Gadis Pemuas : di Dalam Hutan Lebat

Akhirnya lama kelamaan aku mulai sadar, aku merasakan kepalaku sakit sekali karena terbentur batu, kepalaku juga berdarah, aku menyeka darahku dengan punggung tanganku. Lalu aku perlahan bangun dengan sakit yang masih terasa di kepalaku, setelah kondisi badanku sudah tenang, aku baru ingat kalau sebelum aku pingsan aku sedang dikejar-kejar segerombolan orang yang aneh. Kemudian aku melihat sekitarku tapi percuma saja karena keadaan yang gelap gulita, karena aku sama sekali tidak mengenakan apa-apa di tubuhku, dinginnya malam menusuk sampai ke tulangku. Aku bingung harus kemana karena aku hanya melihat pohon-pohon tinggi yang menghalangi pandanganku tapi aku bisa mendengar ada suara aliran air karena suasana sangat sepi sekali. Aku memutuskan untuk mencari dimana aliran air itu, jadi aku masuk ke dalam hutan yang lebat.

Ternyata lumayan jauh, tapi akhirnya sampai juga. Karena aku sangat haus, aku tidak memperdulikan lagi betapa dinginnya air sungai itu, setelah beberapa teguk tenggorokanku terasa sangat segar, selain meminum air sungai aku juga mencuci dahiku yang berdarah serta wajahku. Karena tanggung aku sekalian saja membasuh tubuhku juga, tapi akibatnya, setelah selesai aku menggigil karena sangat dingin, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar tubuhku hangat.

“mendingan gue lari di tempat aja”, pikirku. Kemudian aku mulai lari di tempat untuk menghangatkan tubuhku, setelah badanku sudah agak hangat, aku berhenti lari di tempat. Tiba-tiba aku mendengar suara dari semak-semak, aku langsung menoleh ke sumber suara itu dan melihat disana ada sekelompok serigala yang sedang mengintaiku, aku bingung harus bagaimana jadi aku langsung lari dari tempat itu, tentu saja para serigala itu langsung mengejarku ke dalam hutan. Ketika aku sudah terkejar oleh para serigala itu, aku menginjak perangkap jala dan aku langsung tertarik ke atas. Setidaknya aku selamat dari para serigala itu, dan aku bisa beristirahat sebentar.

Aku bangun ketika aku merasakan tangan dan kakiku diikat, setelah aku membuka mataku rupanya aku tangan dan kakiku diikat di kayu yang sedang digotong oleh 2 orang yang berkulit hitam. Aku merasa seperti hasil buruan yang baru ditangkap oleh mereka, aku hanya menutup mataku dengan pasrah karena aku mengira sebentar lagi aku akan dibunuh dan mungkin dimakan oleh mereka. Tak lama kemudian, tubuhku terasa berhenti bergoyang-goyang, aku membuka mataku melihat orang-orang berdiri mengelilingiku, lalu tubuhku ditaruh secara perlahan, dan ikatan di kaki dan tanganku dilepaskan. Baru aku berpikir untuk menerobos kerumunan orang-orang hitam yang mengelilingiku, tubuhku sudah diangkat oleh 2 orang yang membawaku tadi ke tiang kayu yang sangat besar dan terletak di atas tempat yang seperti panggung. Mereka mendirikanku disana dan mengikat pergelangan tangan dan kakiku lagi di tiang kayu itu, setelah mengikatku kedua orang hitam itu turun dari panggung dan masuk ke sebuah tenda berbentuk aneh yang kuduga tenda itu adalah rumah mereka.

Sementara aku seperti menjadi tontonan di atas panggung oleh orang-orang yang berdiri di depanku. Tubuhku yang putih mulus dapat terlihat jelas oleh mereka, dan karena mereka tidak memakai apa-apa aku bisa melihat penis para lelaki hitam itu mulai menegak karena melihat tubuhku, dan para wanitanya menelusuri setiap senti tubuhku, mulai dari wajah, payudara, perut, selangkangan, paha, sampai kakiku dengan mata mereka. Lalu dari sebuah tenda yang lebih besar dari tenda-tenda yang lain keluar 4 orang, 2 orang adalah orang yang tadi membawaku, 1 orang lagi badannya bungkuk dan membawa tongkat memakai baju dan celana, sedangkan 1 orang yang terakhir badannya tegap dan besar, dan memakai baju dan celana yang sepertinya terbuat dari bulu hewan. Mereka mendekat ke arahku, mereka berdiri disana menatap tubuhku dari kepala sampai kaki.
“zufubaba,,,,,gikaluno”.
“tidak, jangan bunuh aku”.
“fagira kohkulune,,,jaemkahuwaeti”.
“tidak, jangan makan aku”.

