Aku Merindukanmu Winda

Aku baru pindah ke kota, meneruskan kuliahku. Setelah lulus UMPTN, aku mencari tempat kos. Tak jauh dari kampusku, aku senang sekali, karena aku tak perlu ongkos. Cukup jalan kaki saja. Sebuah kamar dekat garasi, di dalamnya ada kamar mandi kecil ukuran 1 x 1,5 meter. Sedangkan ruang tidur berukuran 3 x meter. Di sana ada sebuah meja, tempat tidur dan sebuah kursi. Aku meletakkan kompor kecil di sebuah sudut. Ibu kos ku seorang j anda beranak satu. Anaknya bernama Winda, berumur 12 tahun, kelas VI SD. Anaknya putih dan manis. Bersikap lemah lembut. Dia senang aku ada sebagai anak kos di rumahnya. Menurut ceritanya, seorang mahasiswi yang pernah kos di rumahnya, tidak mau bermain dengannya, saat dia sendirian di rumah. Winda senang kuajari matematika. Dan mamanya juga senang, melihat keakrabanku dengan putrinya semata wayang. Setiap pulang kuliah pukul 11.00 aku langsung pulang ke kos. Tak lama Winda pun datang pula. Mamanya sedang berjualan di pasar.

Seusai makan dan ganti pakaian sekolah, Winda selalu datang main ke kamar kosku. Dia selalu datang dari garasi. Sebuah pintu menghubungkan kamarku dengan garasi. Dulunya kamarku adalah kamar sopir. Aku selalu memakai kain sarung. Selalu bertelanjang dada, karean udara selalu gerah. Tidak seperti udara di kampungku. Saat aku duduk di tempat tidur, Winda selalu saja naik ke pangkuanku. Dia suka memakai mini shirt saja kalau di rumah. Mulanya saja aku sudah nafsu melihatnya memakai mini shirt dengan celana pendeknya. Entah kenapa, hari gerah itu, aku hanya memakai sarung, bertelanjang dada dan tidak memakai kolor. Winda naik kepangkuanku. Kedau kakinya mengangkangi kedua kakinya. Hingga tundun memeknya lengket mengena ke kontolku. Ah…masih anak kecil bisik hatiku. Tapi nafsuku menggelora. Walayu Winda masih memakai celana pendek dan kontolku masih dilapisi kain sarung, terasa gesekannya menggelorakan.

“Tutup matanya, WIn,” kataku. “Kenapa OM? tanyanya. “Tutup saja kataku, sembari memeluknya dan mengelus-elus rambutnya yang pendek. Winta menutup matanya. Langsung kukecup bibirnya yang mungil. “Ikh… Om…” katanya protes sambil melap bibirnya pakai tangannya. Aku membujuknya, agar menikmati saja. Akhirnya Winda nurut. Kembali kukecup bibirnya. Kuisap perlahan-lahan. “”Julurkan lidah Winda ya,” pintaku. “Ah… jijik,” katanya. Setelah kubujuk rayu, Winda mau juga. Kuisap lidahnya perlahan dan lembut. Kurayu, agar dia mau melakukannya kepadku. Rayuanku kena juga. Bibirku diisap olehnya dan ketika kujulurkanlidahku,. Winda mulai mengisapnya. Mulanya sebentar saja. Mungkin, lama kelamaan Winda menikmatinya. Pagutan dan hisapan bibir, sudah mulai ada respons. Kami sudah mulai saling mengisap lidah. Perlahan kutarik mini shirt. Lagi-lagi Winda protes. Terus kubujuk rayu dan terus pula kuangkat mini Shirt itu, sampai lepas dari tubuhnya. Mbul… kedua teteknya yang mungil terlihat.

Read more