P.A.R.A.D.I.S.O Part 2

Fragmen 3

Ufuk timur sudah benderang ketika Ava terbangun enggan dari tidurnya. Udara masih dingin, dan kabut melayang tipis di atas sawah. Ava menuruni tangga kayu di depan kamarnya dengan malas, sambil merenggangkan tubuh.

Sepasang mata Ava tertuju pada pura kecil di pojok belakang rumah. Di sampingnya berdiri pohon Kamboja. Dahannya menjuntai ke udara serupa tangan seorang Pandhita Ratu, menebarkan taksu ke sekujur bangunan batu bata merah di bawahnya. Ava melihat Kadek sedang memegang dupa di sana. Asapnya membumbung ke udara menimbulkan harum yang melambung di paru-parunya.

“Beh, jam segini baru bangun..” kata Kadek saat selesai berdoa, di dahinya menempel beras putih.
“Hehehe..” Ava menggaruk-garuk kepala. Waktu kuliah, Ava memang biasa bangun jam segini.

“Besok dah senin, jam 7 pagi kita harus sudah ada di galeri..”
“Siap, kakak seperguruan.”
“Haha..” kadek tertawa.

Di sudut lain, sebuah gerbang batu berdiri dengan misterius, ditutupi tanaman keladi yang rimbun.

“Eh Dek, itu pintu kemana?”
“Tuh ke sungai bawah..”
“Oh, bisa buat mandi juga?”
“Bisa.”
“Kok kemarin gak mandi di sana ja?”
“Gak seru mandi sendiri, seru itu rame-rame.”

Ada perbedaan paradigma antara Ava dengan Kadek. Outdoor nudity itu memang adiktif, namun tetap saja Ava belum bisa nyaman dengan communal nudity.

Read more