Ngentot Erin karyawati selingkuhanku

Erin adalah karyawati ditokoku yang bergerak dibidang alat teknik, tugasnya sebagai manager mengatur semua urusan operasi sehari-hari ditoko. Waktu aku mewawancarai dia untuk kerja tahun 2005, aku sangat tertarik dengan matanya yang menggoda, tapi wajahnya biasa saja. Erin umurnya waktu itu 24 tahun berasal dari Jawa Tengah, sudah berkeluarga dengan satu anak umur 2 tahun. Erin tubuhnya lansing (150cm / 40kg) , warna kulitnya kuning langsat, dan orangnya kalem dan ramah sekali. Meskipun dia sudah beranak satu, tapi bentuk tubuhnya seperti gadis perawan. Aku adalah keturunan Chinese, 4 tahun lebih senior daripada Erin. Hari pertama Erin masuk kerja, paginya dia berkenalan dengan karyawan lainnya dan belajar mengenal produk yang ada ditoko, sorenya kutugaskan untuk belajar memasukan data diruang computer, aku sendiri yang memberikan training. Ruang computer terletak dilantai tiga atas toko, biasanya lantai ini tidak ada yang datang kecuali aku sendiri karena hanya dipergunakan untuk ruang computer. Waktu memberikan training kududuk disebelah kanannya, karena terpengaruh oleh matanya yang menggoda dan suaranya yang lembut dan sedikit manja, aku tidak tahan dan sengaja menyentuh jarinya diatas keyboard, dia diam saja waktu kusentuh. Kusentuh lagi beberapa kali dan mengelus sedikit tangannya dan dia hanya memperhatikan layang monitor seolah tidak merasakan sentuhan dan elusan tanganku. Karena sudah sore, kami tidak bisa melanjutkan training dan elusanku lagi, aku berharap besoknya bisa ada kemajuan.

Pada hari kedua, paginya dia masih dilantai bawah mempelajari produk-produk dan membuat nota, dll. Sorenya masukan data diruang computer. Aku tunggu setengah jam sesudah dia diruang computer barulah naik. Aku duduk disebelahnya dan melanjutkan apa yang terjadi hari sebelumnya, aku langsung mengelus-elus tangannya. Erin hanya diam saja, maka kupegang tanganya dengan lembut dan memutar badannya supaya menghadap kearahku dan memandang mukanya. Erin hanya diam dan menundukan kepalanya, sepertinya merasa malu tapi menikmati juga. Aku berdiri dan memeluknya dari belakang, kutaruh kedua tanganku diatas payudaranya, dia masih diam dan memperhatikan monitor saja. Kucium keningnya, dan memasukan tangan kananku kedalam BH-nya dan dengan lembut kuremas payudara kirinya. Kulitnya halus sekali, sungguh nikmat meremas payudara Erin. Erin menekan tanganku untuk menghetikan elusanku dan protest: “Pak Hindra kok gitu sama Erin sih, tar Erin takut kerja disini lho”. Karena ditekan tanganku, maka aku biarkan tanganku diam didalam BH-nya dan kudekatkan mukaku dengan mukanya dan kubisik disamping telinganya “Erin marah sama aku ya?” sedangkan tanganku masih memegang susunya. “Erin tidak marah, tapi kalau Pak Hindra begitu Erin menjadi takut.” jawabnya dengan manja. “Jangan takut Erin, aku tidak akan makan Erin” bisikku. Kami tetap dalam keadaan terkuci degan tanganku didalam BH-nya Erin sedang menikmati payudaranya yang kenyal dan halus, sambil melanjutan pembicaraan tentang hidupnya Erin dan hal-hal lainnya. Apakah dia lupa aku sedang meremas payudaranya atau dia menikmati tanganku didalam BH-nya? Ahirnya dia melepaskan tekanan tangannya dan memegang tanganku untuk dikeluarkan dari BH-nya. Dia masih pegang tanganku dan berkata “Erin tidak marah sama Pak Hindra, cemen takut aja, apakah Pak Hindra marah sama Erin?” sambil bicara sambil tanganku dipegang erat sepertinya takut kehilangan aku.

Aku bisik disamping telinganya “Aku yang takut kalau Erin jadi marah samaku, sekarang kan enak Erin tidak marah.” Karena aku sudah lama diatas, maka kubilang masih ada kerjaan lain dan turun kelantai dasar tinggal Erin masih kerja diruang computer. Pada hari ketiganya, sesudah kuelus-elus tangannya kutarik sedikit badannya supaya dia berdiri dan aku peluk dari depannya. “Jangan Pak Hindra, aku malu nanti dilihat anak-anak” katanya dengan suara yang kalem dan sedikit manja, tapi membiarkan aku meremas buah dadanya. Matanya sedikit terpejam dan bibirnya sedikit terbuka. Kucium bibirnya dan kuhisap lidahnya, kumainkan lidahnya dengan lidahku serta meremas kedua payudaranya. Dia masih kaku dan passive dengan ciuman mungkin masih tegang dan takut ketahuan anak-anak lainnya. Kami berciuman dan kuelus rambut dan mukanya, sekitar stengah jam aku kembali kelantai dasar supaya Erin ada kesempatan menjadi tenang.

Read more