Marketing Kartu Kredit

aku bekerja sebagai tenaga marketing kartu kredit sebuah bank. Tentunya sebagai tenaga marketing aku mendapat target untuk memperoleh aplikasi kartu kredit baru ataupun kartu tambahan. Aku berburu calon pemegang kartu kredit dari kantor ke kantor. Suatu pagi aku hunting di salah satu office building di bilangan Slipi. Dah beberapa hari aku survei disitu dan kemaren ketika makan siang di kantinnya, aku ketemu pak … (nama gak perlu lah ya) yang mengaku sebagai salah satu top management di satu perusahaan konsultan pelatihan. Karyawannya gak banyak, tapi karena ketika itu ada bonus film BBC tentang binatang purba, si bapak mau menerima aku keesokan harinya. Pagi2 sekali aku dah nunggu di ruang tamu perusahaan tersebut. Si bapak belon dateng, kata salah seorang karyawannya. Mereka mananyakan kepentinganku bertemu si bapak. Aku menjelaskan bahwa aku menawarkan kartu kredit dengan bonus video tentang dinosaurus kalo aplikasi disetujui. Ketika itu video tentang kehidupan binatang purba sedang digemari sehingga semua karyawan (gak banyak sih, total karyawannya cuma 35 orang termasuk driver dan messenger) yang ketika itu mendengarkan penjelasanku menyatakan minatnya untuk mengisi form aplikasi permohonan kartu kredit tersebut.

Ketika si bapak masuk ke ruang, mereka segera menyatakan keinginannya untuk mengajukan aplikasi. Tanpa susah payah, si bapak meng ok kan saja permohonan para karyawan. Hari itu aku mendapat 25an aplikasi, satu jumlah yang besar sekali dari satu company kecil. Si bapak menerbitkan surat keterangan penghasilan bagi semua karyawan yang mengajukan aplikasi. aku menunggu sembari ngobrol ma si bapak di ruang kerjanya. “Wah target bulanan tercapai dong Nes”, katanya. “Ya berkat bantuan Bapak lah, kalo enggak gak akan semudah ini Ines mendapatkan aplikasi sebanyak ini”. “Aku dapet bonus dong Nes”. “Boleh pak, asal jangan minta rupiah ja bonusnya”, aku menjawab sembari mengedipkan mataku ke si bapak. Si bapak ganteng juga, usia 40an, badannya atletis. “Ya udah, nanti kita omongin kalo dah bubaran kantor aja ya, kita ketemu enaknya dimana”. “terserah bapak, Ines ngikut aja”. “Gimana kalo kita ketemu aja di foodcourt mal yang deket Nes”. “Boleh pak, jam brapa?” “Ya sekitar waktu magrib lah ya”. “Oke pak, sampe nanti, trima kasih banyak ya pak”. Aku segera memasukkan semua form aplikasi yang sudah diisi dengan baik, ditandatangani dan dilampiri dengan surat keterangan gaji perusahaan. Karena dapet lumayan banyak, aku kembali ke kantor untuk segera memprosesnya. Teman2ku heran aja kok aku bisa dapate segitu banyak aplikasi kartu kredit baru dimasa seperti sekarang, yang orang dah banyak yang punya kartu kredit. Aku senyum2 saja.

