night stand denganku. Orangnya sih lumayan cakep dengan rambut agak gondrong dan selalu memakai pakaian bermerek ke kampus, juga terkenal sebagai buaya kampus.

Malam itu hanya tinggal beberapa kendaraan saja di tempat parkir itu. Terdengar bunyi sirine pendek saat kutekan remote mobilku. Akupun membuka pintu mobil dan berpamitan padanya. Ketika aku menutup pintu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh Dimas yang membuka pintu sebelah dan ikut masuk ke mobilku.

“Eeii… mau ngapain kamu ?” tanyaku sambil meronta karena Dimas mencoba mendekapku.

“Ayo dong Citra, kita kan sudah lama nggak melakukan hubungan badan nih, saya kangen sama vagina kamu nih” katanya sambil menangkap tanganku.

“Ihh… nggak mau ah, saya capek nih, lagian kita masih di tempat parkir gila !” tolakku sambil berusaha lepas.

Karena kalah tenaga dia makin mendesakku hingga mepet ke pintu mobil dan tangan satunya berhasil meraih payudaraku lalu meremasnya. “Dimas… jangan… nggak mmhhh!” dipotongnya kata-kataku dengan melumat bibirku.

Jantungku berdetak makin kencang, apalagi Dimas menyingkap kaos hitam ketatku yang tak berlengan dan tangannya mulai menelusup ke balik BH- ku. Nafsuku terpancing, berangsur-angsur rontaanku pun melemah. Rangsangannya dengan menjilat dan menggigit pelan bibir bawahku memaksaku membuka mulut sehingga lidahnya langsung menerobos masuk dan menyapu telak rongga mulutku, mau tidak mau lidahku juga ikut bermain dengan lidahnya. Nafasku makin memburu ketika dia menurunkan cup BH ku dan mulai memilin-milin putingku yang kemerahan. Teringat kembali ketika aku ML dengannya di kostnya dulu. Kini aku mulai menerima perlakuannya, tanganku kulingkarkan pada lehernya dan membalas ciumannya dengan penuh gairah. Kira-kira setelah lima menitan kami ber-French kiss, dia melepaskan mulutnya dan mengangkat kakiku dari jok kemudi membuat posisi tubuhku memanjang ke jok sebelah. Hari itu aku memakai bawahan berupa rok dari bahan jeans 5 cm diatas lutut, jadi begitu dia membuka kakiku, langsung terlihat olehnya pahaku yang putih mulus dan celana dalam pink-ku.

“Kamu tambah nafsuin aja Citra, saya sudah tegangan tinggi nih” katanya sambil menaruh tangannya dipahaku dan mulai mengelusnya.

Read more

Andani Citra: Demi Sebuah Absen

Kisahku yang satu ini terjadi sudah agak lama, tepatnya pada akhir semester 3, dua tahun yang lalu. Waktu itu adalah saat-saat menjelang UAS. Seperti biasa, seminggu sebelum UAS nama-nama mahasiswa yang tidak diperbolehkan ikut ujian karena berbagai sebab seperti over absen, telat pembayaran, dan sebagainya tertera di papan pengumuman di depan TU fakultas. Hari itu aku dibuat shock dengan tercantumnya namaku di daftar cekal salah satu mata kuliah penting, 3 SKS pula. Aku sangat bingung di sana tertulis absenku sudah empat kali, melebihi batas maksimum tiga kali, apakah aku salah menghitung, padahal di agendaku setiap absenku kucatat dengan jelas aku hanya tiga kali absen di mata kuliah itu. Akupun complain masalah ini dengan dosen yang bersangkutan yaitu Pak Qadar, seorang dosen yang cukup senior di kampusku, dia berumur pertengahan 40-an, berkacamata dan sedikit beruban, tubuhnya pendek kalau dibanding denganku hanya sampai sedagu. Diajar olehnya memang enak dan mengerti namun dia agak cunihin, karena suka cari-cari kesempatan untuk mencolek atau bercanda dengan mahasiswi yang cantik pada jam kuliahnya termasuk juga aku pernah menjadi korban kecunihinannya.

