Dewi – Doni & Narti, Another 3 Some

Dewi yang mendengar pekikan nikmat Narti, menekan kuat dinding pembatas lubang anus dan lubang vagina Narti, lalu di goyang-goyangkan jari telunjuknya sehingga Narti yang saat itu sedang mengalami orgasme, bertambah nikmat orgasmenya dengan tekanan telunjuk Dewi itu, tak lama kemudian Dewi mencabut telunjuknya,

“Sekarang giliran mamih yang merasakan kontolmu yang besar, Don,”desah Dewi.

Donipun segera mencabut kontolnya dari jepitan vagina Narti, kemudian ia merebahkan tubuhnya di ranjang, yang segera di susul oleh Dewi dengan berjongkok di atas tubuh Doni dengan posisi membelakangi Doni, batang kemaluan Doni yang tegang itu ia arahkan ke vaginanya,

Sleeepppp….. vaginanya menjepit kepala batang kemaluan Doni.

Tanpa menunda-nunda lagi Dewi mulai menekan pantatnya kebawah,

Bleesssss………. Vaginanya mulai diterobos masuk oleh kontolnya Doni.

Lagi-lagi Dewi menekan pantatnya kebawah,

Bleeeesssssss…… batang kemaluan Doni terbenam seluruhnya di dalam lubang kenikmatan Dewi.

“Ooooohhhh… Don, besar dan keras kontolmu ini, aaaaaaghhhhh… Don, sayang,”Dewi mengerang.

“Hhhmmmmppp…aaahhh… mih, memekmu enak…sempit mih,”Donipun mengerang merasakan jepitan vagina Dewi.

Dengan perlahan-lahan Dewi mulai memompa pantatnya naik turun di atas tubuh Doni, Narti melihat batang kemaluan Doni keluar masuk di dalam vagina nyonyanya ini, dan ia juga melihat kelentit nyonyanya itu keluar masuk seperti kepala kura-kura yang keluar masuk dari rumahnya, kelentit Dewi yang merah itu muncul tenggelam akibat gerakan naik turun Dewi, tanpa di suruh tangannya mulai mengelus-elus kelentit Dewi tersebut, akibatnya Dewi mengerang-erang keenakan atas perlakuan Narti di kelentitnya tersebut.

Bukan hanya tangannya yang beraksi tapi mulutnya pun ikut bermain, kedua payudara Dewi dihisap-hisap bergantian, kedua putingnyapun di jilati bergiliran, sementara Doni membantu gerakan mamihnya dengan menaik turunkan tubuh Dewi lewat pegangan di pinggang Dewi, gerakannya seirama dengan gerakan Dewi yang naik turun tersebut, Doni menekan pinggang Dewi ke bawah saat Dewi menurunkan pantatnya, dan ia membantu mengangkat pinggangnya saat Dewi menaikkan pantatnya.

Erangan kenikmatan Dewi semakin sering terdengar mendapat serangan-serangan Narti di kelentitnya dan di payudaranya, dan sodokan-sodokan batang kemaluan Doni di lubang senggamanya, mulutnya megap-megap seperti ikan yang kekurangan air, nafasnya tersengal-sengal seperti orang yang habis berlari, keringatnya mulai mengucur.

“Oooghhhh….eenaak…nikmat… terus …entot memekku Don, terusss…aachhh… enak.. pilin putar itilku… yach…terusss… enaak… terusss..,”Dewi mengerang kenikmatan.

“hisap..hisap…tetekku…teruss…remas…remass….ooohhh… enaak…geliii…nikmat Ti…Narti….terus…,”erangan Dewi terdengar kembali.

Read more

Schoolgirl’s Diary 4: Doni, The Spy Among Us

Seorang gadis tampak gelisah, berkali-kali ia menekan tombol play kemudian stop di Mp4 player mungil yang baru saja ia dapatkan, entah siapa yang menaruh Mp4 itu di tasnya,

“Nggak.., mungkin…, dari mana mereka mendapatkan ini ?” berkali-kali gadis itu memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, dunia terasa berputar dengan lebih cepat

Sebuah Sms masuk ke Hp di tangannya, wajahnya memerah membaca kata-kata mesum dilayar HPnya.

