Gairah Tania, Terhanyut Dalam Sensasi Cinta Tiga Pria – Part 3

tania3

Suatu malam di awal bulan seingatku. Saat tadi dari jendela lantai tiga Karaoke D, kulihat langit sangat cerah malam ini, jutaan bintang bertebaran di hamparan mega, dan bulan mengintip manis malu-malu. Aku duduk melamun memandang langit, sambil coba merangkai-rangkai kisah lamaku. Ketika sedari pagi aku merasa bibirku berkedut-kedut. Tak tahu firasat apa kiranya.

Hingga lamunanku disadarkan oleh panggilan Dinda, dari ujung tangga. “Taaan… ada tamu… room 5 ya Tan!”. Teriaknya padaku. Dan akupun langsung bergegas turun, menyempatkan untuk sedikit bersolek merapihkan diri.

Setelah kurasa sudah cukup manis penampilanku, akupun melangkah menuju room 5. Disana tamuku menunggu. Malam ini pakaianku tak seheboh seperti biasanya. Aku hanya mengenakan kaus ketat warna putih agak tipis, berhiaskan tulisan lucu “I Know What You Want” dibagian dada. Dengan dipadu celana jeans panjang pencil warna biru tua. Sepertinya, tak ada yang spesial di diriku. Rambutku, yang kini kuwarnai dengan hi-lite agak kecoklatan-pun kubiarkan saja tergerai bebas. Hingga akhirnya kutiba di depan room 5.

Kubuka pintu, kuperhatikan didalam sudah menunggu, 5 orang cowok yang usianya hampir sama diantara mereka. Mungkin sekitar 25-30 Tahunan taksirku. Dari pakaiannya, kuperkirakan mereka adalah Pegawai Pemerintahan, karena, dua orang dari mereka masih mengenakan celana dinas warna coklat, walaupun untuk atasannya sudah berganti dengan kaos t-shirt.

“malem Aa’’. Sapaku ramah kepada mereka. “Udah pada pesen minuman belum?”, aku kemudian bertanya. “malem”, diantara mereka menjawab. Lalu kemudian, mereka memesan minum. Ada yang juice mangga, es jeruk, es lemon tea, dan ada juga yang memesan C*ca C*la dengan es.

Read more

Nakalnya Suster-suster Rumah Sakit

Hari pertama

Suatu siang di jalan Dharma Wangsa ke arah kampus Airlangga sedang terjadi keributan, ngga’ jelas siapa lawan siapa… saat itu aku melintas dengan BMW M50ku sendirian dan sedang asyik dengerin radio Suara Surabaya… cuek saja saat melintasi perkelahian itu sambil sedikit menoleh ke arah seorang laki-laki yang sedang dikeroyok 4 orang lawannya… dia dikejar habis-habisan dan mencoba menerobos kerumunan penonton untuk mencari selamat. Terbelalak mataku bengitu sadar siapa lelaki yang sedang dikerjar tersebut… ternyata dia Kakak temanku… namanya Anton. Yang ngga’ jelas kenapa dia ada di sana dan dikeroyok orang segala, tapi aku sudah tidak sempat berpikir lebih jauh… segera saja aku pinggirkan kendaraanku dan aku turun untuk membantunya.

Aku tarik dua orang yang sedang memukulnya karena Anton sudah jatuh terduduk dan dihajar berempat… sekarang Anton mengurus dua orang dan aku dua orang… memang masih tidak seiimbang… dalam perkelahianku aku berhasil menangkap satu dari lawanku dan aku jepit kepalanya dengan lengan kiriku sedang lengan kananku aku gunakan untuk menghajarnya… sementara aku berusaha menggunakan kakiku untuk melawna yang satunya lagi… aku tak sempat lihat apa yang dilakukan Anton… waktu seakan sudah tidak dapat dihitung lagi demikian cepatnya sampai hal terakhir yang masih aku ingat adalah aku merasakan perih di pinggang kanan belakangku… dan saat kutengok ternyata aku ditusuk dengan sebilah belati dari belakang oleh entah siapa… sambil menahan sakit aku merenggangkan jepitanku pada korbanku dan berusaha melakukan tendangan memutar… sasaranku adalah lawan yang di depanku. Namun pada saat melakukan tendangan memutar sambil melayang… tiba-tiba aku melihat ayunan stcik soft ball ke arah kakiku yang terjulur… ngga’ ampun lagi aku jatuh terjerembab dan gagal melancarkan tentangan mautku… sesampainya aku di tanah dengan agak tertelungkup aku merasakan pukulan bertubi-tubi… mungkin lebih dari 3 orang yang menghajarku. Terakir kali kuingat aku merasakan beberapa kali tusukan sampai akhirnya aku sadar sudah berada di rumah sakit.

