Indri, gelora gadis muda

Kisah ini terjadi saat Dino berumur kira-kira 22 tahun. Pada masa-masanya dimana keinginan mencoba segala hal baru selalu mendorong setiap perbuatan manusia. Hanya logika dan iman yang kuat yang dapat mengalahkan setiap keinginan itu. Dan Dino tidaklah termasuk pada golongan yang disebutkan diatas. Pada masa – masa itu sepertinya kehadiran seorang teman sangatlah penting. (..masa sich..?) Begitu juga Dino yang memiliki banyak teman itu tak pernah merasa sepi. Ada saja teman yang mendampinginya, baik saat – saat mereka bepergian ataupun kumpul-kumpul bersama. Biasanya yang selalu menjadi obrolan mereka apabila telah suntuk adalah para gadis – gadis. Ada saja cerita mengenai gadis- gadis yang kadang membuat mereka penasaran, melongo dengan takjub atau tertawa terpingkal – pingkal. Suatu sore Dino mendapat telepon dari temannya Dudi, yang tinggal di seputaran wilayah Buahbatu. Dudi memintanya datang sore itu juga. ‘ Ada apa ya dengan Dudi ini……..?’tanya Dino dalam hati. Tetapi biasanya Dudi ini selalu membuat kejutan. Ada saja hal yang tidak di duga Dino dan teman – temannya yang dilakukan Dudi. Tapi sejauh ini hal-hal tersebut adalah hal – hal positif (…dari sudut pandang siapa ?…he..he..). Tak berpikir panjang Dino menyanggupinya. Sore Sabtu itu Dino meluncur di jalanan, menggunakan mobil carry putih yang dipinjamnya kepada orangtuanya dengan berbagai alasan. Mengenakan jeans dan kaos berkrah setelah mandi sebelumnya ( ..rapi sekali…..!!). Sambil menyetir mulutnya bersiul mengikuti irama lagu riang yang terdengar mengalun dari Clarion, tape mobil masa itu. Jalanan belumlah seramai sekarang, sehingga tidak harus berkonsentrasi penuh menjalankan kendaraan. Berbelok ke kanan pada lampu traffic, terus melaju dengan lancar. Kurang lebih 15 menit melaju di jalan Buahbatu itu kemudian berbelok ke kiri, masuk pada jalan kecil. Daerah itu merupakan tempat kediaman yang cukup strategis. Karena terletak dekat kota dan hamper semua penduduknya merupakan penduduk asli. Bangunan yang berdiri di daerah itupun sebagian besar adalah bangunan lama gaya tahun 60-70an. Meskipun tidak sebagus bangunan- bangunan di daerah jalan dago. Katanya daerah ini merupakan daerah pemukiman pekerja-pekerja administrasi pada jaman tersebut.

Setelah berbelok ke kanan pada ujung jalannya, mobil yang di kendarai Dino berhenti 200 meter dari belokan terakhir. Terlihat Dudi yang sebelumnya duduk di sebuah warung mendatanginya. Menyapanya dengan hangat. “ Nah,…datang juga………………” ujar Dudi setelah berada di samping mobil. “Santai kan……………………….?”tanyanya. “Ayo ke rumah dulu………………”ajakn Dudi melangkah menuju arah rumahnya yan masuk ke dalam dari jalan tersebut. Setelah mengunci mobil, Dino berjalan mengikuti langkahnya dari belakang. Berbelok ke kanan, terus samapai pada sebuah belokan jalan kecil yang juga merupakan jalan masuk ke rumah Dudi temannya itu.Begitu memasuki pintu,…. “ Duduk ‘No,……… oh ya kenalin ini, Neng Indri, satunya Dian….” Ujar Dudi menyilakan. “Dian itu cewekku.., jangan di ganggu…”kelakar Dudi menambahkan “Dino………………” “Dian………………” “Indri………………” sahut gadis muda yang tengah duduk di kursi di ruang tamu tersebut. “Ini lho neng…., Aa Dino yang Aa’ ceritakan kemarin itu” terang Dudi sambil mengocok sendok pada gelas minum yang tengah ia bikinkan. ‘Gadis yang mungil’ bisikku dalam hati menatap Indri. Manis wajahnya yang masih polos, tapi leluk-lekuk tubuhnya telah membentuk.