Gadis itu mebalas SMS itu “Siapa ini ? Jangan kurang ajar ya..!! “

Gadis itu menengokkan kepalanya pada langkah-langkah kaki yang menghampirinya.

“ahhh..! ” Seorang gadis yang baru datang berseru terkejut ketika melihat tayangan MP4 ditangan temannya.

********************

Beberapa minggu yang lalu sebelum gadis itu menerima Mp4 gratis.

“Anita !”

“Veily!”

Anita dan Veily berlari kecil saling menghampiri, kedua gadis itu saling bergandengan tangan seolah-olah tidak ada yang dapat memisahkan mereka berdua.

“kamu mau minum apa? Veily sayang…” Anita berbisik nakal di telinga Veily.

“Mau nyusu di dada kamu boleh?” Veily membalas berbisik pelan di telinga Anita, Anita hanya tertawa sambil meremas tangan temannya itu.

Kedua gadis itu menunggu dengan sabar di depan pintu lift, tidak berapa lama pintu lift itu terbuka, beberapa orang keluar dari dalam lift sampai lift itu kosong, kedua gadis itu bergandengan tangan masuk kedalam lift. Dengan lembut tangan Veily mengusap peluh di kening Anita dengan tissue.

“Kamu ini.., coba kalau tadi aku jemput…,nggak akan keringatan gini..,”Veily bersungut-sungut, dikecupnya pipi Anita “Cuphhh”

“Yeee, kalo kamu musti jemput aku kan jalannya harus muter dulu…, jauh, tar cape” Anita tersenyum menatap Veily.

“cape gimana ? Kan aku naik mobil, lagian aku rela koq.., demi kamu…” Veily mengusap kemudian meremas lembut pinggul Anita. Veily buru-buru menarik tangannya ketika pintu lift terbuka, Anita tersenyum kecil kemudian mendahului Veily keluar dari dalam lift.

“Kita ketoilet dulu ya…” Veily menarik tangan Anita yang membalas dengan menganggukan kepalanya, wajah Anita memerah, ia tahu dengan jelas apa yang diinginkan oleh Veily.

Veily pura-pura mencuci tangan, berkali-kali dengan tidak sabaran Veily menengok ke arah Anita kemudian menengok ke arah seorang wanita setengah baya yang sedang membenahi make-upnya, akhirnya si wanita setengah baya melangkah keluar.

“Ehhhhhhhhh….! ” hanya suara itu yang keluar dari mulut Anita ketika merasakan pinggulnya ditarik dan diseret oleh seseorang, salah-satu pintu ruangan itu tertutup dengan rapat.

Veily mengecup lembut bibir Anita, bibirnya melekat kemudian memangutnya dengan lembut. Tubuh Anita merinding, kedua lututnya terasa goyah ketika Veily memangut-mangut bibirnya dengan lembut. Veily menjilati sudut bibir Anita sebelum kembali melumatnya. Nafas Anita berhembusan bercampur dengan nafas Veily yang memburu.

“AHhhhsssh…… ” Anita mendesah ketika ketika Veily berhenti melumat bibirnya, dada Anita bergerak seirama dengan helaan nafasnya,Veily berbisik di telinga Anita, entah Apa yang dibisikkan oleh Veily, Anita menggelengkan kepalanya sambil berkata “Jangan Ahhh…”, Anita menolak keinginan Veily.

Veily terus merengek memaksakan keinginannya, setelah menghela nafas panjang Akhirnya Anita meluluskan keinginan Veily, ada rasa cemas yang menggedor-gedor dadanya, ada sedikit rasa penasaran, namun juga ada rasa takut untuk melakukan sesuatu hal yang baru.

Read more