Aku tidak jelas berada di rumah sakit mana yang pasti berisik sekali dan ruangannya panas… dalam ruangan tersebut ada beberapa ranjang… pada saat aku berusaha untuk melihat bagian bawahku yang terluka aku masih merasakan nyeri pada bagian perutku dan kaki kananku serasa gatal dan sedikit kebal ( mati rasa )… aku coba untuk geser kakiku ternyata berat sekali dan kaku. Kemudian aku paksakan untuk tidur…

Read more

Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 1

Kejadian ini terjadi karena saya dan pacar saya, Anna, pergi berkaraoke baik beramai-ramai dengan teman-teman kami maupun hanya kami berdua. Suatu hari saya diberitahu oleh teman saya bahwa ada sebuah tempat karaoke di Kelapa Gading yang memutarkan lagu-lagu karaoke dengan gambar-gambar wanita telanjang. Karena penasaran dan ingin mengetahui lebih lanjut saya mengajak Anna untuk pergi berkaraoke di tempat tersebut.

Saat malam minggu, sekitar jam 22.30 saya mengajak Anna untuk berkaraoke di tempat tersebut dan Anna pun tidak keberatan, sebelumnya saya telah memberitahukan Anna situasi dan keadaannya. Sesampai di sana saya langsung membooking sebuah ruangan VIP, kami terpaksa membooking ruangan untuk sepuluh orang karena ruangan itu yang paling kecil. Lalu kami pun diantar oleh seorang wanita menuju ke ruangan yang telah kami booking. Sesampainya di ruangan, wanita tersebut menawarkan minuman dan makanan. Kami hanya memesan minuman dan makanan kecil saja, kacang garing, karena baru sejam yang lalu kami makan. Setelah menerima orderan, wanita tersebut langsung ke luar. Sementara itu kami berdua mulai memilih lagu yang ingin kami nyanyikan maupun hanya untuk didengar. Dua buah lagu telah selesai kami nyanyikan dan pintu terbuka kembali dan masuklah wanita tadi sambil membawa pesanan kami.

Setelah lama menunggu, kami merasa penasaran karena gambar-gambar yang hot belum juga muncul di layar TV dan ternyata gambar-gambar hot itu baru mulai muncul setelah jam 23.30 WIB. Melihat gambar-gambar wanita telanjang itu membuat saya mulai tinggi nafsu seksnya. Saya mulai merapatkan duduk saya dengan Anna dan mulai melingkarkan tangan saya di pinggangnya. Anna rupanya peka akan perubahan keadaan yang terjadi dan ia pun mulai menyandarkan tubuhnya ke dada saya sambil terus bernyanyi. Saya sudah sulit berkonsentrasi dengan teks-teks yang tertulis di layar TV, tangan saya pun mulai menjalankan tugasnya.

Read more

Gairah Tante Vivi Bagian 1

Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.9.15 malam: Aku masih ragu-ragu…, berangkat…, tidak…, berangkat…, tidak.9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.”Lho…, Ar…, kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?..”, tanyanya kendengaran agak kecewa.”Mm…, gimana ya Tante…, agak gerimis nih di sini…”, sahutku beralasan.”Masa iya Ar…, yaah…, kalo gitu Tante jemput aja yaa…”, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.”Waah…, tidak usah deh Tante…, okelah saya ke sana sekarang Tante…, mm Selva saya ajak ya Tante…”, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi…”iih…, jangan Ar…, Selva jangan diajak…, mm pokoknya ke sini aja dulu Ar…, yaa…, Tante tunggu…, Klik”.

Sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek…, kaya pakar wae…, sekarang baru kena getahnya. Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.”aahh…, akhirnya dateng juga kamu Ar…”, katanya ramah dari balik pintu depan.”Iya…, Tante…”, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.”Agak gerimis ya Ar…”, tanyanya seolah tak mau tau.

“Hsii…”, Tanpa sadar aku terbersin.”Eehh…, kamu Flu Ar…”, tanyanya kemudian.Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. “Klik…”, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku. “Pipimu dingin sekali Ar…, kamu pasti masuk angin yaa…, Tante bikinin susu jahe anget yaa…”, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. “Duh…, cantiknya”. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.

Read more

Istri-Istri Pamanku Bagian 4

Kebisuan kembali menyelimuti kami berdua. Ruangan asri rumah Bi Laha itu terasa semakin luas dan mencekam dengan kesunyian itu. Suara jangkrik dan kodok sawah terdengar saut menyaut. Sesekali terdengar suara angkutan pedesaan melewati jalan raya. Juga suara delman dan motor melintas. Ahh, desa yang tenang dan damai. Tempat yang sangat sempurna untuk berlibur dan bermalas-malasan. Tapi tidak dengan kebisuan seperti ini. Aku menguap seraya melihat arloji. Sudah 20 menit lebih kami tak berkata-kata. Dan Mang Iyus belum juga datang. Isterinya sudah terlihat gelisah sambil terus-terusan memandang jam dinding. “Nggak biasanya Mang Iyus begini..” suaranya terdengar lirih.