Saat bubaran kantor, aku segera menuju ke mal yang dijanjikan. Dia sudah menunggu aku di depan salah satu counter. Baeknya tempatnya eye catching sehingga aku dengan mudah bisa mengenali si bapak. Dia tampak santai sore itu, dasi sudah dilepas dan tangan panjangnya digulung, macho sekali kliatannya, cuma matanya agak jelalatan memandangi tubuhku. Tadi pagi aku mengenakan pantalon dan blazer, sorenya blazernya kulepas sehingga kemontokan toketku tampak dengan jelas. matanya memandang ke arahku dari ujung rambut ke ujung kaki. Pandangannya fokus ke arah toketku. Aku mengerti apa yang diinginkannya. belahan toketku mengintip dari balik tank topku yang belahan dadanya rendah. Dia menyilakannya duduk, dan aku duduk didepannya. Sengaja aku mengatur pose sehingga aku duduk bersandar pada tanganku yang kuletakkan dimeja. Dengan pose duduk seperti itu, maka belahan toketku makin nampak dengan jelas. “Mo makan apa Nes, biar aku pesenin”. Karena aku masi terdiam, dia melanjutkan, “Don’t worry, aku yang traktir”. “Wah makasi deh pak, kita browsing aja”. “Jangan, nanti tempatnya diisi orang, lewat magrib gini biasanya suka penuh ma yang mo makan malem. Panggil aku mas aja yah, dipanggil bapak terus jadi rasanya dah tua”. “Ya deh mas”, jawabku. Dia kemudian menyebutkan beberapa makanan yang tersedia di foodcourt, aku memilih satu. Segera dia menghilang untuk memesan makanan untukku dan untuk dia sendiri. Cukup lama dia menghilang, kembalinya membawa 2 botol teh dengan gelas berisi es. “Aku beliin teh aja ya, ato kamu mo soft drink”. “Biasanya sih air putih aja pak eh mas”. “Irit amat sih, cukup gak teh dingin”. “Cukup banget mas”. Dia menghilang lagi untuk mengambil pesanan makananku. Dia kembali membawa pesananku kemudian dia pergi lagi mengambil pesanannya. Sambil makan dia mengajakku ngobrol. Selama makan, kelihatan sekali dia melahapku dengan pandangannya yang penuh napsu. Aku tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena sering lelaki memandangi tubuhku dengan mata lapar seperti itu, ada kebanggaan juga pada diriku bahwa ternyata aku menarik perhatian lelaki lain.

Read more

Nafsunya Customerku

Sejak ikutan nungguin posko mudik salah satu operator selular itu, aku ditawari bekerja parttime di salah satu cabangnya yang ada dideket rumahku. Aku sih mau aja, kerjaannya enteng, ketemu banyak orang dan temen2nya asik2 semuanya. Mana ada kan kerjaan senyaman itu. Gaji mah jadi nomer 2 buatku. Setelah mendapatkan training singkat mengenai teknis pekerjaan, aku mulai bekerja di kantor itu. Kalo ada customer yang datang dengan membawa masalah yang komplex, aku didampingi oleh temenku yang senior (maksudnya yang dah banyak pengalamannya, bukan yang SENeng Istri ORang lo). Tidak susah mempelajari semua teknis pekerjaannya, sehingga setelah lewat masa percobaan, aku dah bisa dilepas. Masih juga sih kalo ada customer yang menanyakan masalahnya yang aku tidak mengerti, aku minta bantuan dari temen2 yang lain. Mereka dengan segala senang hati membantu dan mengajari aku sehingga aku bisa mandiri dalam bekerja. Suatu saat, ada customer yang datang ke kantor, aku menyambutnya dengan sapaan standar; “Selamat siang pak, saya Ines, ada yang bisa saya bantu”. “Gini Nes”, langsung aja si customer bertanya tanpa memperkenalkan diri. “Aku baru aja dikasi hp yang 3G. Aku gaptek neh orangnya. Katanya 3G nya kudu diaktipin, bisa kau bantu aku”. “O, itu mah gampang pak …, boleh tau namanya pak.” “Pinondang, panggil aja Pino”. “Boleh saya liat hp nya pak Pino”. Dia menyerahkan hpnya ke aku. Aku kutak kutik lah hpnya untuk mengaktifkan fitur yang dia minta, gak lama, tapi aku sengaja perlambat. Suka aku melihat pak Pino ini. So pasti dah gak abg lah seperti tipe lelaki kesukaanku, late thirties atau paling banter early forties, ganteng, tubuh atletis, gak krempeng. Sambil kutak katik hpnya, beberapa kali aku menatap wajah gantengnya sambil tersenyum.

