Nikmatnya di “PERKOSA” Satpam

Namaku adalah Bunga Putri Laura, umurku baru saja menginjak 19 tahun, aku memiliki wajah yang dibilang cukup lumayan karena banyak cowok yang melirikku dari yang wajahnya tampan sampai yang wajahnya biasa-biasa saja. Aku sering merawat tubuhku mulai dari menyabuninya dengan sabun khusus, selalu ke spa, fitness, luluran, dan lain-lain sehingga sekarang aku bisa menuai hasil dari kerja kerasku untuk merawat tubuh, kini aku mempunyai kulit yang putih halus, payudara berukuran 34C, dan pantatku yang kencang dan kenyal. Aku memiliki hobi yang aneh sejak kecil, aku suka sekali jika bagian tubuhku terbuka sedikit sehingga para laki-laki melihatku dengan pandangan buas, entah darimana hobiku itu berasal, yang hobiku itu muncul ketika tubuhku sudah mulai berkembang yaitu ketika aku duduk di kelas 2 SMP.

Di kampusku juga aku selalu menjadi pusat perhatian, sebetulnya aku tidak menjadi pusat perhatian di kampusku saja, tapi setiap tempat yang kudatangi, para pria langsung melirikku. Aku mempunyai adik perempuan yang bernama Rini. Dia masih duduk di kelas 2 SMP, dia selalu mengikuti gayaku, yah bisa dibilang dia mengidolakanku, maklum namanya juga anak SMP. Suatu hari, Rini sudah selesai ulangan dan hari Sabtu besok dia bagi rapor tengah semester (sistem pendidikan yang sekarang), tapi Sabtu besok kedua orangtuaku ada urusan bisnis jadi terpaksa aku yang disuruh mengambil rapor adikku.

“ah,, yah,, males ah,, aku kan mau jalan-jalan besok”.
“ntar papa kasih duit deh”.
“nah,, kalau itu baru ada pertimbangan, tapi berapa yah?”.
“seceng,,”, kata ayahku sambil tersenyum.
“yee,, kalo gitu gak jadi”.
“cuma be’canda,, ntar papa kasih 200 ribu,, kamu mau gak?”.
“ok,, thank’s yah”.
Hari Jum’atnya ayah dan ibuku sudah berangkat ke Bandung untuk urusan bisnis, di rumah tinggal aku dan adikku.
“kak Bunga, besok kakak jadi kan ke sekolahku?”.
“iya,,iya,, bawel,, kenapa sih,, kayaknya kamu seneng banget?”.
“aku seneng soalnya aku bisa nunjukkin ke temen-temen kalau kakakku cantik banget”.
“muji apa ngeledek nih?”.
“ya muji lah,, kakak kan emang cantik”.
“yaudah sekarang kamu mau makan apa?”.
“mau makan pizza!!!”.
“yaudah,, kakak pesen dulu ya”. Lalu aku menelepon salah satu perusahaan pizza yang terkenal.
“halo,,”.

Read more

P.A.R.A.D.I.S.O Part 5

Fragmen 7
Street Without a Sign

Sore telah datang, menjelang di Kuta yang semakin remang. Sheena pulang, shift nya berakhir sore itu.

Sheena merasakan lengket yang teramat pada kulitnya. Siang tadi memang berasa panas, terlebih lagi dengan kehadiran seorang klien bernama Indira, membuat hari itu semakin panas! Sheena memelorotkan celana jeans ketatnya, mengambil handuk dan melenggang santai di lorong kost-kostan, hanya dengan tank top putih dan celana boxer pendek. Tank top itu sudah membasah oleh keringat sehingga menapakan lekuk tubunya dan BH-nya yang berwarna hitam

Beberapa Beach Boys yang ngekost di sana bersuit. Sheena mengacungkan jari tengahnya dengan cuek.

Sebutkan nama hotel dan klub besar di bilangan kuta dan sekitarnya, Hard Rock, Double Six, Kama Sutra, yang semuanya memancarkan kemilau sinar dan gempita suara yang memekakkan. Dan juga outlet-outlet brand surfing yang berlomba-lomba memajang banner potongan harga.

Siapa sangka, di balik deretan pub dan artshop tersembunyi sebuah labirin, jalan-jalan kecil yang tak diberi tanda, karena memang tak ada gunanya menamai gang-gang kecil seperti itu. Di sana berjejal kontrakan-kontrakan, dan kost-kostan sempit bagi insan penggerak segala gempita di atasnya. Termasuk Sheena, dan para Beach Boys itu.

Sebuah kontradiksi.

Di dalam sebuah kamar mandi berlumut, Sheena melucuti bajunya. Ia memandangi tubuhnya yang terpantul di atas cermin berkerak.

Sebuah tubuh yang penuh kontradiksi.