Kriiing… Kami berdua terlonjak karena kaget. Telepon sialan, makiku dalam hati.(“Telepon keparat!”)

Bi Laha bergegas mengangkatnya. Tampaknya Mang Iyus lagi yang menelepon. Mereka terlibat pembicaraan sejenak.”Lo bapak ini gimana sih? Kita kan sudah siap dari tadi..” Terdengar suara Bi Laha meninggi.”Iyaa saya ngerti.. tapi apa segitu mendesaknya sampai bapak musti batalin janji makan malam dan nginep disana??” O.. Oo.. naga-naganya aku bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.”Apa? Cuma gara-gara ibunya pusing-pusing bapak harus nganter ke dokter? Apa perempuan itu ngga bisa anter sendiri? Dengar Pak, saya juga punya hak sebagai isteri pertama. Hari ini semestinya adalah hak saya. Bilang sama perempuan itu, kalau mau jadi isteri kedua harus berani tanggung konsekuensi.. kalau bukan harinya, jangan minta-minta antar ke dokter!” Braak! Bi Laha membanting gagang telepon seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menutup muka dengan kedua tangannya.

(“Suami egois! Tak adil! Aku benar-benar merasa seperti keranjang sampah. Sesak di dadaku semakin menggunung dan menggunung, lalu mendesak keluar. Air mataku mulai mengalir. Tiba-tiba aku terkesiap. Belum pernah aku membentak-bentak suamiku sebelumnya. Belum pernah aku mengahiri pertengkaran dengan bantingan telepon. Belum pernah aku seberani ini. Lalu, bayang-bayang pergumulanku dengan Rafi melintas. Karena itukah aku jadi berani?”)

Read more

Biaya Antar Pulang Vani – Another Vani Sex Adventure

Kuliah jam terakhir di kampus S di kawasan Jakarta Selatan baru saja berakhir. Jam menunjukkan pukul 18.00 dan hari pun mulai gelap. Vani, mahasiswi semester 4 fakultas Ekonomi dengan rambut sebahu berwarna brunette berjalan meninggalkan kampus menuju halte depan kampus. Sesampainya di halte, Vani merasa agar kurang nyaman. Mata para cowok penjual rokok dan si timer memelotinya seolah ingin menelanjanginya.

Tersadarlah Vani bahwa hari itu dia memakai pakaian yang sangat sexy. T-shirt putih lengan pendek dengan belahan rendah bertuliskan WANT THESE?, sehingga tokednya yang berukuran 36C seolah hendak melompat keluar, akibat hari itu Vani menggunakan BH ukuran 36B (sengaja, biar lebih nongol). Apalagi kulit Vani memang putih mulus. Di tambah rok jeans mini yang digunakannya saat itu, mempertontonkan kaki jenjang & paha mulusnya karena Vani memang cukup tinggi, 173cm.

“Buset, baru sadar gue kalo hari ini gue pake uniform sexy gue demi ngadepin ujiannya si Hutabarat, biar dia gak konsen”, pikir Vani.

Biasanya Vani bila naik angkot menggunakan pakaian t-shirt atau kemeja yang lebih tertutup dan celana panjang jeans, demi menghindari tatapan dan ulah usil cowok-cowok di jalan. Siang tadi Vani ke kampus datang numpang mobil temannya, Angel. Tapi si Angel sudah pulang duluan karena kuliahnya lebih sedikit.

Vani tambah salah tingkah karena cowok-cowok di halte tersebut mulai agak berani ngliatin belahan tokednya yang nongol lebih dekat lagi. “Najis, berani amat sih nih cowok-cowok mlototin toked gw”, membatin lagi si Vani. Vani menggunakan bukunya untuk menutupi dadanya, tapi mereka malah mengalihkan pandangan mesumnya ke pantat Vani yang memang bulat sekal dan menonjol.

Makin salah tingkahlah si Vani. Mau balik ke kampus, pasti sudah gelap dan orang sudah pada pulang. Mau tetap di halte nungguin angkot, gerah suasananya. Apalagi kalo naik bus yang pasti penuh sesak jam segini, Vani tidak kebayang tangan-tangan usil yang akan cari-cari kesempatan untuk menjamahi tubuhnya. Sudah kepikiran untuk naik taxi, tapi uang tidak ada. Jam segini di kos juga kosong, mau pinjam uang sama siapa bingung. Vani coba alternatif terakhir dengan menelpon Albert cowoknya atau si Angel atau Dessy teman2nya yang punya mobil, eh sialnya HP mereka pada off. “Buset, sial banget sih gue hari ini.”

Mulailah celetukan mesum cowok-cowok di halte dimulai “Neng, susunya mau jatuh tuh, abang pegangin ya. Kasihan, pasti eneng keberatan hehe”. Pias! Memerahlah muka Vani. Dipelototin si tukang ojek yang berani komentar, eh dianya malah balas makin pelototin toked si Vani. Makin jengahlah si Vani.

Read more