“Manis juga kau kalo senyum”, dia memujiku. “Ah, bapak bisa aja”. Akhirnya selesailah pekerjaannku. “Pak, kita tes ya apakah fitur yang bapak minta itu jalan atau enggak”. Kupake hpnya untuk kontak ke hp ku, kuberikan hpnya ke dia dan mengajarkan apa yang dia harus lakukan. Ketika nyambung, tampaklah wajahku di hpnya dan wajahnya di hp ku. “Nyambung kan pak, ya udah matikan aja”. Dia memutus koneksinya. “Gampang ya kutak katiknya, tapi daripada repot kan mending aku kemari, ketemu prempuan cantik macam kau lagi. Aku mesti bayar biayanya?” “Gak usah pak, free buat bapak yang ganteng”, jawabku menimpali pujiannya. “Makasi ya”. dan diapun pergi meninggalkan kantor. Sampe disitulah perjumpaanku dengan pak Pino.

Ternyata pak Pino tidak menyia2kan no hp ku yang ada di hpnya ketika aku mencoba mengecek hasil kerjaku. Satu sore, hp ku berdering. Aku gak kenal nomornya, rupanya dari pak Pino. “Hai, ini Ines kan, masih ingat aku”. “Ya pak, saya Ines, bapak siapa?” “Wah pendek kali ingatan kau, baru seminggu yang lalu aku mampir di kantor kau. Aku Pino, yang minta tolong diaktipkan hp baruku itu”. “O pak Pino, pakabar pak, tumben neh kontak Ines, hp nya ngadat lagi?” “enggak, mau say hello aja ma prempuan cantik yang pernah bantu aku”. “Wah tersanjung neh Ines dipuji lelaki ganeng macam bapak”. “Janganlah kaupanggil aku bapak, aku ni belon tua2 amat”. “Habis mesti Ines panggil apa dong”. “Panggilah aku bang Pino saja ya cantik”. “Siap bos, eh bang Pino”. “Kau ada acara lepas kantor?”. “Napa bang, gak ada tuh, mo ajak Ines jalan ya”, langsung aja aku srobot. “Wah cerdas kali kau, aku belum bicara kau dah tau maksudku. Gimana, bersedia?” “Buat lelaki seganteng abang, apa sih yang enggak?” “Ok deh, kau bubar jam brapa, nanti aku jemput kau”. “wah Ines mesti lembur nih bang sampe jam 7”. “No problemo, nanti jam 7 ku jemput kau, ditempat yang sama seperti yang aku datangai kan”. “Iya bang’. “Jam 7 ya”. Klik, sambungan terputus.

Read more

Liburan di Bali

Aku bekerja sebagai account manager disatu perusahaan consumer goods yang besar. Dalam memasarkan produknya, perusahaan menyelenggarakan perlombaan bagi para distributor dalam mencapai target distribusi mereka. Perusahaan menyediakan dana yang cukup besar untuk memotivasi para distributor yang berhasil. Hadiahnya tidak diberikan dalam bentuk cash tetapi dalam bentuk peralatan kantor, yang dibeli dari perusahaan ATK, satu grup dengan perusahaan, atau dalam bentuk perjalanan wisata. Inipun diatur oleh perusahaan perjalanan yang merupakan anggota grup perusahaan juga. Sebagai account manager, aku cukup dekat berinterkasi dengan para pimpinan distributor, salah satunya adalah pak Deni, salah satu diantara beberapa distributor besar yang membantu perusahaan. Perusahaan pak Deni telah beberapa kali memenangkan hadiah karena merupakan satu dari 3 distributor tebaik dalam 1 tahun.