Karena sudah senior dan menjabat kepala jurusan, dia diberi ruangan seluas 5×5 meter bersama dengan Bu Hany yang juga dosen senior merangkap wakil kepala jurusan. Kuketuk pintunya yang terbuka setelah seorang mahasiswa yang sedang bicara padanya pamitan. “Siang Pak!” sapaku dengan senyum dipaksa. “Siang, ada perlu apa?” “Ini Pak, saya mau tanya tentang absen saya, kok bisa lebih padahal di catatan saya cuma tiga..,” demikian kujelaskan panjang lebar dan dia mengangguk-anggukkan kepala mendengarnya. Beberapa menit dia meninggalkanku untuk ke TU melihat daftar absen lalu kembali lagi dengan map absen di tangannya. Ternyata setelah usut punya usut, aku tertinggal satu jadwal kuliah tambahan dan cerobohnya aku juga lupa mencatatnya di agendaku. Dengan memohon belas kasihan aku memelas padanya supaya ada keringanan. “Aduhh.. Tolong dong Pak, soalnya nggak ada yang memberitahu saya tentang yang tambahan itu, jadi saya juga nggak tahu Pak, bukan salah saya semua dong Pak.” “Tapi kan Dik, anda sendiri harusnya tahu kalau absen yang tiga sebelumnya anda bolos bukan karena sakit atau apa kan, seharusnya untuk berjaga-jaga anda tidak absen sebanyak itu dong dulu.”

Beberapa saat aku tawar menawar dengannya namun ujung-ujungnya tetap harga mati, yaitu aku tetap tidak boleh ujian dengan kata lain aku tidak lulus di mata kuliah tersebut. Kata-kata terakhirnya sebelum aku pamit hanyalah, “Ya sudahlah Dik, sebaiknya anda ambil hikmahnya kejadian ini supaya memacu anda lebih rajin di kemudian hari” dengan meletakkan tangannya di bahuku. Dengan lemas dan pucat aku melangkah keluar dari situ dan hampir bertabrakan dengan Bu Hany yang menuju ke ruangan itu. Dalam perjalanan pulang di mobilpun pikiranku masih kalut sampai mobil di belakangku mengklaksonku karena tidak memperhatikan lampu sudah hijau. Hari itu aku habis 5 batang rokok, padahal sebelumnya jarang sekali aku mengisapnya. Aku sudah susah-susah belajar dan mengerjakan tugas untuk mata kuliah ini, juga nilai UTS-ku 8, 8, tapi semuanya sia-sia hanya karena ceroboh sedikit, yang ada sekarang hanyalah jengkel dan sesal. Sambil tiduran aku memindah-mindahkan chanel parabola dengan remote, hingga sampailah aku pada channel TV dari Taiwan yang kebetulan sedang menayangkan film semi. Terlintas di pikiranku sebuah cara gila, mengapa aku tidak memanfaatkan sifat cunihinnya itu untuk menggodanya, aku sendiri kan penggemar seks bebas. Cuma cara ini cukup besar taruhannya kalau tidak kena malah aku yang malu, tapi biarlah tidak ada salahnya mencoba, gagal ya gagal, begitu pikirku. Aku memikirkan rencana untuk menggodanya dan menetapkan waktunya, yaitu sore jam 5 lebih, biasanya jam itu kampus mulai sepi dan dosen-dosen lain sudah pulang. Aku cuma berharap saat itu Bu Hany sudah pulang, kalau tidak rencana ini bisa tertunda atau mungkin gagal.

Keesokan harinya aku mulai menjalankan rencanaku dengan berdebar-debar. Kupakai pakaianku yang seksi berupa sebuah baju tanpa lengan berwarna biru dipadu dengan rok putih menggantung beberapa senti diatas lutut, gilanya adalah dibalik semua itu aku tidak memakai bra maupun celana dalam. Tegang juga rasanya baru pertama kalinya aku keluar rumah tanpa pakaian dalam sama sekali, seperti ada perasaan aneh mengalir dalam diriku. Birahiku naik membayangkan yang tidak-tidak, terlebih hembusan AC di mobil semakin membuatku bergairah, udara dingin berhembus menggelikitik kemaluanku yang tidak tertutup apa-apa. Karena agak macet, aku baru tiba di kampus jam setengah enam, kuharap Pak Qadar masih di kantornya. Kampus sudah sepi saat itu karena saat menjelang ujian banyak kelas sudah libur, kalaupun masuk paling cuma untuk pemantapan atau kuis saja. Aku naik lift ke tingkat tiga. Seorang karyawan dan dua mahasiswa yang selift denganku mencuri-curi pandang ke arahku, suatu hal yang biasa kualami karena aku sering berpakaian seksi cuma kali ini bedanya aku tidak pakai apa-apa di baliknya. Entah bagaimana reaksi mereka kalau tahu ada seorang gadis di tengah mereka tidak berpakaian dalam, untungnya pakaianku tidak terlalu ketat sehingga lekukan tubuhku tidak terjiplak. Akupun sampai ke ruang dia di sebelah lab. Bahasa dan kulihat lampunya masih nyala. Kuharap Bu Hany sudah pulang kalau tidak sia-sialah semuanya. Jantungku berdetak lebih kencang saat kuketuk pintunya.

Read more