“ Sebentar ya……., Aa’ Dudi salin dulu……………………”teriak Dudi dari kamarnya setelah menghidangkan 3 cangkir teh hangat. Dino menyeruputnya, hmm begitu nikmat rasanya di sore ini. Tak lupa sebatang rokok menyelip di bibirnya menemani pembicaraan mengalir diantara mereka. Indri ternyata tidaklah sepolos wajahnya, pembicaraan yang Dino lontarkan dapat di imbanginya dengan baik. Berbeda dengan Dian yang lebih banyak diam. ‘ Hmm anak ini cukup bagus juga wawasannya……..”batinku kembali berbisik. ”Yok kita berangkat……….”ajak Dudi yang telah rapih keluar dari kamarnya. Berempat kami melangkah ke luar dari rumah itu setelah pamit pada orang tuanya Dudi. “Neng di depan ya…………….?”perintah pada Indri. “Aa’ mo pacaran di belakang, jangan liat-liat ya……”kelakar Dudi sambil memeluk pinggang Dian. Dian tersenyum kecil mencubit pinggang Dudi. Mobilpun melaju. “Kemana kita ni Dud…………..”Tanya Dino melihat dari spion. “Oh…ya bisa antar ke teteh dulu kan….” Jawab Dudi sambil memberitahu alamat kakaknya itu. Mobil pun mengarah ke selatan menuju rumah kakaknya Dudi. Dan sepanjang perjalanan itu Indri berbicara, mengajak ngobrol Dino. Ada-ada saja bahan pembicaraannya sehingga kekakuan mulai tersa mencair. 30 menit kemudian mobilpun menepi pada sebuah rumah di sebuah komplek. Dudi keluar sambil menggamit Dian. “ Sebentar ya ‘No…………………”ujarnya melangkah memasuki halaman rumah tersebut. Entah ada apa keperluannya Dino tak mengerti. ‘Biar sajalah……..toh ada Indri yang menemaniku ngobrol’batinnya.

Dan pembicaran mereka berdua di mobilpun semakin hangat. Dino sangat respek pada gadis mungil itu. Kadang-kadang mereka berdua tertawa bersama. Celotehannya itu tak ada henti-hentinya. Tak lama Dudi pun datang kembali diiring Dian dan tetehnya Dudi. Setelah basa basi sesaat merekapun berangkat. Menuju selatan lagi ke sebuah tempat pariwisata seperti usul Dudi. Dino mengilkuti saja, pengen tau apa kelanjutan rencana Dudi teman baikknya itu. Adzan magrib berkumandang saat mereka sampai di tepian sebuah danau. Embun sudah mulai turun. Dudi melangkah di ikuti Dian menuju sebuah warung. Langsung duduk bersila. “No, Indri……… mo pesan apa……..”teriak Dudi melongokkan wajahnya di jendela warung. Dino menatap pada gadis muda di sampingnya…. “Aa’ mau pesan kopi dengan jagung bakar, Indri pesan apa……”Tanya Dino. “Hmm…….teh manis dengan itu..tu, gorengan…………………..” jawabnya tersenyum. ‘Manis sekali senyumannya……..’ “Dud, kopi satu, teh manis satu, jagung bakar dan gorengan……”teriak Dino. “Ga pakai lama ya………………………..”tambah dino. Kembali mereka berdua tenggelam dalam percakapan yang hangat. Saling berkelakar, ataupun berbincang serius. Pesanan pun datang, yang langsung di terima Dino. Meletakkan minuman mereka di dashboard, dan memberikan sepiring gorengan kepada Indri. Dan sambil memgunyah makanan mereka masing-masing obrolan pun mengalir kembali. Embun makin turun, sehingga jarak pandang menjadi semakin pendek. Cahaya lampu di warungpun tak cukup menerangi mereka berdua yang berada di dalam mobil.

Read more