Hadiah biasanya diberikan kepada manager yang dianggap paling berjasa dalam bentuk berwisata sekeluarga. Kali ini, pak Deni memanggil aku untuk membicarakan bentuk hadiah bagi perusahaannya. “Gini Nes”, kata pak Deni memulai diskusi. “Aku ingin memanfaatkan hadiah yang aku menangkan”. “Lo pak, kan biasanya diberikan kepada manager yang berjasa”. “Dari beberapa kali perusahaanku menang, semua managerku sudah mendapat giliran berwisata, malah ada yang keluar negeri. Kali ini aku yang mau menikmatinya. Besarnya anggaran untuk hadiah bagi perusahaanku berapa Nes?” Aku menyebutkan angkanya. “Aku ingin berlibur ke Bali, tidak bawa keluarga he he”, katanya sambil tertawa. “memang aku gak punya keluarga kan”, lanjutnya sambil tersenyum. Memang pak Deni kudengar seorang duren, duda kerenlah, belum tua, late thirties lah. “Cuma karena aku sendiri yang pergi, boleh gak kalo aku yang milih lokasinya di Bali dan siapa yang akan aku ajak”. “Bisa diatur pak, perusahaan kan taunya anggaran tidak terlampaui, selama masih masuk anggaran mah gak masalah. Bapak mo ajak siapa sih, ceweknya ya”, godaku. “Aku mo ajak kamu Nes”. “Hah, gak salah pak”. “ayolah, sesekali kamu nemenin aku refreshing lah. Kan selama ini aku juga membantu kamu mencapai targetmu, iya kan. Harus fairlah untuk kedua belah pihak”. “Iya pak, buat bapak apa sih yang gak boleh”, jawabku, aku senang mendengar dia mengajakku walaupun aku tau apa yang sebenarnya dia inginkan dari aku, pasti kepuasan sex. Gak masalah buat aku, aku juga suka kepada lelaki seperti pak Deni, dia masuk tipe lelaki yang aku suka. Ganteng, atletis. Pak Deni mengusulkan agar lokasi yang dipilih adalah didaerah Seminyak, salah satu resor mewah di Bali. “Kamu itungin deh, terbang di kelas bisnis buat berdua dan nginep di vila Surga Dunia (bukan nama sebenarnya) yang 1bedroom, anggarannya cukup untuk berapa malem”. Aku punya daftar lengkap mengenai harga flight dan hotel2 dibeberapa daerah tujuan wisata, termasuk Bali. “Karena rupiah terdepresiasi sekitar 30% terhadap US$ maka anggarannya hanya cukup buat 2 malem dan business class flight pak”. “Ya udah, kamu lapor ke kantor, aku minta kamu yang mengescort aku selama di Bali, bisnis class flight buat 2 orang, dan nginep di vila itu selama 2 malem. Kita mo brangkat kapan?” “Gimana kalo Jumat sore after office hour pak”. “Ok”. Aku segera membuat laporan kekantor termasuk ijin untuk mengescort pak Deni. Gak masalah buat kantor, karena para account, mo lelaki atawa prempuan, manager punya kewajiban untuk mengentertain distributor2 besar seperti pak Deni, apalagi dia satu dari 3 yang terbaik. Tiket dan bookingan vila serta tour, kuatur dengan perusahaan perjalanan group. Setelah semuanya beres, pak Deni kuberi tau, “Pak semua arrangement sesuai rencana bapak”. “Ok, tengkiu Nes, sampe Jumat sore ya”. Aku dah tanya ke temenku di perusahaan perjalanan seperti apa sih vila itu, temenku bilang ya kaya rumah besar aja, cuma kamar tidurnya 1, ada private pool tertutup dihalaman belakangnya. Wah asik dong, aku ber honeymoon 2 malem ama pak Deni neh.

Read more

Model Seksi Digarap Dua Lelaki

Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama.

Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku.

Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar.

Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kontolnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.

Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis.

Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon tolnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om Andi mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.

Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.

Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku.

“Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngentotin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya.

Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point.

“Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng
gimana”, tanyaku.

Om Andi segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dientot.

“Kamu kan udah sering dientot kan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.

Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku.

“Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.

Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kontolnya serta kukocok hingga kurasakan kontol itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar.

“Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku.

Read more