Karena aku tidak mengerti bahasa mereka, aku mengira mereka akan membunuh dan memakanku, tapi aku kaget ketika pria bungkuk itu berbicara.
“tenang saja, gadis muda. Kami tidak akan membunuhmu apalagi memakanmu”.
“kamu bisa bahasa Indonesia?”.
“ya, tapi kita bahas nanti saja”.
“zokulafa,,,homura,,,pokeramu”, kata pria bungkuk itu kepada semua orang, lalu semua orang itu pergi melakukan aktivitas yang lain, sementara 3 orang yang tadi datang bersama si pria bungkuk turun dari panggung dan masuk ke dalam tenda.
“ayo, nona, mari ikut saya ke rumah saya”.
“baik, terima kasih pak”. Lalu ikatanku dilepas dan dituntun masuk oleh pria bungkuk ke rumahnya, setelah di dalam aku disuguhi minuman dan makanannya lalu mengobrol dengannya.
“perkenalkan, nama saya Ulfsaar,, saya adalah seorang dukun di desa ini”.
“namaku Rasti, ngomong-ngomong ini dimana?”.
“ini di pulau Harla, pulau yang sangat terpencil”.
“oooh begitu, tadi yang lain pada ngomong apa sih?”.

Read more

Gadis Pemuas : Tukang Sapu Sekolah

Sudah seminggu aku melayani Mang Ucup, setiap hari sehabis pulang sekolah malam harinya dan jika sabtu minggu, Mang Ucup dan aku janjian untuk bertemu di tempat yang biasa menjadi tempat pergumulanku dengan Mang Ucup yaitu gudang sekolah. Semenjak aku sering melayani Mang Ucup di gudang sekolah, Mang Ucup jadi lebih rajin membersihkan gudang sehingga gudang sekolah menjadi bersih dan Mang Ucup mendapat pujian dari kepala sekolah karena gudang sekolah jadi lebih bersih, peribahasa “sambil menyelam minum air” mungkin tepat untuk Mang Ucup karena selain menjalankan tugasnya, dia juga bisa menikmati tubuhku setiap malam.

Meskipun Mang Ucup sudah berumur 60 tahun, kulitnya hitam, rambutnya beruban, giginya banyak yang ompong, tapi aku sayang kepadanya karena penisnya bisa membuatku ketagihan, bahkan karena terlalu ketagihan aku tetap bersetubuh dengan Mang Ucup meskipun aku sedang ulangan. Untungnya ulanganku bisa kukerjakan dengan baik sehingga aku yakin raporku bagus yang akan kuterima 1 minggu lagi, dan tentu saja selama 1 minggu aku melayani Mang Ucup setiap malam. Benar dugaanku, raporku bagus dan aku naik kelas, aku sangat senang melihat nilaiku yang bagus. Malam harinya, setelah aku selesai melayani Mang Ucup.
“sayang, selamat ya, kamu naik kelas”.
“iya dong, siapa dulu, Rasti gitu loh, oh ya, untuk ngerayain, Mang Ucup mau gak nginep di rumah aku selama 1 minggu?”.
“mau banget, tapi di rumah kamu emangnya gak ada orang?”.
“gak ada, makanya aku minta abang nemenin aku, mau gak?”.
“pasti abang mau dong,,,”.
“oh ya Mang, bawa temen ya, biar tambah rame”.
“ok sayangku,,”.
Lalu dia mengantarku pulang, dan seperti biasa aku berciuman dengan Mang Ucup sebelum dia pergi, kemudian aku masuk ke dalam rumah.

Read more