Malangnya Sang Putri Indonesia

Artika Sari Devi tengah bersiap untuk pergi. Hari ini adalah jadwal keberangkatannya ke Timika, Papua. Sebagai Putri Indonesia dia memang diharuskan mematuhi kontrak yang sudah dia tanda tangani bahkan jika itu harus pergi ke daerah daerah yang terpencil. Kunjungannya kali ini merupakan kunjungan pertamanya ke Papua. Ditemani manajernya dan beberapa wartawan, Artika berangkat ke Papua.

Setibanya di bandara Timika, Artika sedikit heran dengan sambutan yang diterimanya. Secara protokoler memang tidak ada masalah, tapi dia melihat sesuatu yang ganjil. Pengawalan dari pihak TNI dan Polisi terlihat lebih ketat dari biasanya.

“Apa yang terjadi ?” Artika bertanya pada manajernya, seorang perempuan yang usianya sepuluh tahun lebih tua darinya.

“Aku tak tahu,” Bertha, manajernya menggeleng. “Tunggu di sini.” Sambungnya. Dia lalu bergegas mendekati kepala penyambutan. Dari dialah Artika kemudian tahu kalau akhir-akhir ini gerakan separatis OPM makin mengganas meresahkan masyarakat Papua. Tapi Artika tidak mengkhawatirkan hal itu. Dia berusaha bersikap profesional. Dan Artika sendiri selama beberapa hari tidak merasakan adanya gangguan yang membahayakan rombongannya. Dia bahkan mulai jatuh cinta dengan tanah Papua yang masih segar.

Pagi hari Artika terlihat berada di lobby hotel Sheraton Timika tempatnya menginap. Dia memakai baju lengan pendek putih dari bahan satin dipadu dengan celana Jeans dan sepatu sneaker putih. Rambutnya yang panjang agak bergelombang diikat ekor kuda. Dari wajahnya terlihat Artika sedang menunggu seseorang. Dan ketika dia melihat Bertha, manajernya datang dari arah pintu masuk utama, wajahnya langsung berubah cerah.

Read more