Klub Tukar Istri Bagian 2 (dua)

Fendi – Kamis pukul 11.28

Fendi mengancingkan kancing kemejanya satu persatu dari bawah. Sinta hanya bisa tersengal-sengal kelelahan karena melakukan tiga ronde tanpa istirahat sekalipun. Ia bahkan tidak berusaha untuk menutupi auratnya yang sudah basah berlumuran sprema Fendi yang mengalir deras.

“Aku pergi dulu ya mbak Sinta, aku bisa diomelin bos.” Fendi berbohong tanpa memberitahukannya bahwa sebenarnya ia dan Yosua, suami Sinta, sudah mengambil cuti untuk hari itu. “Mas….emhh….habis ini, mas sering-sering main ya kalau mas Yosua dinas keluar..” Sinta merangkan maju menuju tepi kasur yang sepreinya sudah berantakan kemana-mana. Masih telanjang bulat, ia menjulurkan tangannya minta dipeluk mesra oleh ‘mainan’ barunya.
“Tentu saja sayang,” Fendi mencium bibirnya dan melumat habis bibir merah Sinta yang begitu mengundang. Tanpa ia sadari, ia perlahan mendorong Sinta kembali ke kasur sambil terus bersenggama dengannya. Tangannya mulai kembali memainkan payudaranya tanpa melepaskan ciuman penuh hasratnya.

“Ah….mas….aku mau lagi mas…euuummh…..”
“Sekali lagi aja yah…”
“Itu juga kalau mas gak mau lagi..hhehe” Sinta tersenyum centil.

Fendi melanjutkan ciumannya dan mulai membuka resleting celananya lagi. Penisnya sudah kembali tegang dan mengacung maju minta cepat-cepat diselipkan di lubang yang baru saja ia jelajahi hari ini. Sinta semakin bergairah mendapati putingnya bersentuhan dengan dada Fendi yang berbulu halus dan jantan. Ia melenguh nafsu dan mengangkat kedua tangannya ke belakang. Fendi menciumi leher dan telinga Sinta dengan ganas sambil perlahan-lahan mengarahkan penisnya menuju lubang kenikmatan Sinta.

“Ahhh…massss….euuummmh….”
“Sinta…kamu seksi banget….aku suka banget wangi tubuh kamu….euuummmhhh”
“Ahh…mas buruan dong mas….aku udah gak kuat nih…eummmh…oooh…”
Dalam sekali sodokan kuat, Fendi memasukkan semua batang kemaluannya diikuti erangan nikmat oleh Sinta. “AHhhh, mas….oooh….”

Pinggul Fendi mulai aktif dan maju ke depan dan ke belakang sesuai irama. Ia memandangi wajah Sinta yang kenikmatan. Membayangkan istrinya memperoleh perlakuan yang sama oleh sang sahabat membuatnya semakin menggila. Ia mempercepat sodokannya dan Sinta semakin terengah-engah. Sinya mulai mengoceh tidak jelas sambil berusaha menahan rasa nikmat yang ia rasakan. Tangannya semakin liar, menarik-narik seprei kesayangannya bersama si suami yang semakin mengenaskan seiringan dengan sodokan Fendi.

Tiba-tiba Fendi berhenti. Dengan segenap kekuatannya, ia merenggut punggung Sinta dan mengangkatnya dari kasur. Sinta mengerti posisi ini dari blue film yang diam-diam ia tonton bersama tetangganya, Maria, dan segera melingkarkan kakinya di punggung Fendi. Bibirnya kembali berpautan dengan Fendi yang sekarang membantu Sinta bermain enjot-enjotan.
“Cepet…mas…ahhh….emmmh…aku mau…emmmh nyampe…”
“Aku juga….SIN….OOOH…AHHH…”
“MAS!….OOOOH MASSS! AAAAHHH…”

Yosua – Kamis pukul 12.34

Batang penisnya masih sedikit ngilu setelah melakukan vaginal seks dengan Mona sebanyak lima kali berturut-turut. Entah setan apa yang merasukinya hari itu, namun ia mendapatkan stamina baru. Stamina mengagumkan dimana biasanya ia sudah lemas setelah berhubungan sekali saja dengan Sinta. Ia masih bisa mencium aroma kencing Mona yang bercampur dengan cairan vagina dari memek dan jembutnya. Aroma memabukkan itu yang membuatnya begitu ketagihan dan tidak bisa berhenti.

“Hai kawan!”

Read more