Sheena memandangi tubuhnya lagi. Sepasang payudara bundar berdiri kokoh di bawah bahunya yang bidang. Lengannya yang terlatih ditutupi tatoo bergambar naga, dari punggung tangan sampai pundak. Sheena tersenyum puas melihat tatoo yang dilukisnya sendiri. Ada 3 tulisan yang tampak mencolok.

Read more

Nikmat Karaoke Membawa Sengsara Bagian 2

“Uh.. saatnya untuk sedikit beraksi Ded!” kata Dedi dalam hati, lalu ia berdiri di belakang Shinta. Perlahan-lahan ia mendekati Shinta sampai kemaluannya menyentuh pantat Shinta. Shinta sedikit terkejut. “Hey, dia sengaja nggak ya?” pikirnya ragu. Sambil terus membungkuk, Shinta berpura-pura terus sibuk. Tapi sekarang ia menggerakkan pinggulnya pelan ke belakang sehingga menempel ketat dengan tubuh Dedi di belakang. Dedi mencoba mengatur nafasnya supaya tidak terdengar memburu. “Lho?? dia tau nggak sih?” pikirnya sesak. Shinta merasakan ada sesuatu yang keras menempel di pantatnya. “Ha ha sepertinya Dedi sedang terangsang. Satu sentuhan lagi lalu kuminta dia pulang..” batin Shinta riang. Lalu ia seperti membaca sesuatu di layar sambil menggerak-gerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri perlahan.

Dedi benar-benar menikmati keadaan itu.”Oh ternyata nggak sesulit yang kukira, sebentar lagi kita pasti akan bercinta,” pikirnya sambil meletakkan tangannya di pinggul Shinta.”Ok Ded ini sudah aku print-kan, kamu tinggal belanja bahan-bahan saja, ok? kamu kalo keluar nanti tutup kembali ya pintunya aku mau kirim e-mail buat sepupuku dulu di sini,” kata Shinta sambil berbalik dan menyodorkan selembar kertas.

“Aaa? dia menyuruhku pulang? jadi tadi itu cuma khayalan saja?” kata Dedi sambil mengambil kertas dari hadapannya. Ia berjalan keluar dengan pelan berharap Shinta memanggilnya lagi, ternyata tidak!”He he berani taruhan, pasti Dedi menyesal kalau pernah meminta obat ke sini,” batin Shinta sambil tersenyum lalu ia mulai mengetik surat.

Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu tubuhnya terangkat dalam pelukan seseorang. Shinta mencoba melihat wajah seseorang yang mengangkatnya.”Hey Ded! ada apaa? eh turunin aku dong.. Dedi! ini nggak lucu ya?!” kata Shinta.”Shinta, sorry ya.. aku nggak bisa tahan. Kamu harus nurut, ok? Aku nggak pengen kamu luka,” kata Dedi dingin sambil membuang tubuh Shinta di sofa. Shinta menggigil ketakutan.”Dedi, kamu mau apa? jangan ya? Ded..” pinta Shinta menghiba ketika ia melihat Dedi membuka celana panjangnya. Dedi sudah tak peduli lagi. “Dengar Shinta, kalau kamu terus bicara aku bakal…” Plak! Dedi merasa pipinya panas. Mendadak birahinya berubah menjadi amarah. Dicengkeramnya baju Shinta lalu dengan sekuat tenaga dibukanya dengan paksa sehingga kancing baju itu jatuh berderai ke lantai. Shinta mulai terisak. Ia ingin teriak tapi tak kuasa mengeluarkan suara. Ia didera ketakutan yang amat sangat yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.

Read more

Gairah Bertetangga

Kisah ini berawal ketika saya dikirim keluar kota karena tugas khusus. Aku memutuskan untuk membawa istriku karena tugas ini lumayan agak lama di luar kota untuk menghemat pengeluaran dan karena aku enggan meninggalkan istriku.

Aku mendapatkan tempat tinggal tidak jauh dari lokasi kerjaku. Semua ditanggung perusahaan kami hanya tinggal mencari tempat yg sesuai dengan keinginan kami. Aku mendapatkan rumah kontrakan atas rekomendasi teman kerja yg pernah di tugaskan dikota yg sama. Rumah kontrakan yg aku tempati model rumah petakan yg dalam satu area terdapat beberapa rumah yg berderet berjajar.

Aku menempati rumah paling ujung karena cuma itu yg tersisa kosong. Tetangga sebelah rumah semua rata- rata sdh berkeluarga tp hanya aku yg belum mempunyai anak. Semua msh pasangan muda jd paling banyak anaknya 1 atau 2 orang anak. Yg paling dekat dengan rumah ku pasangan muda dengan 1 anak. Pasangan muda perkiraan berumur sama dengan kami sekitar 30 tahunan.

Read more